Tunas Hijau Bagikan Kisi-Kisi Pembuatan Rencana Program Lingkungan Kepada Peserta Workshop SES 2013

SURABAYA – Pembentukan tim lingkungan menjadi pondasi sebuah sekolah saat akan merencanakan program lingkungan. informasi tersebut disampaikan oleh Ali Felyndra, aktivis Tunas Hijau dalam workshop  pertama Surabaya Eco School, Rabu (28/08). Menurut aktivis Tunas Hijau berperawakan tinggi ini bahwa sebelum sekolah merencakan program lingkungan, perlu adanya pembentukan tim lingkungan sebagai pelaku kegiatannya.

“Tim Lingkungan sekolah ini harus melibatkan guru, kepala sekolah dan pak bon. Masing-masing individu tersebut mempunyai peranan sendiri-sendiri dalam kegiatan lingkungan,” ucap Ali Felyndra kepada sedikitnya 90 orang perwakilan siswa dan guru SMP Negeri se Surabaya yang  menjadi peserta workshop.

Diskusi pembentukan tim lingkungan dilakukan oleh masing-masing sekolah dalam workshop pertama Surabaya Eco School

Diskusi pembentukan tim lingkungan dilakukan oleh masing-masing sekolah dalam workshop pertama Surabaya Eco School

Dalam workshop pertama ini, Tunas Hijau mengajak  perwakilan siswa dan guru dari 47 SMP Negeri se Surabaya untuk menuliskan potensi lingkungan sekolah masing-masing menggunakan analisa S.W.O.T (Strong, Weakness, Opportunity, Threat). “Silahkan kalian menuliskan nama tim lingkungan sekolah kalian, kemudian siapa saja yang ada didalamnya dan peranannya apa. Setelah itu tuliskan juga potensi lingkungan sekolah yang ada sesuai S.W.O.T. Seperti contohnya sekolah memiliki lahan yang luas, memiliki kolam ikan dan mempunyai banyak komposter dijadikan sebagai kekuatannya,” ujar Ali Felyndra.

Menggunakan kertas buram berwarna coklat berukuran A0, mereka tampak serius berdiskusi dengan guru pembina lingkungan menuliskan hal tersebut. Setelah selesai menuliskan potensi lingkungan sekolah masing-masing, Ali Felyndra kembali mengajak mereka untuk menuliskan rencana program lingkungan yang ingin mereka realisasikan di sekolah. “Sekarang kalian tuliskan rencana program lingkungan yang akan kalian lakukan di sekolah terutama program lingkungan tentang pengolahan sampah, karena hal tersebut merupakan tema pada tahap pertama menuju ke 200 besar sekolah terbaik,” tutur Ali Felyndra.

Perwakilan guru dan siswa tiap sekolah juga berdiskusi membuat rencana program lingkungan untuk direalisasikan di sekolah masing-masing

Perwakilan guru dan siswa tiap sekolah juga berdiskusi membuat rencana program lingkungan untuk direalisasikan di sekolah masing-masing

Berbagai reaksipun diungkapkan oleh peserta workshop tahap pertama ini, salah satunya seperti yang diungkapkan Nabila Yasmindira, siswa SMPN 36 menanyakan kebenaran hasil kerja sekolahnya. “Kak, bagaimana kalau kami memiliki rencana untuk memanfaatkan air bekas wudhu  untuk ditampung dan digunakan menyiram tanaman,” ucap Nabila. Memandu pembuatan rencana program lingkungan, Ali Felyndra mengajak mereka untuk menuliskan timeline dan target dari rencana program lingkungan yang sudah mereka buat.

“Silahkan dituliskan setelah program lingkungan, kalian harus membuat timeline atau batas waktu pelaksanaan rencana kegiatan lingkungan. bukan lagi menggunakan waktu mingguan, namun langsung saja ditentukan menggunakan tanggal. Misalkan program pengomposan dimulai tanggal 1 September,” pungkas Ali Felyndra. Aktivis berperawakan tinggi ini menghimbau agar hasil karya masing-masing sekolah tidak hanya berupa tulisan saja, melainkan gabungan tulisan dan gambar,” imbuh Ali Felyndra.

Diakhir materi, Tunas Hijau mengajak mereka melengkapi data presentasi potensi sekolah dengan menambahkan target yang harus dicapai dari rencana program lingkungan mereka. “Setelah pembentukan tim lingkungan, analisa potensi lingkungan sekolah, pembuatan rencana program lingkungan, pembuatan timeline kegiatan dan diakhiri dengan adanya target capaian yang jelas dari program tersebut. Misalkan pada pengomposan, targetnya selama 2 bulan bisa menghasilkan sedikitnya 10 kg pupuk kompos,” terang Ali Felyndra.

Seperti ingin menunjukkan hasil kerjanya, Nofriza Ariana, siswa SMPN 32 menyampaikan targetan rencana kegiatan lingkungannya di sekolah. “Kak, kalau rencana programnya itu melakukan pemilahan sampah, dengan target selama satu bulan kami sudah mengurangi sampah plastik sebanyak 15 kg Kak, “ cetus Nofriza Ariana, siswa kelas 8. Keberanian siswa berjilbab ini mendapat apresiasi dari peserta workshop lainnya, termasuk Tunas Hijau. diakhir workshop, Tunas Hiau mengacungkan jempol kepada seluruh peserta workshop. (ryan)