SDN Sambikerep II Mulai Gunakan Sabun Ramah Lingkungan Dari Buah Lerak

SURABAYA – Penambahan fasilitas terus ditingkatkan SDN Sambikerep II untuk mendukung program Surabaya Eco School 2013 yang digelar Tunas Hijau bersama Pemerintah Kota dan PT. Pembangkitan Jawa-Bali, Rabu (27/11). Terbaru,  Tim lingkungan sekolah yang berada di daerah Jelidro ini membuat sumur resapan untuk menampung atau meresapkan air hujan ke dalam tanah.

kader lingkungan mencoba sabun ramah lingkungan baru yang berasal dari buah lerak

kader lingkungan mencoba sabun ramah lingkungan baru yang berasal dari buah lerak

Menurut keterangan Sudarmawan selaku pembina lingkungan, dengan adanya sumur resapan ini, media pembelajaran lingkungan di sekolah menjadi bertambah. “Kalau media pembelajaran sudah lengkap mewakili tema, maka kegiatan lingkungan akan semakin seru,” ucap Sudarmawan. Tidak hanya sumur resapan saja, kader lingkungan juga telah memiliki 70 lubang resapan di halaman sekolah. “Semua lubang resapan sedalam 1 meter dan kami mengisi 5 kg daun untuk 30 lubangnya,” jelas Sudarmawan guru asal Lamongan ini.

Tidak hanya itu di halaman , mereka telah membuat 30 lubang resapannya di depan halaman dengan melibatkan masyarakat sekitar. “Awalnya lubang resapan ini tidak terlalu dalam, namun saat awal tahap 3, kami dalamkan lagi hingga sedalam 1 meter,” ucap Mawan, sapaan akrab guru pembina lingkungan. Dirinya menambahkan bahwa  dengan adanya lubang resapan biopori sebanyak 100 lubang resapan yang berhasil dibuat, cukup membantu mengurangi banjir atau air menggenang saat turun hujan.

buah lerak menjadi bahan baku pembuatan sabun ramah lingkungan yang mulai kini diterapkan di sekolah

buah lerak menjadi bahan baku pembuatan sabun ramah lingkungan yang mulai kini diterapkan di sekolah

Sementara itu, upaya untuk mewujudkan sekolah ramah lingkungan diterapkan dengan mengganti sabun kimia dengan sabun ramah lingkungan yang berasal dari buah lerak. Menurut penuturan Sudarmawan, bahwa penggunaan sabun lerak ramah lingkungan ini masih baru dimulai awal tahap ketiga. Sabun lerak tersebut ditempatkan di tempat cucian tangan yang air pembuangannya bisa langsung digunakan untuk menyiram tanaman.

“Saya baru pertama kali ini mencoba menggunakan sabun ramah lingkungan,” ungkap Sudarmawan. Anggriyan Permana, aktivis Tuna Hijau menyaranklan agar segera disosialisasikan kepada kelas-kelas tentang cara penggunaannya. Maycicho Hidayatul, salah seorang siswa menanyakan cara penggunaan sabun lerak, karena dirinya belum pernah menggunakan sabun ramah lingkungan tersebut.

kader lingkungan mengisi lubang resapan biopori dengan sampah organik yang ada di sekolah

kader lingkungan mengisi lubang resapan biopori dengan sampah organik yang ada di sekolah

“Saya baru pertama kali ini Kak, ternyata berbeda dengan sabun kimia, sabun lerak ini lebih kelihatannya alami dan wangi-wangiannya pun berbeda baunya dengan sabun kimia,” terang Maycicho Hidayatul, siswa kelas 5. Sebagian besar siswa belum pernah cuci tangan dengan buah lerak. “Maka dari itu, kami akan gencar untuk mengingatkan warga sekolah tentang penggunaan buah lerak.

Dalam pembinaan ini, Tunas Hijau mengajak kader lingkungan untuk mengisi lubang resapan biopori dengan sampah organik. “Banyaknya lubang resapan membawa keuntungan tersendiri bagi kami, salah satunya adalah ada salah seorang warga sekitar yang ingin menerapkan lubang resapan biopori di kampungnya dengan meminta bantuan kami,” pungkas Sudarmawan. (ali/ry)