Eco Action V Di jalur Hijau Jl Perak Barat Libatkan 250 Orang Dari 16 Sekolah

SURABAYA – Pelaksanaan Eco Action V yakni ngebor lubang resapan di jalur hijau Jalan Perak Barat  ini berbeda dengan pelakasanaan Eco Action sebelum-sebelumnya. Bedanya adalah, Eco Action kelima ini lebih banyak jumlah partisipan dan lebih dimeriahkan oleh sekolah-sekolah finalis Surbaya Eco School. Kegiatan Eco Action merupakan bagian dari program Surabaya Eco School yang digelar Tunas Hijau bersama Pemerintah Kota Surabaya dan PT. Pembangkitan Jawa-Bali, Sabtu (30/11).

SDN Nginden Jangkungan II : Datang dengan Full Team dan semangat sampai akhir kegiatan membuat lubang resapan biopori di jalur hijau Jalan Perak Barat

SDN Nginden Jangkungan II : Datang dengan Full Team dan semangat sampai akhir kegiatan membuat lubang resapan biopori di jalur hijau Jalan Perak Barat

Sedikitnya 16 sekolah yang turut berpartisipasi dalam ngebor lubang resapan di jalur hijau jalan Perak depan komplek Sekolah Barunawati. Sekolah-sekolah tersebut diantaranya SDN Kaliasin I, SDN Bubutan IV, SDN Nginden Jangkungan II, SDK Don Bosco, SMPN 4, SMPN 5, SMPN 11, SMPN 23, SMPN 36, SMPN 40, SMP Praja Mukti, SMAN 12, SMAN 19, SMA Dharma Wanita, SMA Barunawati dan SMKK Mater Amabilis.

Menurut Satuman, aktivis Tunas Hijau, sebenarnya masih ada beberapa sekolah lagi yang ingin hadir dalam kegiatan tersebut, namun karena masih terkendala adanya Ujian Akhir Sekolah. “Salah satu sekolah yang tiba-tiba memberi kabar tidak bisa karena adanya Ujian Akhir Sekolah adalah SMAN 9,” ucap Satuman, direktur Surabaya Eco School 2013.

SMPN 11 : Lagi meski hari Sabtu di sekolah libur, peserta dari sekolah yang terkenal di jalan Sawah Pulo ini tetap berpartisipasi membuat lubang resapan

SMPN 11 : Lagi meski hari Sabtu di sekolah libur, peserta dari sekolah yang terkenal di jalan Sawah Pulo ini tetap berpartisipasi membuat lubang resapan

Dalam kegiatan Eco Action V yang melibatkan sedikitnya 250 perwakilan siswa dan guru sekolah-sekolah peserta Surabaya Eco School, pembuatan lubang resapan dilakukan dengan membagi wilayah-wilayah untuk masing-masing sekolah. Menurut penuturan Satuman, direktur Surabaya Eco School, dalam pembuatan lubang resapan biopori di jalur hijau Jalan Perak Barat nanti, utamakan keselamatan kerja.

“Setelah itu, buat lubang resapan sebanyak mungkin dengan kedalaman harus 100 cm, kalau ada batunya dipecah dengan linggis. Tidak masalah jika lubang resapan kalian tidak ada pipa paralonnya, yang penting sampah daun yang diisikan penuh,” ucap Satuman. Berbagai kendala dan ekspresi unik saat pembuatan lubang resapan biopori disampaikan langsung oleh peserta kegiatan Eco Action kelima ini.

SAMPAH DAUN : Lubang resapan biopori langsung diisi dengan sampah daun sampai penuh dan padat agar tanahnya tidak kembali longsor

SAMPAH DAUN : Lubang resapan biopori langsung diisi dengan sampah daun sampai penuh dan padat agar tanahnya tidak kembali longsor

Seperti yang disampaikan oleh Firmasnyah Aji Fauzi, salah seorang kader SMA Dharma Wanita, mengungkapkan bahwa kondisi tanah yang dipenuhi pasir membuat mereka kesulitan untuk mengangkat ke atas tanah yang sebelumnya sudah dibor dengan bor biopori.

“Tidak hanya dipenuhi pasir saja, kondisi tanah yang tidak merata, ada yang kering penuh bebatuan besar di dalam tanah tetapi ada juga tanah yang dengan mudah bisa mencapai 100 cm. Namun kami tetap berusaha hingga mencapai kedalaman 100 cm, sekolah kami sudah buat sebanyak 10 lubang resapan,” ucap Firmansyah Aji Fauzi, siswa kelas 11.

HADIAH TAMBAHAN : Satu lagi hadiah oleh-oleh Walikota Surabaya Tri Rismaharini dari Jepang membuat eco action V lebih menarik

HADIAH TAMBAHAN : Satu lagi hadiah oleh-oleh Walikota Surabaya Tri Rismaharini dari Jepang membuat eco action V lebih menarik

Sementara itu, pendapat berbeda disampaikan oleh Achfa Yoelanda, salah seorang kader lingkungan SMPN 4 mengungkapkan bukan hanya kondisi tanahnya yang kering, namun saat dilakukan pengeboran, kader lingkungan sekolah yang berada di daerah Tanjung Anom ini menemukan beberapa sampah nonorganik.

“Di dalam tanah banyak terdapat besi, karung atau glangsing dan kain. Tetapi menariknya, di dalam tanah kami juga menemukan adanya cacing dan beberapa hewan di dalam tanah lainnya. Hal tersebut menjadi patokan kalau tanah tersebut membutuhkan lubang resapan biopori dan sampah organik untuk asupan gizi cacing dan teman-temannya tadi,” ucap Achfa Yoelanda, siswa kelas 7. (ryan)