Eco Teacher (Senior) of the Week Soegiono; Awali Dengan Lomba Taman Kelas Secara Massal Di SMKN 2

Soegiono, guru SMKN 2 Surabaya

Bermula dari kepercayaan yang diberikan kepala sekolah untuk menjadi kepala urusan lingkungan yang disiapkan untuk mengikuti program Surabaya Eco School, Soegiono, menjadi guru koordinator yang menggerakkan seluruh warga sekolah untuk peduli lingkungan. Tanggung jawab besar dalam mengelola lingkungan di sekolah dijalankannya dengan rasa ikhlas dan senang.

Dengan luas sekolah yang mencapai hampir 4 hektar ini, langkah awal Soegiono adalah dengan menanam tanaman di lahan kosong sekolah. Tanaman yang ditanam berasal dari tanaman sisa kegiatan dekorasi. “Setiap bulannya kami pasti ada kegiatan dekor. Dan saat dekor itu harus ada tanaman hias. Setiap bulannya saya selalu mengumpulkan tanaman hias yang sudah tidak terpakai tersebut untuk langsung ditanam di lingkungan sekolah yang luas ini,“ jelas Soegiono yang guru olahraga ini.

Tanggung jawab besar mengurusi program lingkungan di sekolah tidak membuat Soegiono pantang menyerah. Dengan mengajak ketua kelas dari setiap kelas, guru kelahiran 47 tahun silam ini mengajak mereka untuk membantunya dalam menyusun program lingkungan sekolah sebagai syarat mengikuti Surabaya Eco School. Langkah awal yang dilakukan oleh Soegiono dan kumpulan ketua kelas ini adalah dengan mengadakan kompetisi taman kelas yang melibatkan seluruh siswa di semua jurusan.

“Kompetisi taman kelas ini melibatkan seluruh siswa mulai dari kelas 10 sampai kelas 12. Diharapkan karena merupakan siswa-siswa SMK, maka dalam kompetisi taman kelas ini mereka saya bebaskan untuk menghias sendiri tamannya. Asalkan taman tersebut dirawat setiap harinya,” terang guru yang sudah mengajar selama 20 tahun ini.

Dalam mengajak siswa untuk peduli lingkungan, suami Nurhayati ini menerapkan pola hukuman pada bidang olahraga. Menurut guru dengan 3 anak ini, jika ada siswa yang datang terlambat, maka siswa tersebut akan dihukum dengan hukuman yang mengarah ke lingkungan bukan ke olahraga. “Kalau  saya hukum push up, terus shit up itu nanti malah menyehatkan mereka. Sama saja bukan hukuman, tetapi pelajaran olahraga dong,” tuturnya.

Tidak hanya menggunakan hukuman, dalam kesehariannya di sekolah, Soegiono juga mengajak siswa lain peduli ligkungan. Caranya, dengan cara mengajak mereka langsung melakukan kegiatan lingkungan seperti pengomposan dan tanam pohon di sekolah.

“Saya juga sering mengajak siswa lain untuk berkegiatan lingkungan di sekolah. Contohnya sewaktu pengomposan, saya sering mengajak mereka untuk mengaduk komposnya atau tidak jarang saya meminta mereka untuk mencari daun kering yang ada di sekolah. Sambil dijelaskan proses kerja pengomposan,” tungkas Soegiono.

Dukungan dari kepala sekolah dan beberapa guru yang membantu merealisasikan program lingkungan tidak disia-siakan oleh guru yang tinggal di daerah Puluh Tegalsari ini. Beberapa program lingkungan yang masih belum berjalan pun coba dijelaskan kepada guru dan siswa pilihan. Soegiono menyampaikan bahwa mereka berencana untuk mengadakan tanam pohon yang juga melibatkan orang tua siswa.

“Selanjutnya saya berencana mengajak wali murid menanam tanaman atau pohon bersama dengan seluruh warga sekolah. Selain itu, nantinya akan ada kegiatan pembuatan lubang resapan bersama, menindaklanjuti kegiatan di SMAN 16 yaitu pembuatan lubang resapan bersama Bu Risma Walikota Surabaya tersebut,” cetus Soegiono. (rian)