Pohon Jambu Monyet Dan Juwet Jadi Ciri Khas SMP Kartika IV-11

Surabaya- Panen jambu monyet mengawali pembekalan Surabaya Eco School di SMP Kartika IV-11, Rabu (5/9).  Melibatkan 20 siswa kader lingkungan, pembekalan ini diawali dengan memanen buah jambu monyet di sekolah. Buah jambu monyet yang termasuk jarang ditemui di Surabaya ini dipanen bersama guru, kader lingkungan dan purna kepala sekolah. Disampaikan oleh Kristalh Garmedi, purna kepala SMP Kartika IV-11, bahwa jambu monyet yang satu ini sering dipanen sendiri oleh siswa. 

“Ada lagi jenis jambu monyet yang rasanya manis, tetapi jarang sekali berbuahnya, harus menunggu untuk menikmatinya,” ujar Kristalh kepada Tunas Hijau. Letak buah yang tinggi membuat siswa kader lingkungan tampak kesulitan memetik buah jambu monyet, sehingga harus menggunakan bambu yang panjang untuk menjangkaunya.

Aktivis Tunas Hijau Purbo Sari memandu pembekalan Surabaya Eco School 2012 di green house SMP Kartika IV-11

“Ini bukan yang pertama kalinya, Kak. Kami panen buah jambu monyet ini sudah sering lho,”tutur Mega Putri Maharani, siswa kelas VIII. Selain pohon jambu monyet, pohon juwet atau jamlang juga menjadi ciri khas sekolah yang berada di daerah Komando Daerah Militer V Brawijaya ini. Pohon juwet ini menjadi kebanggaan warga sekolah karena pohon tersebut jarang ditemukan di Surabaya.

Melihat kesempatan itu, kader lingkungan sudah mulai melakukan pembibitan pohon juwet dan jambu monyet di sekolah. Reynanda, siswa kelas 9, menyampaikan bahwa bibit pohon juwet nanti rencananya akan kami bagikan kepada sekolah sekitar.

Dalam pembekalan Surabaya Eco School 2012 ini, beberapa program baru direncanakan oleh kader lingkungan sekolah ini. Targetnya menjadi sekolah terbaik pertama dalam Surabaya Eco School 2012. Purbo Sari, aktivis Tunas Hijau, mengatakan bahwa untuk bisa menjadi yang terbaik dibutuhkan lebih banyak kegiatan lingkungan yang inovatif lagi ketimbang kegiatan mereka tahun lalu. “Kalian harus bisa membuat sebanyak-benyaknya program lingkungan yang diikuti seluruh warga sekolah untuk bisa menjadi yang terbaik,” ujar Sari.

Beberapa program lingkungan pembiasaan masih dipertahankan seperti pemilahan sampah kering dan basah setiap harinya, penambahan tanaman budidaya di green house, penambahan lubang resapan biopori dan penambahan takakura untuk diletakkan di kantin sekolah.  Tidak hanya itu, menurut Puguh, guru pendamping, sekolah juga berencana untuk mengolah hasil bumi yang ada seperti jambu monyet, juwet dan mangga untuk dijadikan manisan buah. “Kami juga berencana membuat sirup dari buah-buahan tersebut dan membudidayakan untuk dibagikan kepada sekolah sekitar,” jelas Puguh kepada Sari.

Sampah-sampah yang ada di sekolah juga menjadi masalah. Terutama sampah plastik bungkus snack. Pengolahan sampah yang sudah ada juga akan ditingkatkan kembali. Selama ini pengolahan sampah yang ada di sekolah hanya dipisahkan sesuai jenisnya. Program untuk Surabaya Eco School 2012 sekolah tetap membahas tentang sampah, hanya saja akan memperbarui sistemnya.

Sampah kering yang terkumpul biasanya langsung dijual. Ke depan tidak hanya dijual tetapi juga akan diolah. “Kami baru saja menjual sampah plastic, Mas. Jadi sudah tidak ada lagi sampahnya, dan kami juga mencatat hasil penjualannya. Sekarang kami sedang berusaha untuk membuat kerajinan dari sampah plastik sehingga harga jualnya bisa lebih tinggi,” tutur Reynanda, siswa kelas IX. (sari/ryan)