Penerapan Zero Waste di SMAN 9

Surabaya- Pengolahan sampah telah dilakukan dengan serius di SMA Negeri 9, satu diantara 15 SMA/SMK terbaik Surabaya Eco School 2012. Pengolahan sampah yang dilakukan diantaranya dengan memilah sampah menjadi tiga jenis, yaitu sampah kertas, sampah plastik dan sampah organik. “Nyaris tidak ada sampah yang dibuang ke luar sekolah. Semuanya termanfaatkan dan diolah lebih lanjut,” ujar Kepala SMA Negeri 9 Surabaya Hari Sutanto kepada Tunas Hijau saat pemantauan Surabaya Eco School, Jumat (30/11). 

Kepala SMAN 9 Surabaya Hari Sutanto menunjukkan kompos dalam kemasan yang diproduksi warga sekolahnya.

Sampah organik khususnya sampah daun yang dihasilkan diolah menjadi kompos. “Kami mengoperasikan mesin pencacah sampah daun ini tiga kali dalam seminggu Pengoperasian mesin pencacah dilakukan setiap dua hari sekali,” terang Hari Sutanto sambil menunjukkan cara kerja mesin pencacah. Volume sampah organik yang dihancurkan dengan mesin pencacah itu sebanyak dua karung besar.

Pengolahan sampah organik menjadi kompos di SMAN 9 bahkan telah membuahkan hasil berupa kompos yang dijual kepada warga sekolah. Sebagian kompos yang dihasilkan juga digunakan untuk pemupukan tanaman yang ada di sekolah. “Satu kantong plastik kompos ini dijual dengan harga tiga ribu rupiah,” kata Hari Sutanto.

Pengomposan sampah organik juga dilakukan dengan menggunakan lubang resapan biopori yang banyak dibuat di hutan sekolah. Mengenai lubang resapan ini, Tunas Hijau menyarankan agar jarak antar lubang dibuat dengan kerapatan maksimal 1 meter. “Keindahan dan safety juga perlu diperhatikan dalam pembuatan lubang resapan biopori. Jangan sampai ada pipa yang keluar dari permukaan tanah seperti ini,” saran aktivis senior Tunas Hijau Mochamad Zamroni kepada kepala SMAN 9.

Lebih lanjut, Zamroni menyarankan agar lubang resapan biopori diprioritaskan dibuat di saluran khusus air hujan yang ada di sekolah. “Tujuannya, sebanyak mungkin air hujan ditangkap dan diresapkan ke dalam tanah. Sehingga kemungkinan banjir bisa diminimalkan,” terang Zamroni sambil menunjukkan saluran air yang bisa dibuat lubang resapan. “Semua kelas bisa dilibatkan dengan masing-masing kelas membuat 5 lubang. Tunas Hijau bisa meminjami banyak bor untuk merealisasikannya,” kata Zamroni.

Sementara itu, sampah plastik yang dihasilkan di sekolah selama ini telah diolah lebih lanjut melalui program bank sampah dan didaur ulang menjadi kerajinan. “Biasanya penjualan sampah plastik kepada bank sampah dilakukan setiap bulan sekali,” terang Hari Sutanto. Sedangkan sampah kertas sebagian dijual melalui bank sampah dan sebagian didaur ulang.

Surabaya Eco School 2012 adalah program lingkungan hidup berkelanjutan untuk sekolah-sekolah di Surabaya dengan tema Wujudkan Pola Hidup Ekonomi Hijau Sekolah. Program yang memadukan kompetisi dan pembinaan ini diselenggarakan oleh Tunas Hijau, Pemerintah Kota Surabaya dan PT Perusahaan Gas Negara (Persero) Tbk. Surabaya Eco School didukung oleh PT. Dharma Lautan Utama dan PPS Teflon Paint Protection. (ron)