Rumah Jamur Dioperasikan di SMPN 28

Surabaya- Wajah baru coba ditunjukkan SMP Negeri 28 dengan memperkenalkan kepada Tunas Hijau adanya Rumah Jamur di sekolah mereka. Seperti yang ditunjukkan Beatrice Santoso, siswa kader lingkungan kepada aktivis Tunas Hijau Anggriyan saat pembinaan lingkungan hidup Surabaya Eco School di sekolahnya, Selasa (20/11). 

Rumah Jamur SMPN 28 Surabaya

Rumah Jamur menjadi salah satu senjata baru bagi sekolah yang berada di daerah Lidah Wetan ini dalam menyambut babak baru 15 besar Surabaya Eco School. Beatrice menyampaikan bahwa dirinya senang sekali sekolahnya bisa masuk kedalam 15 besar Surabaya Eco School. “Perjuangan kami, kader lingkungan selama ini tidak sia-sia berarti, sampai kami harus kuat mental jika diomeli sama guru pembina kami,” ujar Beatrice, siswa kelas 8.

Rumah Jamur yang ditempatkan di dalam green house ini akan menjadi media pembelajaran lingkungan hidup bagi warga sekolah. Menurut Diamah, guru SMPN 28, sembari menunggu selesainya pengerjaan rumah jamur ini, dirinya akan membuat jadwal perawatan di rumah jamur. “Jadwal perawatan rumah jamur ini akan saya buat agar seluruh warga sekolah terlibat secara bergantian,” kata Diamah.

Perawatan tersebut diantaranya adalah dengan mengatur jadwal piket untuk penyiraman di dalam rumah jamur. Setiap kelas memiliki jadwalnya sendiri-sendiri. “Bagi kelas yang tidak menjalankan piket perawatan jamur ini akan diminta membawa tanaman, atau menggantinya dengan jamur,” lanjut Diamah kepada Tunas Hijau.

Tidak hanya Rumah Jamur, beberapa program seperti Adopsi Tanaman dan Bank Sampah menjadi senjata tambahan bagi sekolah ini dalam menyambut 15 besar Surabaya Eco School. Bahkan untuk program Bank Sampah ini, uniknya di beberapa bank sampah milik sekolah lain penjualan hasil nasabah bank sampah dilakuakan setiap satu sampai dua minggu sekali.

Kemudian teller bank sampah mereka berani membayar langsung sampah yang mereka setorkan. “Kami selaku teller Bank Sampah SMPN 28 menerima apapun jenis sampah yang mereka tabung asalkan masih untuh kondisi. Setiap kilogram dari sampah yang dihasilkan sekolah akan diberi harga jual kepada siswa 1000 rupiah per kilogram,” ujar Beatrice.

Dengan banyaknya sarana prasarana lingkungan hidup di sekolah, seperti takakura, komposter, green house dan rumah jamur, diharapkan menjadi modal yang cukup untuk menggapai predikat sekolah terbaik Surabaya Eco School 2012 alias menjadi juara 1 Surabaya Eco School 2012. “Kami ingin menjadi juara pertama Surabaya Eco School 2012 dan mengajak banyak orang lain lagi peduli terhadap lingkungan,” lugas Beatrice, yang juga siswa kelas 9.

Surabaya Eco School 2012 adalah program lingkungan hidup berkelanjutan untuk sekolah-sekolah di Surabaya dengan tema Wujudkan Pola Hidup Ekonomi Hijau Sekolah. Program yang memadukan kompetisi dan pembinaan ini diselenggarakan oleh Tunas Hijau, Pemerintah Kota Surabaya dan PT Perusahaan Gas Negara (Persero) Tbk. Surabaya Eco School didukung oleh PT. Dharma Lautan Utama dan PPS Teflon Paint Protection. (ryan)