Peserta Workshop SES Hari IX Dibawa Pada Kondisi Lingkungan Masa Depan

Surabaya- Andajani, guru pendamping SMPN 40 Surabaya terlihat menitihkan air mata saat melihat tayangan video kondisi lingkungan hidup masa depan. Pemutaran tentang krisis air tersebut mengawali pelaksanaan hari kesembilan Workshop I Surabaya Eco School di Gedung Wanita, Jl. Kaliboror Selatan, Sabtu (15/9). 

Peserta workshop hari kesembilan berdiskusi potensi lingkungan hidup sekolah masing-masing

Penuh haru, Andajani menceritakan makna tayangan dimana dalam video tersebut harga satu jerigen air lebih mahal dibandingkan dengan harga emas. “Yang membuat saya terharu adalah, saya terbawa cerita tayangan tersebut dan merasakan jika benar-benar air bersih tersebut menjadi langka di tahun ini. Bagaimana manusia beraktivitas kalau air bersih langka, diganti dengan air apa bila sudah begitu,” jelas Andajani sambil menyeka air mata.

Dengan memberikan gambaran kerusakan lingkungan dan fakta lingkungan yang terbaru, Tunas Hijau mengajak setiap sekolah yang menjadi peserta workshop untuk melakukan tindakan agar lingkungan yang digambarkan dalam video tersebut tidak terjadi di kehidupan nyata. “Melalui Surabaya Eco School ini, sekolah diminta untuk banyak melakukan tindakan atau kegiatan lingkungan di sekolah utuk mengurangi dampak sebenarnya dari kerusakan ingkungan yang sudah terjadi,” tutur Anggriyan Permana, aktivis Tunas Hijau.

Melalui workshop ini, peserta workshop yang berjumlah 129 orang untuk menuliskan potensi dan permasalahan lingkungan yang ada di masing-masing sekolah. Banyak diantara sekolah-sekolah peserta wokshop menyebutkan sampah menjadi permasalahan dan potensi yang dimiliki oleh masing-masing sekolah.

Seperti yang dijelaskan oleh Salsabila Widya, bahwa permasalahan sampah di sekolahnya bisa teratasi akibat adanya program bank sampah. “Dengan adanya bank sampah yng dibagi menjadi 4 teller, yakni sampah botol, sampah kertas, sampah gelas plastik dan sampah organik. Permasalahan sampah bisa teratasi hal tersebut didukung dengan partisipasi warga sekolah,” ucap Salsa siswi kelas 8 ini. A

dellia Mardi S.R, siswi SMPN 10, menyampaikan bahwa letak sekolah yang berada di dalam perkampungan dan lahan yang sempit, membuat masih banyaknya sampah plastik yang ada di sekolah belum bisa diolah. “Sedangkan untuk sampah sisa makanannya sudah bisa kami olah menggunakan keranjang pengomposan takakura untuk dijadikan kompos,” kata Adellia, siswi kelas 8 ini.

Selain banyaknya permasalahan dan potensi tentang sampah, beberapa sekolah lain mengutarakan potensi dan permasalahan tentang air di sekolah mereka. Seperti contohnya pemanfaatan air bekas wudhu dan air bekas AC untuk digunakan menyiram tanaman di sekolah. Selesai pemaparan potensi dan permasalahan lingkungan yang ada di sekolah, peserta yang terdiri dari 44 orang guru dan 85 orang siswa ini mendapatkan pengarahan tentang mekanisme pelaksanaan Surabaya Eco School 2012.

Sebagian besar sekolah yang mengikuti workshop adalah peserta Surabaya Eco School tahun lalu. Disampaikan oleh Satuman, aktivis Tunas Hijau, bahwa mekanisme pelaksanaan program SES ini hampir sama seperti tahun lalu, namun akan ada pembaharuan yang membuat beda dengan SES tahun lalu. Satuman mengingatkan setiap sekolah agar membuat program ingkungan yang memiliki target dan terukur. (ryan)