SASA Ala SDN Kapasan V

Surabaya- Tanpa kantin sekolah, belum tentu bebas dari sampah, khususnya sampah plastik. Ungkapan tersebut disampaikan Tunas Hijau kepada Hartatik, guru SDN Kapasan V, pada pembinaan Surabaya Eco School di SDN Kapasan V/147, Selasa (25/9). ”Meskipun sekolah tidak mempunyai kantin, tapi kadang kala sekolah lupa dengan adanya pedagang makanan minuman di sekitar sekolah,” ujar Anggriyan Permana, aktivis Tunas Hijau dan direktur Surabaya Eco School. 

Siswa SDN Kapasan V merawat taman sekolah mereka

“Banyaknya sampah plastik yang ada di sekolah mungkin tidak lagi dikarenakan kantin, namun karena sumber sampahnya adalah pedagang kaki lima yang berada di depan sekolah,” tambah Anggriyan Permana. Ditambahkan Anggriyan bahwa sampah plastik bisa masuk ke sekolah karena siswa ketika istirahat dan kembali ke sekolah membawa jajanan dari luar yang berpembungkus plastik.

Untuk mengatasi permasalahan sampah ini, Hartatik mengaku akan segera berkoordinasi dengan kepala sekolah untuk mengadakan pertemuan dengan pedagang di sekitar sekolah. “Saya akan ngomong dulu ke Bapak (kepala sekolah), Mas, untuk mengadakan pertemuan dengan pedagang di luar sekolah. Siapa tahu Bapak bisa membuat kebijakan melarang sampah plastik di sekolah,” ujar Hartatik.

Di sekolah ini, tim lingkungan hidup sekolah yang diketuai Bambang, guru lainnya, menyatakan sudah membuat program lingkungan yang dibedakan menjadi 2, yakni program harian dan program mingguan. Dalam program harian ini, satu program terbilang unik dalam mengatasi permasalahan sampah di sekolah. SASA (Satu Salim Satu Sampah) merupakan program pembiasaan siswa sebelum memasuki ruangan untuk belajar.

Hartatik menyatakan setiap harinya setiap guru akan mengingatkan siswanya untuk menerapkan SASA sebelum memasuki ruangannya. “SASA ini akan kami lakukan setelah istirahat dan sebelum pulang. Khusus untuk sebelum pulang, siswa diminta membawa sampah sebelum keluar dari ruangan dan salim kepada guru yang di kelas,” jelas Bambang, salah seorang guru pendamping.

Di akhir pembinaan, Tunas Hijau mengajak 50 orang siswa yang tergabung dalam kader lingkungan untuk melakukan aksi nyata di sekolah. Beberapa kegiatan lingkungan pun dijalankan kelima puluh orang siswa dengan penuh semangat dan antusias tinggi ini.

Caranya, dengan membentuk kelompok sendiri-sendiri, kegiatan lingkungan yang mereka jalankan adalah menanam tanaman hias seperti mawar dan adenium, serta menyiram tanaman dengan memanfaatkan air bekas minuman siswa yang terbuang sia-sia. Mereka juga membersihkan selokan yang ada di depan sekolah.

“Ainur Nisa Aqilla mengaku tidak merasa jijik ataupun capek sedikitpun saat sedang menanam tanaman maupun saat membersihkan selokan di depan sekolah. “Saya tidak merasa jijik sedikit pun, Kak, malah saya bakal mengajak teman saya lagi untuk menjaga kebersihan dan peduli lingkungan di sekolah,” pungkas Ainur Nisa siswa kelas 5.