50 Lubang Resapan Di SMP 17 Agustus

Surabaya- Kader lingkungan SMP 17 Agustus 1945 punya cara sendiri untuk melestarikan lingkungan. “Ide awalnya kami akan membagikan brosur berisi pengetahuan lingkungan ukuran A6,” terang Pandu Perwira, kader lingkungan. Kader lingkungan juga menggunakannya untuk menyosialisasikan program lingkungannya pada ajang Surabaya Eco School. Rencana ini mereka sampaikan saat pembinaan dan pemantauan Surabaya Eco School di sekolah mereka, Jumat (28/10).

“Kita juga bisa menjelaskan perilaku ramah lingkungan dan program kita,” sahut Pandu. Brosur-brosur tersebut akan dibagikan pada seluruh warga sekolah, agar perilaku warga sekolah bisa berubah jadi lebih ramah lingkungan. Tidak hanya Pandu yang mempunyai usulan, ketua kader lingkungan Miselia juga. Mereka berniat mengadakan lomba dan pameran poster seluruh kelas. “Pada lomba poster, kami akan mengundang wali muri dan sekolah sekitar,” kata ketua kader lingkungan Miselia.

Bagi mereka, poster merupakan media komunikasi yang menarik untuk diperhatikan. Target utama Miselia menyampaikan pesan lingkungan ke banyak orang dengan cara menyenangkan. Pada pembinaan kedua Surabaya Eco School, mereka juga menentukan tema untuk lomba poster mereka yaitu global warming atau pemanasan global. “Karena global warming telah menjadi isu global lingkungan,” menurut Miselia.

Kader lingkungan juga telah merealisasikan program pembuatan green house. Namun mereka tidak menyebutnya green house tapi black house. Penyebutannya jadi beda karena disesuaikan dengan ukuran dan warnanya. “Karena yang satu ini sangat kecil dan jaring-jaringnya warna hitam jadi kami menyebutnya black house,” terang pembina lingkungan Anto Mandala.

Selain itu, adanya black house dapat meningkatkan rasa cinta terhadap lingkungan, terutama dalam merawat tanaman. Di dalamnya terdapat tanaman hias beraneka macam dan juga ada pembibitan tanaman cabai. Pembibitan tanaman cabai memanfaatkan gelas bekas air mineral untuk polibagnya.

Untuk pertama kali kader lingkungan panen kompos hasil pengelolaan sampah makanan. Kompos itu dimanfaatkan untuk pembibitan tanaman cabai. “Karena kami sudah panen sehingga kami tidak perlu lagi membeli pupuk,” ujar Miselia, kader lingkungan. Hasil itu merupakan upaya dari kader lingkungan mengumpulkan dan mengolah sampah makanan yang ada di kantin mereka. Menurut dia, walau hanya sedikit hasilnya paling tidak bisa bermanfaat. Ke depan mereka akan berupaya memperbanyak sosialisasi ke kantin agar petugas kantin bisa mandiri.

Selain ada aktivitas tentang pengelolaan sampah, mereka juga membuat lubang resapan biopori.  Mereka pasang target lebih dari 50 lubang dikerjakan dalam waktu sebulan. “Minimal 50 lubang biopori yang akan kami buat,” terang Pandu Perwira, kader lingkungan. Kegiatan mereka sering terhalang karena banyaknya paving block. “Saya sering membongkar paving dan pondasi beton, karena aliran hujannya dan jalannya banyak paving dan berpondasi beton,” ungkap Pandu.

Surabaya Eco School 2011 adalah program lingkungan hidup berkelanjutan untuk sekolah-sekolah di Surabaya. Program yang memadukan kompetisi, pembinaan dan pemantauan ini diselenggarakan oleh pemerintah kota Surabaya dan Tunas Hijau. Surabaya Eco School didukung oleh PT. Perusahaan Gas Negara (Persero) Tbk, PDAM Surabaya, ASUS, PT. Dharma Lautan Utama dan Perum Jasa Tirta I. (1man)