Kader LH SMKN 1 Ajari Pengomposan Peserta Workshop I Surabaya Eco School Hari 4

Surabaya- Tidak semua sekolah dasar memiliki tim lingkungan. Fakta tersebut muncul dalam workshop hari keempat Surabaya Eco School 2012 yang dilaksanakan di aula SMKN 1 Surabaya, Senin (10/9). Sebagian besar sekolah dasar mengaku selama ini pelaksana kegiatan lingkungan adalah siswa kelas. Seperti yang disampaikan oleh Yurita Dita, guru SDN Wiyung 1. 

“Di Sekolah kami, kegiatan lingkungan hidup dilakukan oleh siswa yang ada di kelas, meliputi perangkat kelas seperti ketua kelas dan wakilnya. Kami tidak punya tim lingkungan,” tutur Yurita. Berbeda dengan SDN Karah 3 yang mengaku sudah mempunyai tim atau kader lingkungan di sekolah sejak tahun lalu. “Kami sudah memiliki kader lingkungan dan anggotanya adalah siswa yang sebagian besar ikut Pramuka,” ucap Wahyu Tri Astuti, guru SDN Karah 3.

Keberadaan tim lingkungan menjadi hal yang penting dalam menjalankan program lingkungan di sekolah. Seperti yang diungkapkan Anggriyan Permana, aktivis Tunas Hijau dan direktur pelaksana Surabaya Eco School 2012, bahwa tim lingkungan bisa menjadi penggerak bagi siswa lainnya dalam menjaga lingkungan sekolah.

Pengolahan sampah organik menjadi kompos

”Membentuk tim lingkungan adalah hal pertama yang harus dilakukan sekolah. Tim lingkungan bisa terdiri dari siswa, guru, karyawan sekolah dan orang tua siswa,” terang Anggriyan. Dalam workshop ini, sedikitnya 113 orang terdiri dari 76 siswa dan 37 guru menjadi peserta. Antusiasme mereka dalam memperhatikan penjelasan mekanisme pelaksanaan program Surabaya Eco School nampak sangat tinggi. Terbukti dari banyaknya pertanyaan dan tanggapan yang disampaikan.

“Dalam pelaksanaan Surabaya Eco School 2012, sekolah diminta untuk membuat program lingkungan dan menentukan program lingkungan unggulan sekolah,” ujar Anggriyan. Dalam workshop ini, peserta tidak hanya mendapatkan pembekalan materi, melainkan mendapatkan praktek langsung mengenai pengolahan sampah basah atau organik.

Praktek langsung ini berlangsung tepat setelah peserta makan siang, yang pasti ada sisa makanan dari peserta yang terbuang. Bertempat di halaman depan SMKN 1, aktivis Tunas Hijau Purbo Sari mengajarkan cara mengolah sampah basah  seperti sisa makanan menjadi kompos menggunakan keranjang pengomposan.

“Keranjang takakura ini untuk membuat pupuk kompos dari bahan sisa makanan yang tadi kalian makan. Nah, prosesnya adalah dengan membuat lubang di dalam keranjang pengomposan yang dipenuhi kompos, kemudian baru masukan sisa makanan dan ditutup dengan kompos di dalam keranjang,” terang Sari, aktivis perempuan Tunas Hijau.

Sari memberikan kesempatan kepada Zidan Jomalik  dan Althon, siswa SDN Wiyung 1, untuk mencoba mempraktekan sendiri. Terlihat kedua orang siswa tersebut bersemangat untuk memasukkan sisa makanan ke dalam keranjang pengomposan itu. Tidak terlihat raut muka jijik saat mengolah sisa makanan untuk menjadi kompos tersebut.

“Kami senang sekali bisa mencoba membuat kompos. Kami akan mempraktekkannya di sekolah karena kami juga punya keranjang pengomposan seperti ini, namun tidak digunakan karena tidak ada yang bisa,” ujar Zidan, siswa kelas 5 ini. Tidak hanya praktek membuat kompos dengan media keranjang pengomposan saja, 76 orang siswa dan 37 orang guru ini juga diajak untuk membuat kompos dengan tong aerob, fasilitas pengolahan sampah milik SMKN 1.

Saat praktek itu,mereka didampingi oleh Tunas Hijau dan Maria, kader lingkungan hidup SMKN 1. Maria menjelaskan bahwa pembuatan kompos dengan media tong aerob ini bahan dasarnya adalah daun kering yang berguguran di sekolah. “Cara mengolahnya sangat mudah, tinggal memasukkan daun kering ke dalam tong aerob ini, tapi sebelumnya daun kering harus diremes-remes menjadi kecil dulu,” jelas Maria, siswa kelas XII akutansi. (ryan)