Efisiensi Lahan di SDN Dukuh Menanggal I

Surabaya- SDN Dukuh Menanggal I tidak pernah banjir saat hujan lebat turun. “Sekolah kami tidak pernah banjir, Kak. Tapi ada sedikit air yang ngecembeng di teras. Air itu dari lantai, Kak. trus airnya semuanya mengalir ke taman ini. Jadi, ya alhamdulillah sekolah tidak pernah banjir,” terang Panji,  siswa kelas V SDN Dukuh Menanggal I, kepada Tunas Hijau, saat pemantauan lingkungan hidup Surabaya Eco School, Jumat (30/11). 

Siswa SDN Dukuh Menanggal I Surabaya membuat lubang resapan biopori

Bangunan sekolah yang lebih tinggi dari jalan raya memang memiliki keuntungan tersendiri, karena bisa terbebas dari bahaya banjir. Jika bangunan yang dimiliki lebih tinggi dari jalan raya, tetapi halaman sekolah yang dimiliki sangat kecil. Kondisi inilah yang dimiliki oleh SDN Dukuh Menanggal I. Dengan kelebihan dan kekurangan mengenai bangunan dan fisik sekolah yang dimiliki, hal ini tidak menyurutkan pihak sekolah untuk menjadikan sekolah menjadi bersih dan hijau. Berbagai upaya dilakukan agar tercipta lingkungan yang diinginkan.

Walaupun sekolah tidak pernah mengalami banjir, tetapi pencegahan tetap harus dilakukan. Beberapa kader lingkungan membuat lubang biopori di taman sekolah yang dilansir sebagai tempat mengalirnya air dari genangan di teras sekolah. Hal ini dilakukan semata-mata sebagai pencegahan. Selain sebagai resapan air hujan yang menggenang. Lubang biopori juga berfungsi sebagai pengolahan kompos untuk sampah daun. Maklum, sekolah ini mempunyai lahan yang kecil dengan banyak pepohonan rindang. Karena banyaknya tanaman yang ada, maka banyak pula sampah daun yang dihasilkan. Sampah dedaunan ini yang dimanfaatkan untuk mengisi lubang biopori.

“Penghijauan menjadi fokus utama sekolah. Halaman sekolah memang sangat sempit tetapi setiap ada sudut yang kosong langsung kami manfaatkan untuk melakukan penghijauan. Seperti di lorong samping itu,” ujar Kepala SDN Dukuh Menanggal I Rurun Werdiani kepada Tunas Hijau. Bagian bawah ditanami TOGA. “Bagian atasnya kami membuat jaring laba-laba untuk menanam waluh kuning dan binahong dan lantainya kami memberi batu kerikil agar bisa dijadikan sebagai pijat refleksi,” ujar Werdiani.

Untuk sampah, kami langsung mengolahnya menjadi kerajinan anak-anak di kelas,” kata Rurun Werdiani. Tidak banyak sampah yang terlihat di sekolah, hanya satu atau dua sampah plastik yang masih tergelak tidak pada tempat sampah yang sesuai. Tidak banyak kata yang terucap. Jika terlihat ada sampah tergeletak sudah pasti langsung dipungut oleh warga sekolah yang melihatnya.

Surabaya Eco School 2012 adalah program lingkungan hidup berkelanjutan untuk sekolah-sekolah di Surabaya dengan tema Wujudkan Pola Hidup Ekonomi Hijau Sekolah. Program yang memadukan kompetisi dan pembinaan ini diselenggarakan oleh Tunas Hijau, Pemerintah Kota Surabaya dan PT Perusahaan Gas Negara (Persero) Tbk. Surabaya Eco School didukung oleh PT. Dharma Lautan Utama dan PPS Teflon Paint Protection. (sari)