Simulasi Lomba Yel-Yel Dihadirkan Pada Workshop Hari 7 Surabaya Eco School

Surabaya- Aula SMKN 1 Surabaya mendadak ramai dengan nyanyian yel-yel lingkungan hidup. Tidak seperti workshop sebelumnya, workshop Surabaya Eco School hari ketujuh berlangsung lebih meriah, Kamis (13/9). Hal ini karena adanya simulasi lomba yel-yel lingkungan yang diselenggarakan Tunas Hijau. 

Pengomposan dengan tong aerob pada hari 7 Workshop Surabaya Eco School

Sebanyak 16 sekolah dasar yang terdiri dari 64 orang siswa dan 32 orang guru terlibat dalam simulasi ini. Menurut Satuman, aktivis Tunas Hijau, simulasi ini dilakukan agar setiap sekolah memahami pelaksanaan lomba yel-yel lingkungan yang sebenarnya. “Lomba yel-yel ini terbilang baru bagi sekolah dasar, maka dari itu simulasi ini untuk memberi gambaran kepada sekolah Anda,” kata Satuman.

Antusias dan semangat dari tim yel-yel tiap sekolah begitu besar. Meskipun lomba tersebut hanya sebagai simulasi saja. Mereka mulai menyiapkan yel-yel mulai dari membuat lirik lagu, membuat gerakan sampai meneriakkan jargon sekolah masing-masing. Salah satu contohnya adalah lirik lagu SDN Manukan Wetan I yang mengajak orang untuk membersihkan lingkungan lewat yel-yel.

“Ayo konco podo ngresiki lingkungan, supoyo sehat lingkungan nyaman, sampahne  yo dipilah-pilah, sing kering  melbu tong sampah kuning, sing basah melbu tong sampah  biru,” teriak  Aura Puspa, siswi kelas 5 SDN Manukan Wetan I ini.

“Ayo teman, kita membersihkan lingkungan. Supaya sehat lingkungan nyaman. Sampahnya juga dipilah-pilah, yang kering masuk tong sampah kuning, yang basah masuk tong sampah biru,” jelas Imam Rosadi mencoba menerjemahkan dalam bahasa Indonesia.  Dalam simulasi ini, SDN Gayungan berhak menjadi tim yel-yel terbaik.

Menurut Anggriyan, SDN Gayungan 3 bisa memadukan antara gerakan dan lagunya. “Ditambah lagi, mereka tidak membawa buku dan penampilannya atraktif,” jelas Anggriyan. Aktivis Tunas Hijau ini menambahkan sebagian besar penampilan masing-masing sekolah masih bergantung pada buku dan minimnya gerakan.

Tidak hanya simulasi yel – yel lingkungan saja, Tunas Hijau mengajak peserta workshop mengolah sampah basah sisa makanan dan daun kering. Banyaknya sampah sisa makanan  yang dihasilkan saat jam istirahat menjadi alasannya. Satuman, aktivis Tunas Hijau, yang memandu mengajak langsung siswa praktek mengolah sisa makanan menggunakan keranjang pengomposan yang sering disebut takakura itu. “Sisa makanan ini bisa diolah menjadi kompos menggunakan takakura, jadi bisa kalian terapkan di sekolah,” ucap Satuman.

Pengolahan sampah daun keringpun diberikan dalam workshop Surabaya Eco School ini. Anggriyan mengajak peserta workshop yang lainnya untuk mengolah sampah daun yang ada di SMKN 1. Dengan memanfaatkan fasilitas lingkungan tong komposter aerob milik sekolah, Anggriyan menjelaskan sampah daun yang notabene banyak ditemui di sekolah bisa diolah menjadi kompos.

“Sampah saun yang banyak di sekolah kalian, bisa diolah menjadi kompos. Caranya dengan mengumpulkan dedaunan tersebut untuk kemudian dimasukkan dalam tong pengomposan aerob seperti ini,” ujar Anggriyan. Selain itu, lanjutnya, kalau panen nanti hasilnya bisa digunakan untuk pemupukan tanaman di di sekolah tau bahkan bisa dijual. (ryan)