Sumokura & Lubang Resapan SDN Rungkut Menanggal I

Siswa SDN Rungkut Menanggal I sedang memasukkan sampah dedaunan ke dalam lubang resapan

Surabaya- Model pengomposan sampah organik dalam jumlah banyak ditunjukkan oleh Kepala SDN Rungkut Menanggal I Widya Lusia Mariana kepada Tunas Hijau sebelum pelaksanaan pembinaan lingkungan hidup Surabaya Eco School di sekolahnya, Selasa (25/9). Model pengomposan yang dimaksud diberi nama Sumokura, atau sumur takakura, yaitu model pengomposan mirip skala rumah tangga dengan keranjang, namun media yang digunakan ini berupa sumur tanpa air dan sampah dedaunan ditimbun di dalamnya. 

“Saya punya model pengomposan baru, yaitu Sumokura, Mas. Sampah daun dalam setahun pun bisa diolah dalam satu Sumokura ini,” kata Lusi, panggilan akrab Widya Lusia Mariana, kepada Tunas Hijau sambil menunjukkan model pengomposan yang dimaksud. Lusi mengaku bahwa cara pengomposan ini diilhami oleh pengomposan yang dilakukan oleh pengurus PKK di kelurahannya.

Aktivis Tunas Hijau memberikan pengarahan cara pengomposan sampah organik kepada siswa SDN Rungkut Menanggal I

Menanggapi hal tersebut, aktivis senior Tunas Hijau Mochamad Zamroni yang menjadi pembinaan lingkungan hidup Surabaya Eco School di sekolah itu memberikan apresiasi. “Bagus itu, Bu. Berarti ada banyak cara pengolahan sampah organik menjadi kompos yang dilakukan di sekolah ini,” tutur Zamroni setelah mendengarkan cara pengoperasian Sumokura.

Zamroni lantas menanyakan keberadaan lubang resapan biopori yang sebelumnya telah dilakukan di sekolah yang mendapatkan penghargaan kategori emas gerakan penghematan energi -Energy Challenge 2012- yang diselenggarakan Tunas Hijau. “Apakah lubang resapan biopori yang dibuat sekolah sudah dimanfaatkan untuk mengolah sampah organik?” tanya Zamroni.

Tanpa menunggu jawaban dari kepala sekolah yang mendapatkan penghargaan sebagai Kepala SD Terbaik Energy Challenge 2012, Tunas Hijau lantas menghampiri beberapa lubang resapan biopori yang telah dibuat di tepi lapangan sekolah. “Kenapa lubang resapan ini tidak diisi sampah organik untuk diolah menjadi kompos?” tanya Zamroni.

Lusi pun menyatakan tidak tahu bahwa lubang resapan biopori yang telah banyak dibuat oleh siswa dan gurunya seharusnya dimanfaatkan untuk mengompos sampah organik. “Lubang resapan biopori ini fungsinya sangat banyak, Bu. Selain untuk mencegah banjir dengan meresapkan sebanyak mungkin air hujan ke dalam tanah, lubang ini juga bisa digunakan untuk mengolah sampah organik menjadi kompos dan memberi asupan makanan kepada cacing dan satwa di dalam tanah lainnya,” terang Zamroni.

Media promosi lingkungan hidup Surabaya Eco School karya SDN Rungkut Menanggal I

Tidak lama berselang, begitu sekitar 40 siswa kader lingkungan hidup sekolah telah berkumpul dengan beberapa guru, Tunas Hijau mengajak para siswa itu untuk memasukkan sampah dedaunan yang telah terkumpul di dalam 1 tong tempat sampah. Tidak tanggung-tanggung, 1 tempat sampah dengan volume lebih dari 300 liter penuh sampah daun pun menjadi kosong setelah sampah dedaunannya dipindah ke dalam 6 lubang resapan biopori dalam waktu kurang dari 15 menit.

Setelah melihat efektifitas penggunaan lubang resapan biopori untuk mengolah sampah organik menjadi kompos, Lusi pun menyampaikan rencana sekolahnya untuk membuat lebih banyak lubang resapan. Lusi pun memberi tugas khusus pegawai khusus kebersihan sekolah untuk terus memilah sampah dedaunan. “Bila sampah dedaunan sudah banyak terkumpul, nanti kamu dan siswa bersama-sama mengolahnya dengan lubang resapan,” ujar Widya Lusia Mariana.

Surabaya Eco School 2012 adalah program lingkungan hidup berkelanjutan untuk sekolah-sekolah di Surabaya dengan tema Wujudkan Pola Hidup Ekonomi Hijau Sekolah. Program yang memadukan kompetisi dan pembinaan ini diselenggarakan oleh Pemerintah Kota Surabaya dan Tunas Hijau. Surabaya Eco School didukung oleh PT. Dharma Lautan Utama. (ron)