Kader Lingkungan SMA Dharma Wanita Targetkan Panen Kompos Lebih Banyak Lagi

SURABAYA – Lubang resapan biopori yang berfungsi meresapkan air hujan ke dalam tanah banyak dimanfaatkan 30 sekolah finalis Surabaya Eco School termasuk SMA Dharma Wanita. Sekolah yang berlokasi di daerah Kendangsari ini sudah membuat 34 lubang resapan di sekolah. Masing-masing lubang resapan biopori kedalamannya 100 sentimeter, tidak hanya berfungsi meresapkan air hujan, tapi dimanfaatkan untuk mengolah sampah organik menjadi kompos.

kader lingkungan membuat lubang resapan biopori di saluran air untuk optimalisasi resapan air hujan ke dalam tanah

kader lingkungan membuat lubang resapan biopori di saluran air untuk optimalisasi resapan air hujan ke dalam tanah

Informasi tersebut disampaikan oleh kader lingkungan saat pembinaan lingkungan Surabaya Eco School diselenggarakan Tunas Hijau serta Pemerintah Kota Surabaya dan PT. Pembangkitan Jawa-Bali Jumat (29/11). Tak hanya sampai itu, kader lingkungan SMA Dharma Wanita, Firmansyah Aji Fauzi, memanfaatkan pipa plastik yang bekas untuk membuat lubang resapan biopori.

“Kebetulan waktu itu saya melihat pipa yang tidak terpakai di salah satu rumah dekat sekolah yang lagi pembangunan. Dengan panjang pipa 2 meter, agar lebih maksimal hasilnya, saya memotong pipanya hingga menjadi ukuran 25 cm untuk bisa digunakan di sekolah,” ujar Firmansyah Aji Fauzi, siswa kelas 11..

Banyaknya sampah organik khususnya sampah daun, menjadikan dalam seminggu kader lingkungan berhasil mengolah lebih dari 30 kilogram. Mereka menargetkan untuk setiap hari, sedikitnya 1 kantong sampah organik harus diolah di komposter atau lubang resapan. “Setiap hari kami mengolah sampah organik dengan tujuan agar kami bisa panen kompos ebanyak-banyaknya dari berbagai media pengomposan yang kami miliki di sekolah,” terang Ary Widyastuti, guru bimbingan konseling sekaligus pembina kader lingkungan.

kader lingkungan sedang memanen pupuk kompos yang berasal dari sampah dedaunan yang banyak di sekolah

kader lingkungan sedang memanen pupuk kompos yang berasal dari sampah dedaunan yang banyak di sekolah

Pembina kader lingkungan tersebut juga menuturkan kalau pengolahan sampah organiknya di komposter sudah pernah panen saat program Surabaya Eco School berlangsung. Sedikitnya 25 kg kompos yang dihasilkan dari panen kompos tersebut. “Anak-anak yang panen, mulai pagi sampai siang anak-anak mengolah hasilnya dan dapat  1 karung yang cukup besar. Setelah itu langsung diisi lagi komposternya dengan sampah organik,” terang Ary Widyastuti.

Rencana kedepannya, kader lingkungan akan mengembangkan budidaya ikan dan tanaman pertanian di sekolah. “Kami ingin memanfaatkan lahan sempit untuk program urban farming dan budidaya ikan. Yang paling saya suka adalah program urban farming. Karena usia tanaman tersebut hanya 3 bulan agar hasilnya buah maupun sayuran bisa langsung dipanen. Saat panen raya nanti, kami akan mengundang warga sekolah untuk turut memanen. Dengan upaya seperti itu bisa menimbulkan rasa peduli terhadap lingkungan,” terang Ary Widyastuti. (1man/ry)