25 Keranjang Takakura Siap Dioptimalkan Tim SES SMPN 18

Surabaya- Kerja bakti masal oleh sekitar 1000 orang warga SMPN 18 yang dipimpin Kepala SMPN 18 Lasminingsih mengawali pembinaan lingkungan hidup Surabaya Eco School di sekolah ini, Selasa pagi (27/9). Aktifitas para siswa dan para guru-guru yang berlangsung selama 2 jam dilakukan dengan penuh semangat dan gotong royong untuk mewujudkan sekolah tampak bersih dan hijau.

“Lingkungan sekolah yang bersih, bisa membuat proses belajar mengajar menjadi nyaman. Kerja bakti masal yang sedang berlangsung dengan melibatkan semua warga SMPN 18, merupakan salah satu kegiatan yang secara langsung mengajak untuk peduli terhadap lingkungan sekitar sekolah,” ujar Lasminingsih, kepala SMPN 18.

Setelah kerja bakti, 50 siswa dan 4 guru pendamping mewakili warga SMPN 18 mengikuti pembinaan Surabaya Eco School bersama pengiat Tunas Hijau, 50 siswa yang tergabung dalam pembinaan ini terdiri dari pengurus OSIS dan perwakilan tiap-tiap kelas. Selama pembinaan ini, banyak ide yang muncul dari siswa maupun guru pendamping untuk merencanakan program unggulan kepedulian lingkungan hidup di sekolah mereka.

Diantara ide itu adalah upaya mengoptimalkan 25 keranjang pengomposan Takakura. Ide tersebut diawali oleh Nanik Widji Utari, guru IPS, yang ingin memanfaatkan sampah organik di rumahnya. “Saya sangat ingin sekali memanfaatkan sampah organik yang berasal dari sisa-sisa makanan yang ada di rumah menggunakan Takakura. Tolong saya diajari bagaimana proses pengolahannya,” pinta Nanik Widji Utari kepada pegiat Tunas Hijau.

Erika Dewi Ayu, siswa kelas 8, meresponnya dengan memberikan informasi bahwa di SMPN 18 memiliki Takakura tapi kurang mendapatkan perhatian. “Kita punya 25 Takakura yang diletakkan di dekat ruangan BK (bimbingan konseling),” tutur Erika Dewi Ayu. Pegiat Tunas Hijau Wira Lubis lantas meminta tolong kepada Erika Dewi Ayu untuk mengambil satu Takakura.

“Tolong dibawa kesini ya Takakuranya. Satu saja cukup. Nanti kita belajar bersama bagaimana proses pengolahan sampah organik menggunakan Takakura,” ujar Wira. Ternyata benar yang dikatakan Erika Dewi Ayu bahwa Takakura milik SMPN 18 selama ini kurang mendapat perhatian. Hal ini dibuktikan dengan kondisi starter (kompos awalan) yang terlalu kering dan terisi hanya sedikit. Ciri-ciri ini menandakan bahwa komposter ini tidak pernah diisi atau digunakan.

Ditambahkan oleh Wira bahwa penempatan Takakura sebaiknya bukan di dekat ruang BK maupun di samping kelas. “Takakura sebaiknya jangan ditaruh di sembarang tempat. Usahakan ditempatkan di sumber sampah organik itu berasal. Misalnya di kantin yang setiap harinya menghasilkan sampah organic,” ungkap Wira.

Selama penjelasan tentang pengolahan dan barang-barang yang dibutuhkan untuk membuat kompos menggunakan takakura, pegiat Tunas Hijau satu ini juga menjelaskan bahwa sampah organik yang bisa diolah menggunakan Takakura adalah sisa makanan atau sampah organik yang sudah dimasak. Pasalnya jenis sampah organik ini lebih cepat membusuk dan mengeluarkan bau busuk.

Tim lingkungan SMPN 18 lantas mempraktekkan cara mengolah sampah organik menggunakan Takakura. Kuswati, guru Bahasa Indonesia, lantas mengusulkan agar kantin diberi Takakura. “Tiap-tiap kantin harus kita beri Takakura. Nanti beberapa orang menjelaskan kepada penjaga kantin cara mengisi takakura dengan sisa-sisa makanan. Setiap seminggu sekali harus ada yang melihat kondisinya untuk memastikan ada perkembangan atau tidak,” usul Kuswati. (wira)