SMKN 7 Produksi Mesin Pencacah Sampah Organik Sendiri

Surabaya- Bahaya sampah non organik bagi makhluk hidup diperkenalkan Tunas Hijau dalam pembinaan lingkungan hidup Surabaya Eco School di SMK Negeri 7, Kamis (29/9). Bukan tanpa alasan, melihat jumlah siswa dengan lebih dominan laki-laki dibandingkan perempuan menjadikan pembiasaan sikap laki-laki terhadap sampah non organik cenderung semena-mena menjadi sorotan. Hal ini diungkapkan Lukman Hakim, ketua OSIS SMKN 7.

Disampaikan Lukman bahwa dirinya sudah sering memberi tahu siswa lain untuk menjaga lingkungan sekolah terbebas dari sampah. “Sudah biasa, Kak. Banyak siswa laki-laki di sekolah ini masih enggan untuk membuang sampah di tempatnya. Padahal tempat sampah itu sudah tersedia di tempat-tempat strategis,” tutur Lukman yang juga siswa kelas 12 Teknik Mesin ini. Ajakan membuang sampah pada tempatnya itu bahkan telah disampaikan teman-teman OSIS yang lainnya.

Kurangnya kesadaran siswa lainnya terhadap permasalahan sampah di sekolah membuat 40 siswa yang terdiri dari pengurus OSIS dan perwakilan Pecinta Alam merencanakan sosialisasi kepada mereka. Sosialisasi yang dimaksud adalah bahaya sampah non organik khususnya plastik terhadap lingkungan dan gerakan penghijauan sekolah. Melalui perwakilan OSIS dan Pecinta Alam ini, sosialisasi dilakukan dengan cara membuat poster himbauan lingkungan. Poster itu kemudian ditempatkan di kantin, kelas-kelas dan mading sekolah.

“Untuk sosialisasi bahaya sampah plastik, kami akan membuat poster lingkungan yang ditempatkan di kantin. Kami juga berencana menyosialisasikannya kepada penjaga kantin agar makanan di kantin bebas pembungkus plastik,” ujar Passa Azam Kallakus, siswa kelas 11 TGB (Teknik Gambar Bangunan) SMKN 7 Surabaya.

Tidak hanya permasalahan sampah, gerakan penghijauan sekolah pun menjadi pokok bahasan sosialisasi kepada warga sekolah sebagai bagian rencana program lingkungan mereka. Mereka akan menghiasi dinding kelas dengan menambahkan tanaman yang dapat ditempel di dinding kelas. Selain itu, gerakan penghijauan sekolah dengan menanam tanaman Sengon di sekolah pun menjadi bagian dari sosialisasi.

“Khusus untuk penanaman sengon, kami berencana untuk mengajak siswa terlebih dahulu melakukan pembibitan sengon. Ya, sebelum menanam ada baiknya dimulai dengan pembibitan dulu. benar kan, Mas?” ucap Riyan Herdiansyah, siswa perwakilan Pecinta Alam kelas 11 TKJ (Teknik Komunikasi dan Jaringan). Ditambahkan Riyan bahwa dipilihnya tanaman sengon karena merupakan salah satu tanaman yang bisa menyerap polusi akibat asap kendaraan. Sengon juga tergolong salah satu tanaman pelindung.

Sementara itu, SMKN 7 adalah sekolah yang memproduksi mesin pencacah sampah organik, khususnya dedaunan kering dan ranting pohon. Produksi mesin pencacah ini merupakan keuntungan tersendiri bagi mereka. Pasalnya, tidak semua sekolah memiliki mesin pencacah daun kering sendiri dan harus mengandalkan pisau untuk mencacah daun-daun tersebut. Sayangnya mesin pencacah daun tersebut jarang digunakan, karena program pembuatan pupuk kompos yang sempat berhenti.

Garinda Hangga menyampaikan bahwa mesin pencacah daun tersebut pernah digunakan untuk membuat pupuk yang hasilnya digunakan untuk memupuk tanaman di sekolah. “Mesin tersebut sudah jarang digunakan. Maka dari itu, mesin pencacah daun ini akan kami aktifkan kembali untuk membuat kompos daun. Dan akan kami masukkan dalam program lingkungan sekolah,” cetus siswa kelas 12 DGA (Desain Grafis Animasi) Garinda Hangga. Mesin pencacah daun kering ini merupakan karya siswa jurusan Teknik Mesin yang dibuat sejak dua tahun lalu. (rian)

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Anda dapat menggunakan tag dan atribut HTML: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>