SMAN 3 Gencarkan Pengomposan Dan Lubang Resapan

Surabaya- Penghijauan tergolong program lingkungan hidup lama yang dilakukan di SMAN 3. Tidak hanya penghijauan, tim lingkungan hidup sekolah ini juga berharap bisa mengeksiskan program pengomposan di sekolahnya. Alasannya, banyak sampah organik yang dihasilkan pepohonan sekolah. Pemandangan ini seperti terlihat dalam pembinaan dan pemantauan Surabaya Eco School di sekolah ini, Jumat (28/10).

“Kami ingin melakukan pengomposan di sekolah ini. Itu dikarenakan banyak sampah organik dedaunan sebagai bahan pembuatan kompos yang dijumpai. Saya harap pengetahuan ini dapat diaplikasikan oleh seluruh siswa,” ucap Rusdiana, siswi tim lingkungan sekolah.

“Sebenarnya selain penghijauan yang sudah dilakukan siswa. Mereka ingin memproses sampah yang ada di sekolah. Salah satunya sampah organik dari daun kering yang ada di sekolah. Dengan adanya pembinaan ini saya harapkan siswa dapat diberikan pembelajaran untuk hal tersebut,” ujar Bambang Sugiono, guru pendamping siswa.

Di sekolah ini siswa sudah melakukan penghijauan saja untuk program lingkungannya. Oleh karena itu pihak sekolah maupun siswa meminta untuk diajarkan cara pengomposan tersebut. Menggunakan komposter takakura yang baru diperoleh untuk melakukan pembelajaran. Hampir seluruh siswa tidak mengetahui keberadaan komposter tersebut, karena memang tidak mengetahui fungsinya.

“Ternyata keranjang itu adalah komposter. Saya belum tahu sebelumnya. Padahal keranjang tersebut terletak di dekat ruang guru yang tiap hari saya lewati. Meskipun begitu saya tetap ingin belajar dan mengetahui cara pengomposan yang benar seperti apa,” ucap Hilda Vina, salah seorang siswa SMAN 3 yang mengikuti pembinaan dan pemantauan ini.

Diperkenalkan satu persatu alat yang ada di dalam komposter tersebut beserta fungsinya. Seperti sekam yang berfungsi untuk menyerap air lindi dan bau agar tidak menyebar. “Antusias dari siswa untuk mempelajari pengomposan ini sangat besar. Terlihat rasa ingin tahu yang sangat besar. Terlontar dari setiap pertanyaan yang dilayangkan siswa. Saya harap ilmu baru yang mereka terima ini tidak berhenti di tengah jalan. Semoga mereka dapat melakukan apa yang diprogramkan,” tutur aktivis Tunas Hijau Narendra.

Kegiatan pengomposan dengan lubang resapan biopori juga diperkenalkan. Tanah lapang banyak dijumpai di sekolah. Lubang resapan biopori sangatlah efektif untuk menyerap air hujan dan juga melakukan pengomposan. “Bagus juga fungsi lubang ini untuk menyerap air. Dengan begitu genangan air akan semakin berkurang. Kita juga dapat melakukan pengomposan pada lubang itu. Sehingga dapat menyuburkan tanah dan tumbuhan di sekitarnya,” ucap Nela Rizka, siswi tim lingkungan sekolah.

Surabaya Eco School 2011 adalah program lingkungan hidup berkelanjutan untuk sekolah-sekolah di Surabaya. Program yang memadukan kompetisi, pembinaan dan pemantauan ini diselenggarakan oleh pemerintah kota Surabaya dan Tunas Hijau. Surabaya Eco School didukung oleh PT. Perusahaan Gas Negara (Persero) Tbk, PDAM Surabaya, ASUS, PT. Dharma Lautan Utama dan Perum Jasa Tirta I. (naren)