Pembiasaan Memilah Sampah ala SD Raden Patah

SURABAYA – SD Raden Patah membiasakan memilah sampah kepada warga sekolahnya, khususnya siswa mereka. Para siswa sekolah ini nampak sudah mengerti cara melakukan pemilahan sampah yang sudah mereka jalankan. Kondisi tersebut terlihat saat pembinaan lingkungan hidup Surabaya Eco School oleh Tunas Hijau bersama Pemerintah Kota Surabaya dan PT. Pembangkitan Jawa-Bali, Senin (30/9).

Aktivis Tunas Hijau Ali Felyndra mengajak siswa SD Raden Patah mengoptimalkan keranjang pengomposan yang ada di sekolah untuk mengompos sampah organik yang sudah dipilah

Aktivis Tunas Hijau Ali Felyndra mengajak siswa SD Raden Patah mengoptimalkan keranjang pengomposan yang ada di sekolah untuk mengompos sampah organik yang sudah dipilah

Pemilahan sampah organik (basah) dan sampah non organik (kering) di sekolah ini diterapkan di setiap kelas. “Setiap kelas sudah ada 2 tempat sampah terpilah,” tutur Ernawati, guru pembina lingkungan hidup SD Raden Patah kepada Tunas Hijau saat pembinaan.

“Paling tidak anak-anak sudah terbiasa untuk memilah sampah yang mereka hasilkan sendiri,” ujar Ernawati. Meskipun belum berjalan dengan maksimal, mereka tetap berupaya untuk menerapkannya. “Kan ya anak-anak, Kak, tidak bisa kalau tidak gurunya itu mengomel dulu,” terang Ernawati. Menurutnya, agak susah untuk merubah kebiasaan anak didiknya.

“Di rumah mereka tidak dibiasakan seperti itu. Jadi berjalannya di sini ya pelan-pelan,” lanjut Ernawati. Untuk pengolahan lebih lanjut terhadap sampah yang sudah dipilah, mereka mengaku belum bisa memaksimalkannya. Salah satunya yang terlihat adalah komposter mereka. “Ya, komposter ini terkadang kami isi saat pelajaran lingkungan saja. Jadi belum dimaksimalkan,” jelas Ernawati.

Lahan sekolah yang sempit disikapi dengan merawat tanaman dalam pot

Lahan sekolah yang sempit disikapi dengan merawat tanaman dalam pot

Mereka berniat untuk membuat lubang resapan di halaman mereka. “Kami ingin memperkenalkan anak-anak untuk membuat lubang resapan di dekat pendopo,” ucapnya. Namun, karena belum memiliki alat, maka kegiatan tersebut belum bisa terlaksana. “Saya takut kalau memakai linggis, karena ini anak sekolah dasar. Takut nanti ada apa-apa,” keluh Ernawati. Namun, mereka tak patah arang untuk berupaya mengajarkan materi tentang lubang resapan meskipun sebatas teori.

Menanggapi pemilahan pembiasaan pemilahan sampah yang telah dilakukan SD Raden Patah, Ali Felyndra, aktivis Tunas Hijau yang memandu pembinaan lingkungan hidup di sekolah itu, Senin (30/9), memberikan apresiasi. “Tidak banyak sekolah membiasakan muridnya untuk melakukan pemilahan sampah seperti ini. Tapi, jangan pernah mencampur lagi sampah yang sudah dipilah, ya,” tutur Felyndra.

Ali menyarankan agar upaya pemilahan sampah yang sudah dilakukan ditindaklanjuti dengan pengolahan sampah lebih lanjut. “Setidaknya sampah kertas yang umum dihasilkan warga sekolah dipisahkan. Setelah cukup banyak, sampah kertas bisa didaur ulang secara industri dengan dijual ke pengepul,” saran Felyndra.

Surabaya Eco School adalah program lingkungan hidup berkelanjutan bagi sekolah-sekolah Surabaya. Pada pelaksanaan 2013 ini, tema yang diangkat adalah Wujudkan Konservasi Air di Sekolah. Surabaya Eco School 2013 didukung oleh PT Perusahaan Gas Negara (Persero) Tbk, PDAM Surya Sembada, PT Pertamina, Hotel Bisanta Bidakara Surabaya, Telkomsel Indonesia(ali/ron)