Tim SES SMPN 11 Gagas Hutan Sekolah

Surabaya- Sudah sekitar setahun ini SMPN 11 menempati gedung baru. Kurangnya pepohonan menyebabkan suasana panas pada siang hari sangat terasa. Pemandangan ini terlihat saat pembinaan Surabaya Eco School yang diselenggarakan Tunas Hijau dan pemerintah kota Surabaya dengan mengikutsertakan Eco Mobile Coca-Cola, Rabu (28/9). 50 siswa yang berasal dari pengurus OSIS dan perwakilan kelas mengikuti pembinaan ini.

Pemilahan sampah organik dan non organik menjadi program lingkungan yang digagas SMPN 11. “Untuk mempermudah pemilahan sampah, kami menyediakan 2 tempat sampah yang ditempatkan di setiap kelas,” tutur S. Ratu Adil. Ratu menambahkan bahwa sampah yang sudah mengalami proses pemilahan akan dibuang ke tempat penampungan sementara untuk diproses lebih lanjut.

Sampah organik selanjutnya diolah menjadi kompos dengan menggunakan kotak pengomposan. Sedangkan sampah non organik yang bernilai jual akan dimanfaatkan untuk dijual. Hasil penjualan akan digunakan untuk membeli bibit tanaman.

Pembuatan poster sebagai media komunikasi untuk mengingatkan warga sekolah agar selalu menjaga lingkungan juga dibuat. Poster yang mereka buat akan menempel di ruang kelas, kantin, toilet dan ruang guru. Poster lingkungan juga akan dilombakan antar kelas. Kelas terbaik akan mendapatkan penghargaan dari sekolah. “Semoga dengan adanya poster di setiap ruang SMPN 11 bisa mengingatkan pentingnya menjaga lingkungan di sekitar kita,” tutur Dewi Mulya Rini.

Sekolah yang beralamatkan di Sawah pulo ini masih banyak memiliki lahan yang kosong. Atas dasar tersebut muncul gagasan untuk membuat hutan sekolah yang akan ditempatkan di samping gedung sebelah utara. “Bibit pohon akan didapat dari para murid minimal satu kelas bisa menyumbangkan 5 bibit pohon,” tutur Dian Safira, kader lingkungan SMPN 11.

Safira menambahkan bahwa bibit pohon yang akan disumbang berjenis pohon pelindung. Setelah pohon itu ditanam, setiap kelas diharuskan untuk merawat sampai tumbuh besar. “Ssehingga seluruh warga sekolah bisa nyaman untuk belajar dan membuat udara semakin sejuk,” ujar Dian Safira.

Sementara itu, setelah program Surabaya Eco School berjalan hampir 3 minggu ini, banyak komentar tentang program ini. Diantaranya dari pembina lingkungan hidup SMPN 11 Surabaya Ulwiyah. ”Program ini merupakan langkah awal untuk menyadarkan warga sekolah agar lebih cinta lingkungan,” tutur Ulwiyah. Dia berharap program ini tidak hanya sekali diadakan, tetapi kalau bisa dilakukan secara berkelanjutan. (wira)