Lidya Yemima, Siswa SMPN 36 Surabaya Peraih Eco Student (Junior) of the Year 2012

Lidya Yemima, ketua OSIS SMPN 36 Surabaya peraih penghargaan Eco Student (Junior) of the Year 2012

Lidya Yemima, peraih penghargaan Eco Student of the Year 2012 kategori SMP, ini tidak mengeluh capek menjadi pioner eco school di sekolahnya, SMPN 36 Surabaya. Meskipun, dia juga menjabat ketua OSIS, siswa kelas 8 ini juga menjabat sebagai ketua tim eco school SMPN 36. Di mata anggota tim eco school lainnya, sosok Lidya Yemima aktif mengeluarkan ide-ide lingkungan yang menjadi program lingkungan sekolah. Diantaranya mengenai pengelolaan sampah di sekolah.

Menurut Yemima, sampah di sekolahnya diolah menjadi tiga hal, yakni untuk keterampilan daur ulang, pengomposan dan dijual melalui bank sampah. “Kami sudah menghasilkan kompos dari sampah daun yang diisikan ke dalam lubang resapan biopori. Kami bisa menghasilkan lebih dari 5 kilogram sekali panen,” ujar Yemima.

Sebanyak 360 lubang resapan biopori yang sudah tertanam di sekolah membawa keuntungan tersendiri bagi Yemima dan timnya. Mereka bisa memanen kompos yang ada di dalam lubang biopori. ”Kami bisa memanen kompos setiap dua minggu sekali, karena setiap harinya secara bergantian anggota tim eco school mengisi lubang biopori dengan sampah daun yang banyak ditemui di sekolah,” ujar Lidya Yemima.

Tidak hanya pengomposan, sampah yang diolah menjadi ketrampilan daur ulang juga menjadi satu kompetisi khusus bagi setiap kelas. Setiap kelas dibebaskan untuk membuat keterampilan dari daur ulang sampah plastik. ”Bagi kelas yang dengan ketrampilan terbaik mendapatkan penghargaan dari sekolah,” ucap Yemima.

Lidya Yemima (kedua dari kiri) bersama teman-temannya mengecek pemilahan sampah di sekolahnya

Ada beberapa program lingkungan sekolah yang berada di daerah Kebonsari ini terbilang unik. Salah satunya adalah kompetisi wirausaha bagi setiap kelas dengan mengolah sampah botol yang dihasilkan di kelas. ”Setiap Jumat, setiap kelas akan menjual hasil kreasi pemanfaatan dari sampah botol tersebut kepada siswa lainnya. Hal tersebut dilakukan secara bergantian setiap kelasnya. Itu belum termasuk botol yang harus dikumpulkan untuk Bank Sampah sekolah,” tutur Lidya Yemima.

Tidak hanya permasalahan sampah, Lidya Yemima menyampaikan bahwa sekolahnya mempunyai kolam ikan lele yang ditempatkan ke dalam sumur bekas yang sudah tidak dipakai. “Ada sedikitnya 2000 benih ikan lele, yang setiap harinya kami rawat. Dan ketika memasuki masa panen lele, kami bisa menjual lele tersebut seharga 6.000 per kilogrramnya,” jelas Lidya Yemima.

Dilain sisi, media pembelajaran lingkungan seperti green house, hutan sekolah dan pembibitan menjadikan Lidya Yemima bisa leluasa mengelola fasilitas lingkungan tersebut. Menurut Yemima, masih ada lahan kosong di belakang sekolah yang akan direalisasikan untuk hutan sekolah.

”Ibu kepala sekolah dan pembina lingkungan ingin memanfaatkan lahan kosong di belakang untuk tanam pohon bersama, dan sekolah sudah menyiapkan 40 pohon untuk ditanam,” kata Lidya Yemima kepada Tunas Hijau. Diantara hal unik yang pernah dilakukan Lidya Yemima dan timnya adalah dengan mengambil sampah organik yang ada di Pasar Pagesangan dekat sekolah hingga berhasil mengumpulkan 19 karung untuk diolah dengan lubang biopori.

Surabaya Eco School 2012 adalah program lingkungan hidup berkelanjutan untuk sekolah-sekolah di Surabaya dengan tema Wujudkan Pola Hidup Ekonomi Hijau Sekolah. Program yang memadukan kompetisi dan pembinaan ini diselenggarakan oleh Tunas Hijau, Pemerintah Kota Surabaya dan PT Perusahaan Gas Negara (Persero) Tbk. Surabaya Eco School didukung oleh PT. Dharma Lautan Utama, PPS Teflon Paint Protection dan Bank Jatim. (ryan)