Tim Peserta Workshop Hari X SES Diajak Gunakan Media Komunikasi

Surabaya- “Bumiku Menangis”, itulah kata-kata yang terdapat dalam poster lingkungan yang dibuat oleh tim peserta workshop hari kesepuluh Surabaya Eco School dari SDN Bubutan 4. Dampak pemanasan global menjadi pembahasan materi dalam workshop yang diselenggarakan di aula SMKN 1 Surabaya, Minggu (16/9). 

Peserta workshop simulasi sosialisasi lingkungan menggunakan poster

Berbekal selembar kertas poster, setiap sekolah diminta untuk membuat media komunikasi tentang dampak pemanasan global dan mengenai Surabaya Eco School. Disampaikan oleh Anggriyan Permana, aktivis Tunas Hijau, bahwa melalui media komunikasi ini, sekolah bisa menyampaikan informasi yang mereka dapatkan dari workshop ini kepada seluruh warga sekolah masing-masing.

“Dengan menggunakan media komunikasi, kalian akan lebih mudah menyampaikan informasi tentang dampak pemanasan global ini kepada teman-teman kalian, maka dari itu media komunikasinya harus menarik,” papar Anggriyan. Contohnya karya Lativa Az-Zahra dan Tarrisa Nur, siswa SDN Bubutan 4 ini.

Melalui poster yang berjudul “Bumiku Menangis” ini, mereka ingin menyampaikan bahwa kondisi lingkungan di bumi saat ini dilanda bencana terus-menerus. “Bencana tersebut karena aktivitas manusia yang suka menebangi pohon, sehingga dampak pemanasan global menjadi semakin terasa. Makanya kita semua harus bertindak untuk mengurangi dampaknya,” terang Lativa saat melakukan paparan posternya.

Dampak pemanasan global ini menjadi salah satu faktor diselenggarakannya program lingkungan untuk sekolah-sekolah Surabaya Eco School 2012 ini. Dalam workshop ini, sebanyak 120 orang peserta yang terdiri dari 40 orang guru pendamping dan 80 orang siswa menyuarakan tentang potensi dan permasalahan lingkungan yang ada di sekolah masing-masing.

Diantaranya yang dipaparkan Meyrinda Tasya dan Zhefira, siswa SDN Dukuh Kupang 8. Potensi lingkungan yang ada di sekolah salah satunya adalah banyak lahan kosong yang belum dimanfaatkan dan banyaknya sampah gelas plastik di sekolah. “Kami berencana untuk memanfaatkan gelas plastik yang banyak untuk dijadikan ketrampilan daur ulang. Sebagian lagi akan kami jual untuk beli tanaman,” ucap Zhefira siswa yang menjadi best student dalam workshop hari itu.

Dalam workshop hari terakhir ini, setiap sekolah diminta untuk memaparkan potensi dan permasalahan sekolah terkait 3 isu lingkungan, yakni air, sampah dan keanekaragaman hayati. Tidak hanya itu, setiap sekolah juga diminta untuk membuat yel-yel dadakan sebagai simulasi lomba yel-yel lingkungan nanti.

Semangat dan antusias peserta workshop pun langsung tinggi untuk menyiapkan yel-yel lingkungan setiap sekolahnya. Lagu “Iwak Peyek” yang sedang populer pun diubah salah satu sekolah menjadi lagu yang bermuatan lingkungan dengan mengusung tema sampah. “Iwak peyek, iwak peyek nasi kelapa, sampai elek sampai tuek, SDN Jambangan 2 terus milah sampah,” seru Dina Alvania penuh semangat.

Meskipun mengalami perpindahan tempat workshop, dan diselenggarakan pada hari Minggu yang umumnya digunakan untuk hari keluarga, hal tersebut tidak menyurutkan semangat peserta workshop untuk mengikuti kegiatan workshop setiap sesinya. Hal ini dibuktikan dengan diberikannya penghargaan kepada individu terbaik dan sekolah terbaik. Penghargaan best student diraih oleh Zheffira dari SDN Dukuh Kupang 8, best teacher diraih oleh Sri Utaminingsih dari SDN Gading 1 dan best school diraih oleh SDN Pacar Keling 6. (ryan)