Program LH SMPN 31 Berjalan Lambat Tapi Pasti

Surabaya- Setiap sekolah selalu menginginkan kondisi lingkungan yang indah, bersih dan hijau. Namun untuk mewujudkan kondisi itu belum tentu bisa dilakukan dengan cepat. Butuh proses agar hasilnya maksimal. Aniek Handayani, kepala SMPN 31, mencoba membuat sekolahnya peduli dan berbudaya lingkungan. “Melihat kondisi sekolah pertama kali di SMPN 31 membuat saya berkeinginan untuk mempercantik kondisi lingkungan sekolah,” ujar Aniek Handayani kepada Tunas Hijau.

Diantara lubang resapan yang sudah dibuat di SMPN 31

Pada pembinaan dan pemantauan Surabaya Eco School, Senin (14/11),  Aniek Handayani menuturkan bahwa program lingkungan hidup SMPN 31 bisa dikatakan lambat. Diantara penyebabnya adalah renovasi gedung. “Langkah awal saya untuk mempercantik SMPN 31 dengan merenovasi gedung yang tidak layak. Baru setelah itu penghijauan digalakkan supaya menjadi rindang. Sebagai permulaan setiap kelas harus ada beberapa tanaman dalam pot, sehingga program lingkungan hidup yang dirasa lambat tapi pasti akan menjadi indah,” tutur Aniek Handayani sembari mengajak Tunas Hijau berkeliling melihat kondisi sekolah.

Ditambahkan Anik bahwa dengan adanya program Surabaya Eco School sangat membantu sekolah untuk memunculkan kesadaran peduli lingkungan. “Kesadaran siswa untuk peduli terhadap lingkungan hidup khususnya SMPN 31 sudah lebih baik. Bisa dikatakan program dari Pemkot bersama Tunas Hijau sangat membantu keinginan saya untuk mempercantik kondisi lingkungan sekolah menjadi ramah lingkungan,” tambah Aniek Handayani.

Yosua Maydikie Putra, siswa kelas 8-B, menyampaikan bahwa program lingkungan hidup yang sudah ada hasil adalah pemanfaatan sampah non organik khususnya botol plastik bekas. “Untuk mengurangi sampah botol plastik, diantara upayanya adalah dimanfaatkan menjadi pot tanaman hias. Setiap kelas diwajibkan untuk menghiasi kelas masing-masing dengan tanaman yang menggunakan botol plastik bekas sebagai pot,” terang Yosua.

Menurut Rani Krisma Eka Suryani, program lingkungan hidup di SMPN 31 tergolong lambat tapi pasti. Beberapa program sudah mulai dijalankan meskipun sekolah sedang renovasi gedung. “Walau program kami lambat tapi kader lingkungan sudah mulai menjalankan beberapa program ramah lingkungan. Toilet selain disiram setelah digunakan, tanaman sansivera juga diletakkan di toilet. Pemilahan sampah organik dan non organik meski belum maksimal, tanaman toga yang tumbuh di sekolah, dan patroli lingkungan untuk menyadarkan siswa yang kurang peduli lingkungan,” ujar Rani.

Tika Astriani, siswa kelas 8-A, menambahkan bahwa untuk tanaman toga ada sedikit kendala sehingga kurang optimal. “Selain renovasi gedung, musim hujan saat ini membuat tanaman toga yang sudah kami tanam hasilnya kurang optimal. Banjir juga mempengaruhi pertumbuhan tanaman toga kami,” ujar Tika Astriani.

Upaya mencegah banjir di sekitar area tanaman toga, kader lingkungan akan membuat lubang resapan biopori untuk menyerap air hujan kedalam tanah sehingga tidak sampai membanjiri tanaman toga,” tegas Tika Astriani, yang telah mendapatkan bekal cara membuat lubang resapan biopori dari Tunas Hijau pada pembinaan Surabaya Eco School beberapa minggu sebelumnya.

Surabaya Eco School 2011 adalah program lingkungan hidup berkelanjutan untuk sekolah-sekolah di Surabaya. Program yang memadukan kompetisi, pembinaan dan pemantauan ini diselenggarakan oleh pemerintah kota Surabaya dan Tunas Hijau. Surabaya Eco School didukung oleh PT. Perusahaan Gas Negara (Persero) Tbk, PDAM Surabaya, ASUS, PPS Teflon Paint Protection, PT. Dharma Lautan Utama dan Perum Jasa Tirta I. (wira)