Garden-preneurship SMA Negeri 16

Surabaya- Dimasa lalu, SMAN 16 yang terletak di jalan raya Prapen ini memiliki banyak lahan yang belum termanfaatkan. Diantara lahan tidur tersebut bahkan dialihfungsikan sebagai tempat penimbunan sampah. Saat ini tumpukan sampah yang menggunung tak lagi ditemukan di sekolah ini. Kerja keras seluruh warga sekolah telah berhasil mengubah lahan tidur menjadi taman pembelajaran lingkungan hidup, yaitu Garden-preneurship.

Saat tim pembinaan dan pemantauan Surabaya Eco School mengunjungi SMAN 16 (1/11), diceritakan oleh Tarmizi Erfandi bahwa perubahan 180 derajat ini diawali bergantinya kepemimpinan kepala sekolah. “Kepala sekolah yang baru secara perlahan merubah kondisi lingkungan sekolah melalui kebijakan yang diterapkan. Digelarnya Surabaya Eco School ini menjadi momen merubah sekolah kami menjadi lebih peduli lingkungan,” ujar Tarmizi, ketua OSIS SMAN 16 yang mendapat penghargaan sebagai Eco Student of the Week.

Kebijakan pengurangan sampah plastik mulai diterapkan. Setiap minggunya juga selalu digelar Friday Goes Clean untuk menanamkan kesadaran peduli lingkungan bagi warga sekolah. “Telah diadakan juga beberapa kompetisi lingkungan antar kelas. Terakhir setiap kelas diajak menyampaikan pesan lingkungan dengan menggambar mural di tembok sekolah yang selama ini lahannya belum termanfaatkan,” jelas Tarmizi kembali.

Pembuatan Garden-preneurship di bekas lahan penumpukan sampah juga merupakan bukti upaya nyata warga sekolah. Lahan tersebut telah berganti dengan kolam budidaya ikan nila. Hasil dari ikan ini akan dikelola siswa sebagai pembelajaran wirausaha. “Nantinya juga akan dibangun pertanian organik yang akan dikelola siswa. Karena itulah kenapa tempat ini dinamai Garden-preneurship. Peresmian taman wirausaha ini pun oleh Walikota Surabaya Tri Rismaharini,” imbuh Tarmizi.

Antusiasme warga sekolah juga semakin bertambah, terlebih setelah pembangunan taman wirausaha tersebut, demikian menurut penuturan Etna Rufiati, guru pembina kader lingkungan sekolah. “Saat ini semakin banyak bapak ibu guru yang turut serta menyumbang pemikiran baru guna menciptakan SMAN 16 yang berbudaya lingkungan hidup,” tutur Etna yang sehari-hari mengajar kimia.

Nofrida Nurmalia Masytha menambahkan bahwa telah dibuat juga puluhan lubang resapan di sekolahnya. “Terhitung 52 lubang resapan telah kami buat untuk menghilangkan genangan serta menyimpan air tanah di sekolah,” kata siswi kelas X-7 ini. Nofrida juga mengatakan pengolahan sampah organik juga mulai diterapkan.

“Pengelola kantin telah mulai mengolah sampah mereka dengan media keranjang pengomposan. Untuk sampah daun tim lingkungan dibantu pesuruh sekolah bersama-sama melakukan pengomposan,” tutur Nofrida. Sampah plastik pun juga turut diolah, terlihat dari berbagai karya daur ulang karya siswa di ruang pamer sekolah.

Surabaya Eco School 2011 adalah program lingkungan hidup berkelanjutan untuk sekolah-sekolah di Surabaya. Program yang memadukan kompetisi, pembinaan dan pemantauan ini diselenggarakan oleh pemerintah kota Surabaya dan Tunas Hijau. Surabaya Eco School didukung oleh PT. Perusahaan Gas Negara (Persero) Tbk, PDAM Surabaya, ASUS, PPS Teflon Paint Protection, PT. Dharma Lautan Utama dan Perum Jasa Tirta I. (don)