Monumen Bukti Bakti LH, Hutan Sekolah, Pemanfaatan Air Bekas Wudhu Dan Lubang Resapan Ala SMPN 14

Surabaya- Tidak sedikit program lingkungan hidup yang digagas oleh SMPN 14 pada program Surabaya Eco School 2012. Yang paling unik adalah pemberian penghargaan kepada siswa mereka yang memenuhi kriteria sebagai pengabdi lingkungan hidup di sekolah. Nama program ini adalah Monumen Bukti Bakti Lingkungan Hidup. 

Kader eco school SMPN 14 memanfaatkan lubang resapan untuk mengolah sampah organik menjadi kompos

“Monumen Bukti Bakti Lingkungan Hidup bukan karena nama kepala sekolah kami ialah Bu Bakti, lho. Monumen ini untuk memberi apresiasi kepada siswa yang memberikan kontribusi yang besar pada program lingkungan hidup di sekolah ini,” ujar Santoso, guru pembina Eco School SMPN 14 Surabaya kepada Tunas Hijau saat pembinaan I Surabaya Eco School di sekolahnya, Rabu (26/9) siang. Program ini baru digagas sekitar sebulan lalu.

Monumen ini berupa dinding sekolah memanfaatkan salah satu sudut sekolah yang sebelumnya tidak terawat sebagai green house. “Nama siswa pengabdi lingkungan hidup dituliskan di dinding itu  beserta tahun pengabdian mereka. Saat ini baru dituliskan nama siswa pada 3 tahun masa pengabdian,” terang Santoso. Tahun pengabdian itu adalah 2009-2010, 2010-2011, dan 2011-2012.

Kepala SMPN 14 Bakti Rahajeng juga menjelaskan bahwa sekolahnya juga akan melanjutkan program hutan sekolah yang sudah mulai dirintis tahun lalu. “Pada program hutan sekolah ini, kami akan menambah jenis dan jumlah koleksi pohon yang dipelihara. Kami juga merencanakan pemanfaatan air bekas wudhu untuk penyiraman tanaman dan kolam ikan. Air bekas wudhu itu akan ditampung dalam bak atau tangki penyimpanan di dalam tanah untuk kemudian dimanfaatkan lebih lanjut,” ujar Bakti Rahajeng.

Sementara itu, pada pembinaan ini, Tunas Hijau mengajak kader-kader eco school SMPN 14 untuk melakukan optimalisasi lubang resapan biopori yang telah cukup banyak dibuat di lahan kosong sekolah ini. “Lubang resapan yang ada di sekolah kalian ini jumlahnya cukup banyak. Namun, bila dibandingkan dengan luas lahan sekolah yang bisa dimanfaatkan, jumlah lubang yang sudah dibuat tergolong sangat minim,” kata aktivis senior Tunas Hijau Mochamad Zamroni.

Santoso menunjukkan Monumen Bukti Bakti Lingkungan Hidup SMPN 14

Tunas Hijau juga meminta para siswa yang mengikuti pembinaan siang itu untuk memanfaatkan lubang resapan yang telah dibuat untuk media pengomposan sampah organik. “Seharusnya, lubang resapan yang telah dibuat ini tidak dibiarkan kosong. Tapi digunakan untuk mengolah sampah organik menjadi kompos. Bisa diisi dengan sampah dedaunan atau bahkan makanan sisa. Pengomposan ini sekaligus untuk memberi makanan kepada biota di dalam tanah,” terang Zamroni.

Sampah organik yang diolah menjadi kompos di dalam lubang resapan itu lebih lanjut akan mengundang cacing-cacing tanah. “Sehingga akan terbentuk rongga-rongga di dalam tanah yang kemudian berguna sebagai aliran peresapan air hujan di dalam tanah. Dengan demikian, banjir bisa diminimalkan, dan kandungan air bawah tanah semakin banyak,” ujar Zamroni.

Tentang program lubang resapan ini, Ketua OSIS SMPN 14 RR. Tasia Hanifah, siswa kelas 2, mengatakan bahwa dirinya merencanakan program 1 Pengurus OSIS 1 Lubang Resapan. Program ini sebagai wujud keteladanan pengurus OSIS SMPN 14 kepada siswa yang lainnya. “Jadi setiap pengurus OSIS diminta membuat minimal 1 lubang resapan di sekolah ini. Kami akan merealisasikan ini dalam waktu satu pekan ini,” ujar Tasia yang mendapat pujian dari Tunas Hijau atas gagasannya itu.

Sementara itu, beragam program lingkungan hidup yang lainnya juga direncanakan sekolah yang berlokasi di kawasan Benowo Surabaya barat ini. Program itu diantaranya bank sampah, taman sekolah + taman kupu-kupu, dan kolam budidaya ikan. Dalam beberapa hari ini, mereka juga merencanakan akan melakukan kampanye peduli lingkungan hidup kepada masyarakat sekitar sekolah. (ron)