Suzy Ekowati, Guru SMPN 21 Surabaya Peraih Eco Teacher (Junior) of the Year 2012

Suzy Ekowati, guru SMPN 21 Surabaya peraih penghargaan Eco Teacher (Junior) of the Year 2012. Tanaman bunga sepatu menjadi maskot sekolahnya

Tanpa mengenal lelah, Suzy Ekowati, guru pembina eco school SMPN 21, peraih penghargaan Eco Teacher of the Year 2012 kategori SMP, ini mengajarkan kepada warga sekolah, yaitu siswa, guru-guru maupun karyawan tentang pemilahan sampah. Hal ini dikarenakan adanya kebijakan sekolah tentang pendaur-ulangan sampah plastik. Tentang pemilahan sampah, Suzy Ekowati tidak lagi merasa kerepotan karena sudah ada bank sampah di SMPN 21.

Bank Sampah yang dibedakan menjadi 3 jenis ini diantaranya teller 1 untuk sampah plastik botol dan gelas, teller 2 untuk sampah plastik, mika, bungkus makanan dan teller 3 untuk sampah kertas. ”Sampah yang sudah terkumpul pada teller satu dan teller dua itu akan dipilah lagi menjadi barang yang bisa dipakai dan memiliki nilai jual tinggi,” ujar Suzy Ekowati kepada Tunas Hijau.

Lebih lanjut, dalam hal daur ulang sampah plastik, sekolah yang terletak di daerah Jambangan ini, menjalin kerjasama dengan PKK Jambangan untuk memberi pelatihan kepada siswanya membuat keterampilan daur ulang yang bernilai ekonomis tinggi. Suzy Ekowati menyampaikan bahwa setiap pekan, siswanya mendapat tambahan keterampilan mendaur ulang sampah plastik.

Suzy Ekowati (berkerudung) bersama beberapa siswa SMPN 21 Surabaya membuat lubang resapan di sekolahnya

”Hanya dengan modal 50.000 rupiah, anak-anak bisa menghasilkan ketrampilan daur ulang seharga 400.000 jika diuangkan,” ujar Suzy Ekowati. Dalam kegiatan tertentu, keterampilan siswa dipamerkan kepada tamu-tamu sekolah dan tidak jarang ketrampilan siswa tersebut diminati oleh tamu sekolah. “Keterampilan siswa terkadang kalau dipamerkan ada yang sampai ditawar dan disarankan untuk dilelang,” kata Suzy Ekowati.

Khusus sampah organik, Suzy Ekowati telah menemukan salah satu solusi untuk mengurangi volume sampah organik yang sebelumnya hanya dikumpulkan di bank sampah pada teller 4. Yakni adanya satu program terbaru yang dimunculkan oleh Suzy Ekowati, yaitu  “Satu Kelas Satu Takakura”.

Pada program ini, setiap kelas mempunyai tanggung jawab untuk mengolah sampah organik yang dihasilkan oleh kelasnya masing-masing. “Bila semua takakura ini dipanen bersama, maka kami akan mendapatkan sedikitnya 400.000 rupiah jika kompos hasil tersebut dijual kepada guru-guru dan wali murid,” kata Suzy Ekowati.

Di SMPN 21, Suzy Ekowati memegang peranan vital dalam pengelolaan lingkungan hidup. Banyak tantangan yang dihadapi Suzy Ekowati demi tujuan membuat warga SMPN 21 semakin peduli lingkungan. Perjalanan Suzy Ekowati untuk membuat sekolah lebih ramah lingkungan tidak selalu mulus. Beberapa hambatan pun datang dari pihak lain.

Suzy menceritakan bahwa selama menyosialisasikan tentang pemilahan sampah di sekolah, hambatannya ada pada guru yang masih suka membuang sampah tidak pada tempatnya sesuai dengan teller yang berlaku.

”Ya meskipun sudah membuang sampah di tempat sampah, tetapi kebijakan di sekolah adalah adanya bank sampah berarti harus dipilah. Tetapi yang ada tidak dipilah dan pergi saja,” jelas Suzy. Melihat hal tersebut, tanpa banyak berkata Suzy Ekowati mengambil sampah tersebut dan dibuang sesuai dengan tellernya. Tidak jarang Suzy menegur secara langsung guru lain yang kedapatan melanggar aturan pemilahan sampah melalui teller yang ada.

Surabaya Eco School 2012 adalah program lingkungan hidup berkelanjutan untuk sekolah-sekolah di Surabaya dengan tema Wujudkan Pola Hidup Ekonomi Hijau Sekolah. Program yang memadukan kompetisi dan pembinaan ini diselenggarakan oleh Tunas Hijau, Pemerintah Kota Surabaya dan PT Perusahaan Gas Negara (Persero) Tbk. Surabaya Eco School didukung oleh PT. Dharma Lautan Utama, PPS Teflon Paint Protection dan Bank Jatim. (ryan)