Elisabeth Andrianingtias, Guru SMKN 10 Surabaya Peraih Eco Teacher (Senior) of the Year 2012

Elisabeth Andrianingtias, guru SMKN 10 Surabaya peraih penghargaan Eco Teacher (Senior) of the Year 2012. Elisabeth memilih memindah pohon di tempat lain, sebesar apapun pohon itu, daripada menebangnya.

Berhasilnya SMKN 10 mengukuhkan diri sebagai jawara Surabaya Eco School 2012 tidak lepas dari peran Elisabeth Andrianingtias. Guru pembina eco school SMKN 10 ini, peraih penghargaan Eco Teacher of the Year 2012 kategori SMA/SMK, getol menyuarakan dan mengajak siswa, rekan kerja bahkan petugas kebersihan untuk peduli terhadap lingkungan sekolah.

Sejak tahun 1995, Elisabeth sudah meletakkan pondasi peduli lingkungan kepada siswanya, dengan cara melakukan perawatan setiap hari dengan menyiramnya. Selain itu, dia juga memotori pemberian nama latin dan manfaat dari setiap pohon yang dirawat di SMKN 10. Menurut Elisabeth, mengajak siswa untuk peduli lingkungan itu harus terlebih dahulu mengenalkan kepada mereka seperti apa lingkungan itu. ”Salah satu caranya dengan melakukan labelisasi pohon-pohon ini,” ucap Elisabeth.

Baginya, tidak ada yang kata terlambat untuk membuat lingkungan menjadi lebih baik. Itulah ungkapan yang sering diucapkan Elisabeth saat mengajak siswanya untuk mencintai lingkungannya. Salah satu bentuk cintanya adalah dengan merealisasikan pembuatan lubang resapan biopori sebanyak 350 lubang resapan biopori baru.

Lubang tersebut dibuat dalam kurun waktu 5 hari dengan melibatkan seluruh warga sekolah. Elizabeth menyampaikan bahwa setiap harinya, sedikitnya 70 lubang resapan biopori dibuat oleh siswa di sekolah. ”Salah satunya adalah dibuat oleh siswa yang datang terlambat. Sebagai sanksinya harus membuat 2 lubang resapan biopori,” ujar Elisabeth. Sedangkan untuk pengisian bioporinya, Elisabeth meminta petugas kebersihan supaya memasukkan daun kering ke dalam lubang biopori, ketika mereka membersihkan sekolah.

Sementara itu, program bank sampah yang sudah berjalan hampir 2 tahun ini, masih menjadi satu pembiasaan yang dikenalkan Elisabeth kepada siswanya. Elisabeth menjelaskan bahwa bank sampah berguna untuk mengurangi jumlah sampah non organik atau sampah kering di sekolah, khususnya botol, gelas dan kertas.

Elisabeth bersama guru dan siswa SMKN 10 Surabaya memberi makan ikan di kolam sekolah

“Selain bisa mengurangi volume sampah non organik tersebut, saya memberitahukan kepada anak-anak bahwa dengan bank sampah mereka belajar untuk berwirausaha lingkungan,” jelas Elisabeth. Setiap harinya, masing-masing ketua kelas menyetorkan sampah non organiknya kepada petugas bank sampah. Setiap bulan sekali, sampah yang ada di bank sampah tersebut dijual.

Hasil penjualan dari bank sampah tersebut digunakan oleh Elisabeth dan tim eco school SMKN 10 untuk mendanai kegiatan lingkungan sekolah yang lainnya. Diantaranya urban farming atau lebih mereka kenal kebun sayur di belakang sekolah. Setiap pulang sekolah, kader lingkungan terbiasa untuk merawat tanaman sayur yang ada dikebun ini, diantaranya sawi, kangkung, bayam, terong dan cabai.

Elisabeth mengatakan bahwa kebun sayur milik sekolah ini sudah panen beberapa kali. ”Sayangnya, hasil panen sayuran tersebut tidak kami jual, melainkan kami bagikan kepada seluruh warga sekolah, termasuk guru-guru dan penjaga sekolah,” kata Elisabeth. Lebih lanjut, Elisabeth merasa senang karena sekolahnya baru saja memiliki hutan sekolah baru.

Surabaya Eco School 2012 adalah program lingkungan hidup berkelanjutan untuk sekolah-sekolah di Surabaya dengan tema Wujudkan Pola Hidup Ekonomi Hijau Sekolah. Program yang memadukan kompetisi dan pembinaan ini diselenggarakan oleh Tunas Hijau, Pemerintah Kota Surabaya dan PT Perusahaan Gas Negara (Persero) Tbk. Surabaya Eco School didukung oleh PT. Dharma Lautan Utama, PPS Teflon Paint Protection dan Bank Jatim. (ryan)