Hari I Workshop I Surabaya Eco School 2012

Surabaya- 130 siswa dan guru dari 21 SMA/SMK negeri dan swasta Surabaya meramaikan Workshop I Surabaya Eco School hari pertama, Jumat (7/9) di Ruang Pola lantai gedung Badan Perencanaan Pembangunan Kota Surabaya. Pada workshop yang diselenggarakan oleh Tunas Hijau bersama Pemerintah Kota Surabaya ini, mereka datang dengan membawa visi yang sama yaitu mewujudkan lingkungan hidup yang lebih baik di sekolah masing-masing.

Tim peserta SMAN 9 memaparkan potensi lingkungan hidup di sekolahnya

Selembar kertas karton bekas dan sebuah spidol menjadi senjata awal bagi para siswa dan guru peserta workshop Surabaya Eco School 2012 ini. Pada selembar kertas tersebut termuatlah potensi yang ada di sekolah. Dari catatan potensi itulah program sekolah akan disusun. Program tersebut akan dilaksanakan pada pelaksanaan kompetisi lingkungan hidup berkelanjutan Surabaya Eco School 2012.

Bersama semua warga sekolah masing-masing, program tersebut akan coba diwujudkan dalam aksi nyata lingkungan hidup berkelanjutan. Sehingga, tercipta lingkungan sekolah yang didambakan bersama. “Potensi yang ada di sekolahku itu banyak, Mbak. Bolehkah ditulis semua? Atau hanya salah satu saja?“ tanya Abdel Rofi, peserta SMAN 9.

Banyak pertanyaan yang dilontarkan para peserta workshop kepada Tunas Hijau membuktikan keseriusan mereka untuk merealisasikan program lingkungan hidup dengan pelibatan semua warga sekolah. Pertanyaan tersebut disampaikan secara langsung dan tertulis. Banyak pula yang bertanya tentang bagaimana cara mengajak orang sebanyak-banyaknya untuk bisa lebih peduli lagi terhadap lingkungan.

Semakin banyak orang yang peduli terhadap lingkungan, maka bumi ini semakin sehat. “Bagaimana sih Kak caranya agar teman, guru dan warga sekolah lainnya yang belum peduli lingkungan bisa lebih peduli lagi?” tanya Agel, peserta dari SMAN 20.

Penjabaran fakta lingkungan dan kajian lingkungan yang disampaikan oleh aktivis Tunas Hijau Bram Azzaino juga menarik minat para kader lingkungan untuk lebih tahu tentang lingkungan hidup. Belum banyak yang tahu fakta keadaan lingkungan yang ada di Indonesia sendiri. Bukti fakta ini membuat peserta tercengang.Ternyata daerah sekitar mereka masih banyak terjadi kekeringan.

Pada workshop hari pertama ini, sekolah yang tidak hadir adalah SMA Negeri 7, SMA Negeri 15, SMA Negeri 17 dan SMAK Santa Agnes. Sedangkan sekolah yang hadir adalah SMAN 1, SMAN 2, SMAN 4, SMAN 5, SMAN 6, SMAN 9, SMA Trimurti, SMAN 14, SMAN 20, SMAN 21, SMAK St. Stanislaus, SMA Dharma Wanita, SMKN 2, SMKN 3, SMKN 4, SMKN 5, SMKN 7, SMKN 8, SMKN 10, SMAK St. Louis 2 dan SMAK Stella Maris. (sari)