Panen Raya, Eco Bazar Dan Ecopreneurship SMPN 4

Surabaya- Terbayar sudah upaya tim lingkungan hidup SMPN 4 dalam memelihara kolam ikan lele. Pasalnya ikan yang dipelihara mulai dari bibit hingga mempunyai panjang 15 cm itu berhasil dipanen oleh tim lingkungan SMPN 4. Hasil dari panen lele tersebut bahkan diolah dengan berbagai masakan. Abon lele, bakso lele dan nugget lele merupakan bentuk makanan yang diciptakan oleh guru tata boga.  Hal ini terjadi saat acara panen raya, Eco Bazar dan Ecoprenership  SMPN 4, Sabtu (3/12). 

Aneka masakan dari lele dijual dalam Eco Bazar SMPN 4

Selain memanen lele, tim kader lingkungan SMPN 4 juga melakukan pemanenan tanaman ginseng dengan media bambu yang terletak di samping green house. Ginseng mulai ditanam 4 bulan lalu oleh kader lingkungan dalam pelajaran muatan lokal lingkungan hidup. “Kami telah mendapatkan 3 karung ginseng setelah panen kemarin,” ujar Soeprihatin Poerwanti Ning Tias, koordinator Adiwiyata SMPN 4. Tias menambahkan bahwa pemilihan ginseng untuk tanaman dalam bambu karena manfaat gingseng yang baik bagi tubuh manusia.

Berbagai macam pengolahan ginseng untuk dijadikan makanan pun memeriahkan Eco Bazar ini. Ginseng yang dipanen Jumat lalu itu dimanfaatkan sendiri oleh para siswa SMPN 4. Silvi Aziza siswa kelas 8 ini menjual  botok ginseng  yang dimasak bersama teman-temannya. “Kami membeli gingseng dengan harga 3000 dari sekolah yang kemudian kami olah untuk botok,” ujarnya. Silvi menambahkan bahwa modal untuk berjualan botok ginseng  Rp. 50.000,-. “Namun kami bisa  memperoleh untung sampai Rp. 50.000,-. Pembeli kebanyakan dari siswa, guru dan wali murid yang hadir pada acara ini,” lanjut Silvi.

Yel-yel lingkungan hidup dengan kostum daur ulang ditampilkan dalam Eco Bazar ini

Di sekolah yang beralamatkan di jalan Tanjung Anom ini juga memamerkan beberapa inovasi tentang pembuatan kompos cair yang terbuat limbah buah. Pembuatan pupuk ini dilakukan oleh semua siswa dipandu oleh guru lingkungan hidup Mas Roro Suhartini. “Limbah buah yang dimasukan kedalam karung beras dan ditekan agar lebih padat. Kemudian karung beras di masukan kedalam air yang  yang telah dicampuri dengan gula pasir dan air kelapa dan di diamkan selama 7-10 hari. Bau yang dihasilkan oleh pupuk cair ini hampir sama dengan bau buah tersebut,” ujar Mas Roro.

Kegiatan ini diakhiri dengan demo memasak lele hasil panen yang diolah menjadi naget, abon, dan bakso.  Kepala SMPN 4 Sofia Nurbaya menuturkan bahwa kegiatan ini merupakan serangkaian kegiatan program Surabaya Eco School. Dalam acara ini, siswa diajak belajar untuk memulai dari nol yaitu pembibitan yang kemudian siswa diajak untuk merawat dan yang terakhir siswa diajak untuk mengelolanya atau biasa disebut dengan eco-preneurship. ”Semua kegiatan dilakukan oleh warga sekolah,” ujar Sofia Nurbaya.

Surabaya Eco School 2011 adalah program lingkungan hidup berkelanjutan untuk sekolah-sekolah di Surabaya. Program yang memadukan kompetisi, pembinaan dan pemantauan ini diselenggarakan oleh pemerintah kota Surabaya dan Tunas Hijau. Surabaya Eco School didukung oleh PT. Perusahaan Gas Negara (Persero) Tbk, PDAM Surabaya, ASUS, PPS Teflon Paint Protection, PT. Dharma Lautan Utama dan Perum Jasa Tirta I. (suud)