Green House, Toga, Puring Dan Kompos SMAN 13

Surabaya- Kondisi SMAN 13 yang  hijau akan lebih terlihat indah bila semua lahan hijau dirawat dengan benar. Keadaan ini terlihat saat pembinaan Surabaya Eco School yang diselenggarakan oleh Tunas Hijau bersama pemerintah kota Surabaya, Jumat (30/9). 50 siswa dan 5 guru mengikuti kegiatan yang dipandu oleh pegiat Tunas Hijau Suud.

Pada pembinaan ini nampak bahwa banyak lahan hijau di sekolah ini kurang terawat. Diantaranya adalah taman di depan ruang kelas XI IPA yang banyak rumput yang mengering dan sampah plastik. Ini disebabkan perawatan kebun dan taman sekolah selama ini hanya mengandalkan petugas kebersihan. Sedangkan siswa kurang terlibat langsung untuk perawatan. “Siswa hanya terlibat untuk mengurus tanaman pada hari-hari tertentu,” tutur Dias Annisa Rahma, salah satu siswa kader lingkungan hidup.

Untuk memperbaiki kondisi tersebut tercetus program lingkungan hidup dimana setiap siswa diharuskan untuk membawa tanaman  puring untuk ditempatkan di taman yang mengalami kerusakan. Tanaman puring dipilih oleh para kader lingkungan dikarenakan tanaman ini merupakan maskot SMAN 13. Bukan hanya menanam, setiap siswa juga harus merawat hingga siswa tersebut lulus dari sekolah tersebut. Tanaman puring itu juga akan menghiasi setiap lahan kelas yang berada di area kelas.

Pembuatan kompos merupakan keinginan besar yang dimiliki kader lingkungan ini. “Kita juga telah mempunyai mesin pencacah sampah organik yang berada di ruangan dekat parkiran,” tutur Intan Pratiwi. Intan menambahkan bahwa selama ini kurangnya pengetahuan mereka untuk menjalankan mesin tersebut membuat mesin tersebut lama tidak dipakai. “Rencananya, mesin itu akan segera kami operasikan agar kami bisa memproduksi kompos sendiri dan tidak beli lagi dari luar,” tambah Intan Pratiwi.

Sekolah yang berdiri sejak 9 Oktober 1982 ini juga telah memiliki green house sebagai media pembelajaran untuk IPA. ”Green house kami terletak di depan masjid sekolah,” tutur Ana Hermawati, ketua tim lingkungan hidup. Ana menambahkan bahwa green house itu berisikan tanaman Toga yang tertata rapi dan masih terawat walaupun pintunya rusak. Pada pembinaan itu, banyak impian untuk mengelola tanaman Toga untuk dikonsumsi sendiri. Namun itu terkendala minimnya orang yang bisa memandu mereka untuk mengelola Toga itu.

Terkait dengan pelaksanaan program Surabaya Eco School, SMAN 13 sangat menyambut program ini. “Dengan adanya program ini kami akan segera bersaing dengan sekolah lain untu menciptakan lingkungan yang lebih bersih dan Hijau,” tutur Istiqomah, salah satu guru pendamping. Istiqomah menambahkan bahwa program lingkungan yang sudah lama berhenti akan dijalankan lagi dengan dukungan dari semua warga sekolah. (suud)