Workshop Pemilahan Sampah Di SMAK St Louis 2

Surabaya- Bangunan sekolah dengan tinggi mencapai 4 lantai membuat 50 orang anggota LASKAR CLING (Cinta Lingkungan) ini harus bersusah payah menjalankan program lingkungannya. Hal ini terlihat saat SMAK St. Louis 2 melibatkan Tunas Hijau pada workshop lingkungan hidup di sekolah, Rabu (28/9). Pegiat Tunas Hijau Anggriyan Permana bertindak sebagai pemateri sekaligus fasilitator bagi para siswa sekolah ini.

Pengolahan sampah organik dan non organik menjadi tema workshop lingkungan yang bertempat di ruang kelas 10 ini. Tema ini diambil karena sekolah memiliki bangunan yang cukup luas dan jumlah tong sampah memadai di setiap kelas minimal satu tong sampah. Permasalahannya ada pada pengolahan sampah organik dan non organik yang masih tercampur menjadi satu.

Seperti yang diutarakan oleh Anggriyan bahwa bila dilihat secara fisik memang bagus. “Secara fisik, sekolah kalian memang bagus. Namun kalau sudah ngomongin perilaku, ternyata belum semua siswa mau memilah dan mengolah sampah yang dihasilkan,” tutur Anggriyan di awal pembinaan.

Dalam workshop yang menindaklanjuti program lingkungan hidup Surabaya Eco School ini, Anggriyan mengajak 50 orang anggota LASKAR CLING ini untuk mengolah sampah yang sudah mereka hasilkan. Seperti yang disampaikan pegiat Tunas Hijau ini bahwa melakukan pengolahan sampah sesuai jenisnya itu penting sekali. “Kalau hanya membuang sampah di tempatnya, anak TK pun bisa. Ditambah lagi hal tersebut ternyata hanya memindah masalah kepada orang lain,” ujar Anggriyan.

Para siswa itu selanjutnya dibagi menjadi dua kelompok. Masing-masing adalah kelompok pengolahan sampah organik dan pengolahan sampah non organik. Anthony Wahyu, captain LASKAR CLING, menyampaikan bahwa pembagian tugas itu akan ditindaklanjuti dalam kesehariannya. “Nantinya kelompok pengolahan sampah organik akan bertanggung jawab mengumpulkan sampah organik sisa makanan maupun dedaunan kering untuk diolah menjadi kompos menggunakan komposter tong dan takakura,” ujar Anthony.

Sedangkan untuk kelompok pengolahan sampah non organik bertanggung jawab memilah sampah non organik dengan dibedakan menjadi 3 yaitu kertas, botol dan sampah sisa buang yang pemilahannya dilakukan di lapangan. Jadi kelompok sampah non organik harus mengambil sampah dari mulai lantai 4 sampai lantai 1,” jelas Anthony, siswa kelas 11 IPA 3 ini.

Dengan berbekal sebuah tong sampah di setiap lantainya, Cyrila Vicky dan beberapa orang siswa lainnya mencari sampah yang ada di kelas mulai dari lantai satu hingga lantai empat. Begitu juga dengan kelompok sampah non organik yang dikomandoi oleh Wendy Setiangga, siswa kelas 12 IPA2 yang fokus mencari sampah organik.

Tidak butuh waktu lama, 2 karung besar berisi botol-botol plastik dan satu karung besar berisi kertas bekas berhasil dikumpulkan oleh kelompok pengolahan sampah non organik. Anthony menuturkan bahwa nantinya hasil dari pemilahan sampah ini akan dikumpulkan dulu untuk kemudian dipilah-pilah kembali.

“Untuk sampah botol-botolnya akan kami jual. Hasilnya akan kami gunakan untuk mendanai program lingkungan lainnya. Sedangkan untuk kertas bekas yang masih baru akan kami kumpulkan untuk didaur ulang menjadi kertas baru lagi,” tuturnya.

Dalam workshop ini, kegiatan yang mereka lakukan merupakan gebrakan awal dimulainya program pemilahan sampah. Selain itu, sosialiasi mengenai pemilahan sampah juga direncanakan untuk kelas-kelas mulai dari kelas 10 sampai kelas 12. Guru khususnya wali kelas diminta terlibat untuk pelaksanaannya. Tidak lupa juga program lingkungan lainnya turut disosialisasikan beriringan dengan program pemilahan sampah ini. (rian)