SMA Stella Maris Terapkan Sanksi Peduli Lingkungan

Surabaya- SMAK Stella Maris memiliki komunitas siswa peduli lingkungan hidup. Namanya Stella  Green and Clean. Jumlah anggotanya 50 siswa. Mereka terdiri dari kelas 7  dan kelas 8  yang mempunyai  harapan sama untuk melestarikan lingkungan hidup di sekolah mereka. Tampak siang hari, Kamis (29/9), seluruh anggota komunitas ini mengikuti pembinaan Surabaya Eco School Tunas Hijau dan pemerintah kota Surabaya bersama Eco Mobile Coca-Cola.

Pada pembinaan ini, mereka diajak untuk mengetahui permasalahan lingkungan di sekolah mereka. Dari permasalahan tersebut selanjutnya dicari solusi melalui program lingkungan hidup yang mereka buat. “Sekolah ini dulunya memiliki green house yang berada di laboraturium Biologi,” tutur Sandra Monica, siswa kader lingkungan SMAK Stella Maris. Sandra menambahkan bahwa tanaman di green house itu sekarang telah  mengering dan tak terawat lagi. Itu  disebabkan kurangnya perhatian siswa dan warga sekolah.

Banyaknya sampah yang bercampur menjadi satu menyebabkan tercetusnya program untuk melakukan pemilahan sampah dengan skala kecil. Sampah akan dipilah mulai dari kelas oleh siswa. Sampah basah akan diolah menjadi kompos, sedangkan sampah non organik yang bernilai jual akan dikumpulkan untuk dijual.

Uang hasil penjualan akan dimanfaatkan untuk membeli alat penunjang dalam program lingkungan mereka. Tidak adanya penambahan tempat sampah membuat para kader ini harus memakai plastik untuk dijadikan tempat sampah non organik.

Untuk menunjang program lingkungan, para guru pembina lingkungan hidup akan membuat jurnal kebersihan kelas. “Nantinya guru yang mengajar di kelas pada jam ke 5 dan jam ke 8 harus memberikan keterangan tentang kondisi kelas masing-masing,” tutur Endah Karyaning, guru pembina lingkungan hidup.

Endah  menambahkan bahwa pada umumnya sampah yang banyak ditemui berceceran itu pada saat jam ke 5, yaitu jam masuk setelah istirahat. Bila kelas masih kotor dan tidak ada pemilahan sampah di kelas itu, maka guru yang mengajar di kelas harus memberikan sanksi.

Sekolah yang beralamat di Jalan Indrapura ini siap untuk mengganti kebijakan tentang hukuman ringan yang biasa mereka jalankan dengan kebijakan hukuman yang membantu berjalannya program lingkungan hidup. Diantaranya, bagi siswa yang terlambat untuk masuk sekolah akan dikenakan sanksi menyirami tumbuhan di seluruh sekolah.

“Setiap anak yang menjalani hukuman nantinya akan didampingi oleh dua kader lingkungan yang bertugas,” tutur Trifena Levi. Levi berharap dengan sanksi itu siswa lebih bisa menjaga lingkungan sekolah. Perubahan sikap agar siswa menjadi ramah lingkungan merupakan target utama mereka. (suud)