SDN Karah III Tambah Jumlah Lubang Resapan Lagi

Siswa dan guru SDN Karah III menambah lubang resapan di depan sekolah setelah banyak lubang resapan yang dibuat di dalam sekolah

Surabaya- Jumlah lubang resapan biopori yang ada di SDN Karah III mencapai 25 buah. Namun, jumlah sebanyak ini belum juga tidak menyurutkan semangat Dyah Widyastuti dan teman-temannya untuk menambah lubang baru di sekolah. Bersama dengan Tunas Hijau saat menggelar pembinaan lingkungan hidup Surabaya Eco School di sekolahnya, Kamis (29/11), Widyastuti, siswa kelas 4 ini lantas mengajak teman-temannya yang lain. 

Menurut Dyah Widyastuti, dirinya sudah lama ingin memperbanyak jumlah lubang resapan biopori di sekolah. “Kadang–kadang ketika turun hujan masih ada di beberapa sudut sekolah yang masih tergenang air. Makanya kami ingin menambah lubang biopori lagi, Kak,” ujar Dyah Widyastuti peraih penghargaan Eco Student of the Week.

Keinginan kader lingkungan untuk menambah jumlah luang resapan biopoi di sekolah pun setali tiga uang dengan guru pembina lingkungan hidup, Wahyu Tri Astuti, yang menyampaikan pasca workshop kedua minggu lalu di SMAN 16, dirinya mensosialisasikan hasil workshop kepada Kepala SDN Karah III Siti Rahmawati bahwa sekolah mendapatkan bantuan satu lagi alat resapan biopori.

“Ibu kepala sekolah sangat antusias untuk menambah jumlah lubang biopori lagi. Bahkan tidak mau menunda waktu Sabtu depan dipilih untuk membuat lubang biopori,” tutur Wahyu Tri Astuti. Tidak menunggu waktu lama, Wahyu Tri Astuti kemudian mengajak Dyah Widyastuti dan kader lingkungan lainnya untuk membuat lubang resapan biopori satu lagi di luar sekolah.

Dengan membawa 2 lubang resapan biopori, Rania Almanda bersama teman-temannya memilih tempat di depan sekolah untuk dibuat lubang bioporinya. ”Kak, biasanya disini sering tergenang airnya meskipun tidak turun hujan. Kalaupun airnya berasal dari air bekas siram tanaman warga disini kak,” cetus Rania Almanda siswa kelas 4. Dengan bantuan linggis, Tri Yanto salah seorang guru membantu mengangkat paving yang ada di dekat area genangan air tersebut.

Setelah paving terbuka, dengan cekatan Zulfi Zulfikar memutar mata bor searah jarum jam untuk memperdalam lubang biopori. Sementara Rania Almanda dan kader lingkungan putri semangat mencari daun-daun kering untuk dimasukkan ke dalam lubang resapan biopori yang baru jadi tersebut.” Semoga dengan adanya lubang resapan biopori baru ini, jalanan di depan sekolah sudah tidak ada yang tergenangi air lagi,” tutur Wahyu Tri Astuti.

Surabaya Eco School 2012 adalah program lingkungan hidup berkelanjutan untuk sekolah-sekolah di Surabaya dengan tema Wujudkan Pola Hidup Ekonomi Hijau Sekolah. Program yang memadukan kompetisi dan pembinaan ini diselenggarakan oleh Tunas Hijau, Pemerintah Kota Surabaya dan PT Perusahaan Gas Negara (Persero) Tbk. Surabaya Eco School didukung oleh PT. Dharma Lautan Utama dan PPS Teflon Paint Protection. (ryan)