Hari VI Workshop Surabaya Eco School Ajak Peserta Kaji Potensi Sekolah

Surabaya- Bencana kekeringan melanda daerah Lamongan hingga menyebabkan banyak petani gagal panen. Fakta lokal lingkungan itu disajikan Tunas Hijau pada pelaksanaan hari keenam Workshop I Surabaya Eco School di Aula SMKN 1 Surabaya, Rabu (12/9). Tidak hanya bencana kekeringan, krisis air bersih yang terjadi di kabupaten Gresik pun dibahas dalam workshop ini. Menurut penuturan aktivis Tunas Hijau Purbo Sari, bencana tersebut terjadi karena aktivitas manusia yang cenderung merusak lingkungan.

Sampah sisa makanan peserta langsung diolah menjadi kompos

“Bencana kerusakan lingkungan yang terjadi beberapa minggu terakhir di beberapa kota dan kabupaten di Jawa Timur adalah salah satu alasan sekolah harus aktif pada program Surabaya Eco School. Sekolah harus bertindak nyata melalui program lingkungan hidup untuk mengurangi dampak kerusakan lingkungan,” ujar Sari. Fakta lokal dan global kerusakan lingkungan tersebut diperkuat dengan tampilan video kondisi lingkungan hidup dari kutub utara sampai kutub selatan terkait dampak pemanasan global.

Dalam workshop yang diikuti oleh 102 siswa dan guru sekolah dasar Surabaya ini, Tunas Hijau mengajak setiap sekolah untuk memaparkan potensi lingkungan yang ada di sekolah berdasarkan 3 isu, yaitu air, sampah dan keanekaragaman hayati. “Masing-masing sekolah silahkan menuliskan potensi dan permasalahan lingkungan yang ada di sekolah berdasarkan 3 isu lingkungan, yakni air, sampah dan keanekaragaman hayati,” ujar Anggriyan Permana, aktivis Tunas Hijau dan direktur Surabaya Eco School 2012.

Dengan penuh semangat tinggi, Siti Indahyati, guru SDN Kedung Cowek 1 memaparkan bahwa potensi yang ada di sekolahnya adalah kolam ikan yang tidak dimanfaatkan dan lahan sempit di dekat ruang kepala sekolah juga belum dimanfaatkan. “Kami berencana untuk membudidayakan ikan lele dan menanam sansivera di lahan yang sempit itu,” ujar Siti Indahyati, peraih penghargaan best teacher dalam workshop itu.

Menindaklanjuti paparan yang telah dilakukan oleh beberapa sekolah, aktivis senior Tunas Hijau Bram Azzaino mengajak 34 orang guru pendamping dan 68 orang siswa untuk melakukan kajian lingkungan terkait potensi sekolah. Bram mengajak mereka untuk melakuan simulasi mengenai potensi lingkungan yang ada di SMKN 1. “Silahkan Bapak, Ibu dan Adik-Adik mencari potensi dan permasalahan lingkungan yang ada di sekolah ini. Potensi yang ada di kantin, di lingkungan sekolah, bahkan juga tentang fasilitas lingkungan yang ada disini,” jelas Bram.

Beberapa guru pendamping menemukan potensi yang ada di sekolah ini, seperti yang disampaikan oleh Sri Supartini, guru SDN Gading IV, bahwa kantin sekolah sudah mengurangi penggunaan sampah plastik dengan menyediakan gelas sendiri. “Namun permasalahan di kantin yang muncul adalah sampah basah sisa makanannya tidak ada yang mengolah. Jumlahnya juga banyak karena jumlah siswanya banyak,” Sri Supartini.

Pembahasan kajian lingkungan dari hasil simulasi peserta mengelilingi sekolah dilakukan dengan mengajak mereka melakukan tindakan nyata. Diantaranya dengan melakukan pengolahan sampah basah sisa makanan menjadi kompos menggunakan keranjang pengomposan. Anggriyan Permana mengajak peserta workshop untuk terlebih dahulu memilah sampah makan siang yang dihasilkan sesuai jenisnya plastik, gelas plastik, kertas dan sisa makanan. Berbekal sebuah keranjang pengomposan milik tim lingkungan SMKN 1, Anggriyan mengajak mereka untuk praktek langsung mengolah sisa makanannya. “Ayo Adik-Adik siapa yang mau bantu kakak mengolah sisa makanan ini?” tanya Anggriyan.

Bagus Narayana, siswa SDN Kaliasin 3 mencoba mempraktekkan sendiri cara mengolah sampah sisa makanan menggunakan keranjang yang sering disebut takakura itu. Tidak terlihat rasa jijik dari mimik wajahnya saat mengaduk dan memasukkan sisa makanan ke dalam media pengomposan itu. “Kalau belajar itu tidak boleh takut kotor. Apalagi saya belum pernah membuatnya, maka dari itu, saya akan menerapkan pembuatan kompos ini di sekolah,” ucap Bagus, siswa peraih best student dalam workshop hari itu.

Dalam pelaksanaan workshop di hari kedelapan ini, beberapa penghargaan yang diberikan kepada individu-individu yang aktif adalah best student, best teacher, best school dan best yel-yel. Di akhir workshop ditutup dengan penampilan yel-yel lingkungan dari masing-masing sekolah. (ryan)