Kostum Daur Ulang Berbentuk Kupu-Kupu Dan Lebah Marakkan Lomba Yel-Yel SD

Surabaya- Gangnam style, tarian asal negara Korea, saat ini sedang booming dibicarakan dan ditiru oleh masyarakat dunia karena gerakannya yang unik. Demam Gangnam Style pun melanda peserta  Lomba Yel-Yel Lingkungan Hidup Surabaya Eco School yang diselenggarakan Tunas Hijau di pendopo Taman Flora Bratang, Minggu (18/11). Pelaksanaan lomba tingkat SMA/SMK ini yel-yel lingkungan hidup ini merupakan pelaksanaan hari ketiga lomba yel-yel, setelah hari pertama untuk SMP dan hari kedua untuk SMA/SMK. 

Tim yel-yel SDN Kaliasin III

27 tim dari 27 SD meramaikan lomba yel-yel lingkungan ini. Banyak keunikan kostum yang berasal dari daur ulang sampah non organic, lirik pesan peduli lingkungan sampai pada gerakan unik yang dimunculkan. Dalam pelaksanaan lomba yel-yel lingkungan dihari terakhir ini, Gangnam Style seolah menjadi gerakan wajib bagi tim yel-yel  tiap sekolah menjadi salah satu tarian yang mereka bawakan pada saat tampil di panggung.

Pada pelaksanaan lomba yel-yel lingkungan hidup hari terakhir ini, berbagai macam keunikan kostum dimunculkan dari ide-ide kreatif peserta yel-yel. Seperti yang ditunjukkan oleh SDN Dukuh Menanggal 1 yang mengambil tema Keanekaraman Hayati dengan mengenakan kostum daur ulang maskot lebah berukuran besar dan dua buah kupu-kupu berukuran besar juga.

Selain menampilkan kostum bertema Keanekaragaman Hayati, tim yel-yel SDN Dukuh Menanggal I juga menggunakan alat daur musik ulang yang unik

Kostum lebah berwarna kuning bergaris hitam itu dikenakan oleh salah seorang guru, dengan memanfaatkan helm bekas sebagai kepala lebahnya. Begitu pula dengan kostum kupu-kupu raksasa yang sayap kupu-kupu tersebut terbuat dari kertas semen bekas yang diwarnai.  Kedua maskot binatang besar itu membuat suasana lomba yel-yel lingkungan menjadi semakin semarak.

Tidak hanya maskot lebah dan kupu-kupu saja yang unik, beberapa keunikan lagi muncul dari hal-hal kecil dan kostum sederhana yang pada pelaksanaan hari sebelumnya tidak dihadirkan. Diantaranya adalah adanya kostum celana yang terbuat dari glangsing dan topi yang terbuat dari daur ulang sampah plastik.

Menurut Satuman, aktivis Tunas Hijau yang juga video specialist, banyak sekali ide kreatif yang muncul pada pelaksanaan hari ketiga lomba yel-yel lingkungan ini. “Kami sangat mengapresiasi ide kreatif yang muncul hari ini dan beragam keunikan yang ada baik di kostum maupun di alat musik,” ujar Satuman salah satu juri dalam lomba yel-yel lingkungan hari ketiga.

Sementara itu, pada pelaksanaan  lomba yel-yel lingkungan ini, beberapa tim yel-yel pun menyedot perhatian tim juri untuk mengomentari alat msuik yang mereka pakai karena keunikannya. Salah satunya adalah munculnya bakiak sebagai salah satu alat musik pengiring,. “Umumnya bakiak digunakan sebagai alas kaki, namun kali ini digunakan sebagai alat musik pukul. Suaranya lumayan enak didengar juga,” tutur Anggriyan, aktivis Tunas Hijau yang menjadi juri dalam lomba hari ketiga tersebut.

Sayangnya keunikan tersebut seakan tertutupi dengan adanya penggunaan alat musik umum seperti gendang dan rebana sebagai alat musik pukul. “Sangat disayangkan ada penggunaan gendang dan rebana untuk alat musik yang sebenarnya tidak diperbolehkan digunakan di lomba ini. Sekolah seharusnya lebih memperhatikan untuk penggunaan alat musik dengan memanfaatkan barang bekas yang ada di sekolah,” imbuh Anggriyan.

Surabaya Eco School 2012 adalah program lingkungan hidup berkelanjutan untuk sekolah-sekolah di Surabaya dengan tema Wujudkan Pola Hidup Ekonomi Hijau Sekolah. Program yang memadukan kompetisi dan pembinaan ini diselenggarakan oleh Pemerintah Kota Surabaya dan Tunas Hijau. Surabaya Eco School didukung oleh PT. Dharma Lautan Utama dan PPS Teflon Paint Protection. (ryan)