Siswa SDN Rungkut Kidul II Berebut Buat Biopori

SURABAYA – SDN Rungkut Kidul II adalah salah satu sekolah yang tidak mengikuti Workshop I Surabaya Eco School 2013 yang seharusnya dilaksanakan di SMPN 23 bersama sekolah dasar wilayah Surabaya timur yang lainnya. Ketika dikonfirmasi, ternyata guru yang ditugaskan sekolah untuk hadir berhalangan dan tidak ada yang menggantikan. 

Konfirmasi itu dilakukan Tunas Hijau pada pembinaan lingkungan hidup yang diselenggarakan bersama Pemerintah Kota Surabaya dan PT Pembangkitan Jawa-Bali di SDN Rungkut Kidul II yang lolos tahap II Surabaya Eco School 2012 ini, Sabtu (28/9).

Pada pembinaan itu, lebih dari 30 orang siswa kelas 3, 4 dan 5 menjadi peserta. Kegiatan yang dilakukan adalah pengolahan sampah khususnya sampah organik melalui lubang resapan biopori yang dibuat. “Jadi kita akan membuat lubang resapan biopori untuk meresapkan air hujan ke dalam tanah dan sekaligus mengolah sampah organik menjadi kompos,” kata Aktivis Tunas Hijau Ali Felyndra mengawali praktek pada pembinaan itu.

“Ini adalah praktek membuat lubang resapan biopori yang ke 3 kalinya setelah tahun lalu di SMAN 16 melakukannya dilanjutkan dengan pembuatan di sekolah,” tutur Melita Patriana. Banyak dari teman-teman Melita yang mengaku belum pernah melaksanakan lagi kegiatan tersebut. “Ya hanya sekali itu saja saya membuat lubang resapan seperti ini,” lanjutnya. Mereka kaget ketika lubang resapan yang sudah dibuat ternyata diisi dengan sampah organik.

Selain siswa kelas besar, kegiatan kali ini juga menarik minat siswa kelas kelas kecil. Mereka ingin tahu apa saja yang dilakukan kakak kelas mereka. “Ini itu buat apa sih, Kak? Saya ingin ikut juga,” tutur Anindita Putri, siswi kelas 1. Menurutnya, kegiatan seperti ini permainan baru baginya. Terbukti mereka tampak tak keberatan saat mengumpulkan sampah daun yang ada di halaman SDN Rungkut Kidul II.

“Daun ini untuk apa? Nanti kalau sudah terkumpul dimasukkan lubang itu terus jadi kompos ya, Kak,” ucap Anindita. Bahkan mereka tak mau kalah dengan siswa kelas besar. Mereka mencoba ikut membantu pembuatan resapan biopori tersebut. “Aku ingin coba gunakan alat itu juga,” ungkapnya. Pembuatan lubang resapan biopori ini merupakan pengalaman dan tangangan baru bagi Anindita. “Kakak sudah pernah buat. Aku belum. Jadi gantian sekarang,” pinta Putri.

Melihat kondisi tersebut Tunas Hijau meminta untuk kelas 3, 4 dan 5 melanjutkan pembuatan lubang resapan tersebut. “Untuk kelas satu ikut kakak. Kakak akan jelaskan tentang pemilahan sampah,” tutur Ali. Menurutnya, siswa kelas 1 lebih cocok untuk diperkenalkan dulu program pembiasaan pemilahan sampah.

Surabaya Eco School adalah program lingkungan hidup berkelanjutan bagi sekolah-sekolah Surabaya. Pada pelaksanaan 2013 ini, tema yang diangkat adalah Wujudkan Konservasi Air di Sekolah. Surabaya Eco School 2013 didukung oleh PT Perusahaan Gas Negara (Persero) Tbk, PDAM Surya Sembada, PT Pertamina, Hotel Bisanta Bidakara Surabaya, Telkomsel Indonesia(ali/ro)