SDN Sememi I Akan Buat Sumur Resapan Untuk Tanggulangi Banjir Saat Hujan

SURABAYA – Hujan deras bukan menjadi penghalang bagi kader lingkungan SDN Sememi I untuk berkegiatan lingkungan. Kondisi tersebut terjadi saat pembinaan Surabaya Eco School yang digelar Tunas Hijau bersama Pemerintah Kota dan PT. Pembangkitan Jawa-Bali, Rabu (27/11). Menurut Maurice Bernika Imelda siswa kelas 4, meskipun hujan mereka tetap senang untuk berkegiatan lingkungan.

kader lingkungan menyiarkan pesan lingkungan melalui radio sekolah

kader lingkungan menyiarkan pesan lingkungan melalui radio sekolah

“Kami biasanya mengumpulkan sampah kertas dan botol kemasan di bank sampah, namun karena gerimis ya jadinya kami hanya bisa mengumpulkan sedikit saja sampah kertas dan botolnya,” ucap Maurice Bernika. Tidak hanya itu, hujan menjadi keuntungan tersendiri bagi tim penghijauan karena mereka sudah dibantu untuk menyiram tanaman oleh air hujan.  “Kami tidak perlu menyiram lagi, jadi pekerjaan tim kami berkurang,” jelas Maurice Bernika.

Perawatan tanaman pun fdilakukan oleh kader lingkungan dengan mengambil sampah kertas dan plastik yang ada di sela-sela tanaman. “Tidak banyak aktivitas saat musim hujan Kak, kegiatannya hanya mengumpulkan sampah di bank sampah, mengambil sampah di sela-sela tanaman agar tanaman bisa tumbuh. Karena sampah bisa mencemari tanah,” ucap Maurice Bernika.

kader lingkungan mengolah sampah sisa makanan ke dalam keranjangan

kader lingkungan mengolah sampah sisa makanan ke dalam keranjangan

Sementara itu, tim kompos juga tidak mau kalah untuk berkegiatan lingkungan. Mereka menunjukan pengolahan sampah sisa makanan yang terdapat di sebelah kantin. “Jadi saat istirahat seperti ini kami gunakan untuk mengisi keranjang komposter. Setiap harinya sebanyak 2 kg sampah organik,” tutur Vivi Inggar Khofifah siswa kelas 4. Dirinya menambahkan bahwa dalam pengolahan sampah organik dengan media keranjang komposter, semua keranjang komposter sudah berhasil mencapai 3 kali panen kompos.

Tidak hanya itu, mereka akan membuat sumur resapan untuk halaman mereka. Itu dikarenakan debit air yang masuk ke dalam halaman SDN Sememi 1 banyak. “Ya bisa dilihat kalau hujan seperti ini, banjir tidak bisa dielakan,”tutur Trubus kepala SDN Sememi I. Untuk itu, dirinya akan membuat peresapan karena lubang resapan mereka tidak bisa mengatasi air yang terlalu banyak,” ungkap Vivi Inggar, siswa kelas 5. Dengan adanya lubang resapan biopori semakin banyak meresapkan air hujan ke dalam tanah lagi,” ucap Vivi Inggar kepada Tunas Hijau.

kader lingkungan melakukan upaya pengurangan plastik sekali pakai, dengan membawa piring dan botol minum sendiri di kantin

kader lingkungan melakukan upaya pengurangan plastik sekali pakai, dengan membawa piring dan botol minum sendiri di kantin

Upaya konservasi air yang dilakukan kader lingkungan ini mendapat apresiasi dari Ali Felyndra, aktivis Tunas Hijau. “Kami bangga dengan kalian, karena meskipun hujan masih tetap semangat untuk berkegiatan lingkungan,” ucap Ali Felyndra. Sementara itu, Ali Felyndra menyarankan agar setiap fasilitas lingkungan yang ada di sekolah baiknya dijaga dan dirawat. “Kami berharap setelah alat rain water tank sudah datang ke sekolah, fasilitas lingkungan yang ada dioptimalkan untuk proses pembelajaran lingkungan bagi warga sekolah. Hal tersebut didukung dengan adanya pelaporan kegiatan lingkungan dengan menyertakan data terukur setiap kegiatan lingkungannya,” pungkas Ali Felyndra. (ali/ry)