Pemilahan Sampah Ala SMKN 8 Dan Rencana Penghijauan Di Sekolah

SURABAYA – Perilaku membuang sampah pada tempatnya ternyata belum cukup menyelesaikan masalah sampah di sekolah. Alasannya adalah perilaku tersebut hanya memindahkan masalah ke tangan orang lain karena sampahnya tetap saja tercampur. Fakta tersebut yang menjadi fokus pembenahan perilaku tentang sampah bagi kader lingkungan SMKN 8 yang disampaikan saat pembinaan lingkungan Surabaya Eco School yang digelar Tunas Hijau bersama Pemerintah Kota Surabaya dan PT. Pembangkitan Jawa-Bali, Senim (30/09).

Kader lingkungan SMKN 8 bersama guru-guru mwmbuat lubang resapan di depan taman sekolah

Kader lingkungan SMKN 8 bersama guru-guru mwmbuat lubang resapan di depan taman sekolah

Menurut penuturan Dewi Citra Resmi, salah seorang kader lingkungan bahwa membuang sampah pada tempatnya hanya memindahkan tanggung jawab ke orang lain. “Karena tahapan selanjutnya setelah membuang sampah pada tempatnya adalah memilah sampah, jadi sampah yang sudah tercampur tersebut dipilah lagi sesuai jenisnya. Hal tersebut membutuhkan tenaga ektra untuk memilahnya, karena kami harus bekerja dua kali,” ucap Dewi Citra Resmi, siswa kelas 11. Berdasarkan permasalahan tersebut, kader lingkungan segera melakukan pemilahan sampah menjadi 3 jenis yaitu sampah kertas, plastik, sampah organik dan limbah jurusan.

Program pemilahan sampah kertas, plastik, sisa makanan , daun  dan limbah jurusan yang diusung tim lingkungan hidup diharapkan dapat membantu permasalahan pengolahan sampah. “Setiap kelas terdapat pemilahan sampah kertas dan plastik. Ditempat jurusan terdapat sampah plastik, kertas dan limbah jurusan. Di kantin disediakan sampah plastik, kertas dan sisa makanan. Sedangkan di halaman kami sediakan tempat sampah sampah kertas, plastik dan daun,” terang Dewi Citra Resmi, kader lingkungan yang juga pelatih PASKIBRA

Kader lingkugan SMKN 8 dengan semangat tinggi membuat menambah jumlah lubang resapan biopori

Kader lingkugan SMKN 8 dengan semangat tinggi membuat menambah jumlah lubang resapan biopori

Upaya menjalankan program pemilahan sampahpun diimbangi dengan adanya beberapa peraturan lingkungan yang diusulkan oleh kader lingkungan. Salah satunya adalah peraturan dengan sanksinya adalah tindakan nyata peduli lingkungan. Hal ini disampaikan oleh Dewi Citra, bahwa untuk menjalankan pemilahan sampah butuh peraturan sebagai pelindungnya. “Salah satu peraturannya adalah warga sekolah yang tertangkap basah membuang sampah sembarangan dan tidak pada jenisnya, sanksinya adalah membersihkan sampah yang berserakan di lingkungan sekolah,” terang Dewi Citra Resmi.

Selain membenahi budaya ramah lingkungan di sekolah, Tunas Hijau juga menghimbau kader lingkungan untuk menjalankan program penghijauan.  Menurut penuturan Satuman, aktivis Tunas Hijau, warga sekolah yang terus bertambah setiap tahunnya harusnya jumlah pepohonan juga bertambah  untuk memenuhi kebutuhan oksigen setiap individunya. “Sesering mungkin melakukan penanaman pohon di dalam dan di luar sekolah,” ucap Satuman. Satuman menambahkan dengan tercukupinya kebutuhan oksigen untuk setiap individunya, hal tersebut sangat mendukung kegiatan belajar-mengajar.

Kader lingkungan SMKN 8 memasukkan sampah daun ke dalam lubang resapan biopori sedalam 1 meter, sampai kader lingkungan harus berjongkok untuk memasukkan sampah daunnya

Kader lingkungan SMKN 8 memasukkan sampah daun ke dalam lubang resapan biopori sedalam 1 meter, sampai kader lingkungan harus berjongkok untuk memasukkan sampah daunnya

Perkembangan lingkungan SMKN 8 menarik perhatian aktivis Tunas Hijau, Satuman. “Tantangan buat kalian melakukan kegiatan lingkungan rutin dan seminggu ajak sebanyak mungkin warga sekolah untuk membawa tempat makan dan minum sendiri minimal 100 orang,” terang Satuman. Aktivis Tunas Hijau berharap dengan adanya upaya pengurangan plastik, warga sekolah akan mengetahui dampak atau bahaya plastik.

Surabaya Eco School adalah program lingkungan hidup berkelanjutan bagi sekolah-sekolah Surabaya. Pada pelaksanaan 2013 ini, tema yang diangkat adalah Wujudkan Konservasi Air di Sekolah. Surabaya Eco School 2013 didukung oleh PT Perusahaan Gas Negara (Persero) Tbk, PDAM Surya Sembada, PT Pertamina, Hotel Bisanta Bidakara Surabaya, Telkomsel Indonesia(1man/ry)