Peserta Eco Action V Semakin Mahir Buat Lubang Resapan Karena Belajar Dari Eco Action Sebelumnya

SURABAYA – Medan magnet yang dimiliki Tunas Hijau dalam gelaran Eco Action V seakan tidak pernah habis. Hal ini terlihat dari banyaknya perwakilan sekolah yang turut berpartisipasi dalam kegiatan lubang resapan biopori di jalur hijau yang kelima ini. Sedikitnya 150 orang perwakilan siswa dan guru menjadi peserta setia pelaksanaan kegiatan mulai Eco Action I sampai Eco Action V. Semakin bertambahnya partisipan dan semangat dari peserta kegiatan Eco Action V menjadi salah satu pembeda kegiatan Eco Action V dengan Eco Action yang sebelum-sebelumnya.

SMPN 40 : Meski banyak putrinya, kelompok ini tidak patah semangat.

SMPN 40 : Meski banyak putrinya, kelompok ini tidak patah semangat.

Informasi tersebut disampaikan oleh Satuman, aktivis Tunas Hijau bahwa semangat peserta Eco Action ngebor lubang resapan biopori di jalur hijau Jalan Perak ini menggebu-gebu karena sebagian besar dari mereka menjadi sekolah finalis Surabaya Eco School. “Semangat mereka meningkat menjadi berkali-kali lipat karena mereka menjadi sekolah finalis Surabaya Eco School, sehingga mereka harus menghadapi setiap tantangan yang diberikan,” ucap Satuman, aktivis Tunas Hijau.

Dalam gelaran Eco Action V ini, berbagai pendapat mengenai pelaksanaan Eco Action mulai yang pertama di jalur hijau Kenjeran sampai Eco Action kelima di jalur hijau jalan Perak. Pendapat pertama disampaikan oleh Tri Mariyati, guru pembina lingkungan SMPN 5,menyampaikan bahwa selama mengikuti kegiatan Eco Action mulai dari yang pertama sampai kelima, mereka mendapatkan teknik-teknik pembuatan lubang resapan biopori yang baik.

Dengan semangat yang tinggi, kader lingkungan SMA Dharma Wanita rela jungkir balik untuk memasukkan sampah daun ke dalam lubang resapan biopori

Dengan semangat yang tinggi, kader lingkungan SMA Dharma Wanita rela jungkir balik untuk memasukkan sampah daun ke dalam lubang resapan biopori

“Dengan mengikuti Eco Action mulai dari awal sampai yang kelima ini, kami jadi semakin paham bagaimana membuat lubang resapan biopori, sebelumnya kami hanya sekedar membuat lubang dan sekedar diisi dengan sampah organik, padahal yang benar adalah buat lubang dengan kedalaman 1 meter kemudian diisi sampah organik penuh dan padat untuk asupan gizi hewan di dalam tanah,” ucap Tri Maryati.

Sementara itu, pendapat berbeda disampaikan oleh Andajani, guru pembina lingkungan SMPN 40 yang mengungkapkan bahwa perbedaan antara Eco Action kelima dengan Eco Action yang sebelum-sebelumnya adalah kader lingkungannya berangkat menuju lokasi dengan bangganya, karena sudah menjadi sekolah finalis.

SMPN 23 : Bekerja sama satu tim membuat lubang resapan dan memenuhi dengan sampah daun

SMPN 23 : Bekerja sama satu tim membuat lubang resapan dan memenuhi dengan sampah daun

“Semakin bertambah semangat dari kader lingkungan karena mereka sudah menjadi finalis Surabaya Eco School. Tidak hanya itu, kami juga menambah jumlah siswa dalam Eco Action yang kelima di jalur hijau jalan Perak ini,” ucap Andajani, guru pembina sekolah yang letaknya di daerah Bangkingan.

Tidak hanya pendapat dari peserta setia kegiatan Eco Action yang sudah mulai mengikuti mulai dari pelaksanaan pertama sampai kelima. Bagi sekolah yang baru mengikuti gelaran Eco Action yang kelima ini, seperti salah satunya SDN Bubutan IV, menurut penuturan Titin Krisminawati, guru pembina lingkungan, bahwa ternyata seru juga membuat lubang resapan biopori secara massal apalagi lokasi di tengah-tengah jalan raya.

kader lingkungan SDK Don Bosco tanpa kenal leah membuat lubang resapan biopori dengan target satu orang 3 lubang resapan

kader lingkungan SDK Don Bosco tanpa kenal leah membuat lubang resapan biopori dengan target satu orang 3 lubang resapan

“Bagi kami, yang membuat kegiatan ini menarik adalah lokasi pembuatannya di tengah-tengah jalan raya dan dilakukan bersama-sama. Kalau dilakukan sendirian terlihat aneh. Kami tidak akan kapok untuk terus berpartisipasi dalam Eco Action selanjutnya,” cetus Titin Krisminawati. Dalam Eco Action ini, dirinya berharap kedepannya kegiatan lubang resapan ini bisa digelar di daerah dekat sekolahnya. (ryan)