Widiyastuti, Siswa SDN Karah III Surabaya Peraih Eco Student (Elementary) of the Year 2012

Widiyastuti, siswa SDN Karah III Surabaya Peraih Eco Student (Elementary) of the Year 2012

Mengajak orang lain untuk melakukan pemilahan sampah tidak selalu mudah. Hal tersebut yang dialami Widiyastuti, siswa SDN Karah 3, dalam menyuarakan peduli lingkungan kepada teman-temannya. Secara perlahan, Widiyastuti mengajak teman-temannya untuk peduli lingkungan seperti mengajak mereka membuang sampah di tempatnya, kemudian baru dipilah sesuai dengan jenisnya.

”Mengajak teman-teman di kelas itu harus dengan dicontohkan dulu, kemudian diajak untuk memilah. Susah sih sebenarnya tetapi harus sabar dan selalu senyum dengan mereka,” kata Widiyastuti, siswa kelas 5. Tidak jarang Widiyastuti mengajak mereka untuk memilah sampah dengan cara sosialisasi dari kelas ke kelas.

Sosialisasi ke kelas-kelas dilakukan Widiyastuti dengan membawa tempat sampah terpilah yang ada di depan kelas. Menurut Widiyastuti, meskipun setiap hari sekolah sudah ada program pemilahan sampah, tetapi banyak siswa yang masih belum mengerti benar tentang pemilahan sampah. Bersama dengan tim lingkungan hidup eco school sekolahnya, Widiyastuti melakukan demo pemilahan sampah di sekolah.

Siswa kelas 5 peraih penghargaan Eco Student of the Year 2012 kategori SD ini menjelaskan tentang pemilahan sampah kepada teman-temannya. ”Sampah di sekolah itu dipilah menjadi dua, yaitu sampah basah dan kering. Sampah basah itu contohnya sisa makanan dan daun kering, sedangkan sampah kering adalah sampah botol, kertas, plastik dan bungkus makanan. Kalau ada plastik es yang basah ya masuk sampah kering bukan sampah basah, meski plastiknya basah. Sebelumnya, airnya disiramkan dulu ke tanaman,” jelas Widiyastuti.

Bersama dengan kader lingkungan lainnya, banyak kegiatan lingkungan yang sudah pernah dilakukan di sekolah. Diantaranya adalah pembuatan lubang resapan biopori, pemilahan sampah, membuat ketrampilan daur ulang dan membuat kompos. Disampaikan oleh Widiyastuti bahwa dalam pembuatan lubang resapan biopori, sebanyak 25 lubang biopori sudah tertanam di sekolah.

Widiyastuti bersama teman-temannya memilah sampah di sekolah

“Dari 25 lubang biopori, setiap satu bulan sekali kami selalu menambah jumlah lubang bioporinya. 25 biopori itu kami rawat setiap harinya. Setelah pulang sekolah biasanya kami memasukkan sampah daun ke dalam lubang resapan biopori. Kompos dari sampah dedaunan yang telah membusuk lantas bisa dipanen setelah sekitar 5 minggu,” jelas Widiyastuti kepada Tunas Hijau.

Tidak hanya biopori, pengomposan menggunakan keranjang komposter juga diterapkan dalam kegiatan piket lingkungan di sekolah. Menurut Widiyastuti, tim eco school sekolahnya setiap hari mempunyai jadwal untuk merawat  keranjang komposter yang berjumlah 3 itu.

”Selama satu bulan merawat keranjang komposter tersebut, tim eco school bisa puas karena sudah pernah merasakan panen kompos hasil jerih payah sendiri. Meskipun tidak dijual, tetapi dibuat untuk memupuk tanaman di sekolah,” ucap Widiyastuti. Mempunyai green house adalah impian Widiyastuti untuk bisa diwujudkan di sekolahnya. “Saya berharap sekolah ini mempunyai green house, biar bisa untuk pembibitan tanaman yang bagus-bagus dan pembelajaran siswa juga,” ujar Widiyastuti.

Surabaya Eco School 2012 adalah program lingkungan hidup berkelanjutan untuk sekolah-sekolah di Surabaya dengan tema Wujudkan Pola Hidup Ekonomi Hijau Sekolah. Program yang memadukan kompetisi dan pembinaan ini diselenggarakan oleh Tunas Hijau, Pemerintah Kota Surabaya dan PT Perusahaan Gas Negara (Persero) Tbk. Surabaya Eco School didukung oleh PT. Dharma Lautan Utama, PPS Teflon Paint Protection dan Bank Jatim. (ryan)