Eco Toilet dan Ngebor Biopori di Kampung + Sekolah Lain ala SMPN 4

SURABAYA – Dampak dari Surabaya Eco School tidak hanya dirasakan oleh warga SMPN 4 saja. Agar lebih banyak orang yang peduli lingkungan, kader lingkungan SMPN 4 menyebarkan virus cinta lingkungan kepada warga sekitar. Kampung Blauran RT 1 RW 3 menjadi sasaran pertama untuk penyebaran virus cinta lingkungan itu. 

Siswa SMPN 4 grebek pasar tradisional

Siswa SMPN 4 grebek pasar tradisional

Diawali dengan sosialisasi dan dilanjutkan dengan mengebor lubang resapan biopori. “Kami ingin semua orang peduli terhadap lingkungan. Tidak perlu jauh, jadi kami ajak warga sekitar sekolah saja. Kami sosialisasi ke 22 KK. Setelah itu baru kami sama-sama ngebor. Kami meninggalkan 8 lubang biopori,” ujar Lathifa, siswa kader lingkungan kepada Tunas Hijau saat pembinaan dan evaluasi lapangan Surabaya Eco School 2013 yang diselenggarakan bersama Pemerintah Kota Surabaya dan PT Pembangkitan Jawa-Bali, Kamis (28/11).

Kegiatan menebarkan virus cinta lingkungan terus berkelanjutan ke kampung sekitar sekolah yang lain. Tak hanya di kampung sekitar sekolah, virus cinta lingkungan juga ditularkan ke beberapa sekolah lain. Sosialisasi dilakukan dari siswa untuk siswa. Dilanjutkan dengan ngebor lubang biopori. Tujuannya, sekolah yang dituju mengetahui manfaatnya dan mau melakukannya.

“Sudah dua sekolah yang kami kunjungi dan sekolah yang pertama kami ngebor 8 lubang biopori, di sekolah kedua kami dapat 4 lubang. Semoga lubang biopori yang kami gali dirawat oleh teman-teman di sekolah tersebut,” terang Esti, kader lingkungan kelas 9. Kader lingkungan SMPN 4 juga akan melakukan aksi lingkungan di lebih banyak sekolah.

Kegiatan lingkungan di dalam sekolah sendiri juga lebih ditingkatkan lagi. Pembiasaan ramah lingkungan juga lebih ditingkatkan. Eco toilet juga dijadwalkan setiap kelas. Dengan adanya eco toilet, siswa diajak lebih menjaga kebersihan dan kesehatan. “Eco toilet dilakukan bergantian tiap kelas per minggunya. Dengan eco toilet, siswa lebih menjaga kebersihan di toilet. Sebisa mungkin kami selalu melibatkan siswa untuk semua aktivitas,” ujar Mas Roro Suhartini, guru pembina lingkungan SMPN 4.

Siswa SMPN 4 ngebor lubang resapan biopori di kampung sekitar

Siswa SMPN 4 ngebor lubang resapan biopori di kampung sekitar

Penambahan tanaman juga dilakukan untuk lebih menghijaukan sekolah. Saat peringatan hari PGRI beberapa hari yang lalu, siswa membawa tanaman TOGA untuk ditanam di belakang sekolah. “Kami ingin membuat taman TOGA, untuk itu teman-teman membawa tanaman TOGA. Pohon klerak, okra, patah tulang, sereh dan masih banyak lagi jenisnya,” terang Sri Wahyuni. Kini taman TOGA telah terealisasi dan menjadi pembelajaran untuk banyak siswa. Taman kecil tetapi cukup banyak koleksi yang ada di taman TOGA tersebut.

Surabaya Eco School adalah program lingkungan hidup berkelanjutan bagi sekolah-sekolah Surabaya. Pada pelaksanaan 2013 ini mengangkat tema mewujudkan konservasi air di sekolah. Surabaya Eco School 2013 didukung oleh PT Telkom Indonesia Tbk. PT Perusahaan Gas Negara (Persero) Tbk, PDAM Surya Sembada, PT Dharma Lautan Utama dan PPS Autoshine. (sari/ro)