Sarana Pembelajaran Lingkungan SMPN 36 Inspirasi Peserta Workshop I Surabaya Eco School

SURABAYA – Beragam sarana lingkungan milik SMPN 36 mampu membuat sedikitnya 80 orang perwakilan guru SD se Surabaya Selatan, peserta workshop Surabaya Eco School tahap pertama terpukau. Hal tersebut karena sebagian besar dari sekolah mereka tidak memiliki alat pengolahan sampah organik, yaitu keranjang komposter. Fakta tersebut hadir dalam workshop tahap pertama Surabaya Eco School yang digelar Tunas Hijau bekerja sama dengan Pemerintah Kota Surabaya dan PT. Pembangkitan Jawa – Bali (PJB) di SMPN 36, Jumat (30/08).

Menurut Nur Isitiningwati, guru lingkungan SDN Kebonsari I ini bahwa banyaknya potensi daun di sekolahnya membuat dirinya kebingungan untuk mengolahnya. “Saya kepingin agar masalah daun yang setiap hari berguguran dari pepohonan di sekolah ini bisa segera diatasi melalui program pengomposan. Namun, selama ini masih angan-angan saja, karena kami tidak memiliki alat yang bisa digunakan,” terang Nur Istiningwati. Keinginan pengajar kelas 5 tersebut segera ditindak lanjuti oleh Tunas Hijau dengan mengajak peserta workshop praktek langsung pengolahan sampah organik menggunakan keranjang komposter milik SMPN 36.

Anggriyan, aktivis Tunas Hijau menjelaskan proses pengomposan melalui media keranjang komposter kepada peserta workshop I

Anggriyan, aktivis Tunas Hijau menjelaskan proses pengomposan melalui media keranjang komposter kepada peserta workshop I

Anggriyan Permana, aktivis Tunas Hijau menjelaskan proses pengolahan sampah organik menggunakan keranjang komposter kepada peserta workshop. “Caranya kalau mau buat kompos dengan keranjang komposter ini adalah kuncinya ada diperawatan yang telaten Bu. Keranjang komposter ini harus setiap hari diisi sampah sisa makanan, kemudian diaduk. Kalau sudah 5 – 6 minggu, silahkan komposnya dipanen dari keranjang komposter. Komposnya akan berhasil jika dijaga kelembabannya, disiplin mengisi sampah organik dan rutin diaduk,” jelas Anggriyan.

Tidak puas hanya mendapat penjelasan tentang keranjang komposter, mereka kemudian mengajak Tunas Hijau untuk berkeliling area SMPN 36, 5 besar sekolah terbaik Surabaya Eco School 2012 ini. Berbagai sarana lingkungan milik sekolah yang berlokasi di daerah Kebonsari ini menarik perhatian peserta workshop. Diantaranya lubang resapan biopori yang jumlahnya banyak di sekitar lingkungan sekolah, pemanfaatan air cuci tangan yang langsung disalurkan ke taman kelas dan inovasi Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) sederhana.

peserta workshop I Surabaya Eco School tertarik dengan alat Instalasi Pengolahan Air Limbah sederhana milik SMPN 36

peserta workshop I Surabaya Eco School tertarik dengan alat Instalasi Pengolahan Air Limbah sederhana milik SMPN 36

Susilah Murti, guru lingkungan SDN Jambangan II menyampaikan ketertarikannya untuk mencoba di lingkungan sekolahnya sendiri. “Kak, saya kepingin membuat lubang resapan biopori di sekolah saya sendiri. Kira-kira caranya bagaimana ya?” tanya Susila Murti kepada Tunas Hijau.  Sambil tersenyum, Bram Azzaino menjelaskan bahwa caranya mudah hanya perlu membuat lubang sedalam maksimal 1 meter atau sampai batas lapisan terakhir sebelum bertemu air.

“Setelah itu diatas permukaan dipasang pipa paralon sebagai penyangga tanahnya, kemudian diisi oleh sampah daun untuk makanan cacing. Fungsi lainnya adalah mempercepat terserapnya air hujan saat turun kedalam tanah juga,” tutur Bram Azzaino . Tidak hanya itu saja, peserta yang berasal dari 43 Sekolah Dasar juga tertarik dengan IPAL (Instalasi Pengolahan Air Limbah) sederhana milik sekolah. “Air yang digunakan untuk bahan baku IPAL diambil dari air bekas wudhu dan toilet. Air tersebut disalurkan kedalam instalasi pengolahan air limbah sederhana atau biasa disebut water treatment,” ucap Nabila Yasmiranda, siswa kelas 9.  (ryan)