SMAN 21 Libatkan Petugas Kantin Olah Sampah Organik Menggunakan Keranjang Komposter

SURABAYA – Keranjang komposter umumnya dirawat oleh kader lingkungan, karena pihak kantin sekolah enggan untuk merawatnya. Mereka lebih senang untuk memisahkan sampah organiknya saja. Namun hal tersebut tidak berlaku di SMAN 21. Tanpa rasa jijik, pihak kantin benar-benar memaksimalkan 6 keranjang komposter yang ada disamping kantin sekolah. Informasi tersebut disampaikan oleh Alia, petugas kantin SMAN 21 saat pembinaan Surabaya Eco School oleh Tunas Hijau bersama Pemerintah Kota dan PT. Pembangkitan Jawa-Bali, Jum’at(29/11).

petugas kantin pun turut mengolah sampah sisa makanan ke dalam keranjang komposter untuk menjadi kompos

petugas kantin pun turut mengolah sampah sisa makanan ke dalam keranjang komposter untuk menjadi kompos

“Setiap harinya, keranjang komposter ini diisi oleh masing-masing petugas kantin sebanyak 1,5 kg sampah sisa makanan. Setiap keranjang komposter memiliki penanggung jawab masing-masing, itulah alasannya keranjang komposter tersebut memiliki nama sendiri-sendiri,” tutur Alia. Alia menambahkan bahwa tugas kader lingkungan hanya mengecek kondisi keranjang komposter setiap dua hari sekali. “Awalnya kami pun tidak mengerti tentang cara pengomposan, namun setelah kader lingkungan mengajari kami, jadinya sekarang kami mandiri untuk mengolah sampah organik yang dihasilkan,” imbuh Alia.

Tidak hanya sampah sisa makanan saja, upaya pengurangan plastik sekali pakai pun berimbas pada berkurangnya botol kemasan yang dikeluarkan petugas kantin. Menurut Alia, petugas kantin mawar ini, sampah botol kemasan yang dihasilkan setelah adanya gerakan bawa botol minum sendiri menjadi menyusut sabanyak 2 kali lipat dari biasanya. “Dulunya konsumsi siswa terhadap botol kemasan mencapai3 karton habis perhari.  Sejak adanya kebijakan baru tentang siswa diharuskan membawa botol sendiri, saat ini hanya menghasilkan maksimal 1 kardus botol kemasan saja,” ucap Laia, petugas kantin berusia 35 tahun.

Aktivis Tunas Hijau mengajak kader lingkungan mengecek kondisi tong komposter mereka yang baruisi oleh sampah sayuran hasil grebeg pasar

Aktivis Tunas Hijau mengajak kader lingkungan mengecek kondisi tong komposter mereka yang baruisi oleh sampah sayuran hasil grebeg pasar

Memaksimalkan program pengomposan, kader lingkungan ini merealisasikan tantangan grebek pasar yang diberikan Tunas Hijau. Mereka telah melaksanakan 2 kali grebek pasar yakni di pasar Widodaren. Grebek pasar pertama mereka mendapat 3 tong sampah sayur, selanjutnya mendapat 3 tong sampah ditambah 3 kantong trash bag berukuran besar. “Jadi dalam 2 kesempatan tersebut kami mendapat 6 tong besar dan 3 kantong trash bag,” tutur Melani Dwi Agnesia kelas 10. Dirinya menambahkan bahwa sampah-sampah tersebut mereka masukan ke dalam keranjang, tong komposter dan SIKARU atau pengomposan cair milik kami.

Kader lingkungan sekolah yang berada di daerah Argopuro ini menambah lubang resapan yang ada di depan sekolah. “Saat ini total mereka memiliki 60 lubang resapan di halaman sekolah dan 20 lubang resapan di luar sekolah. kami baru tambah 20 lubang diluar sekolah, di selokan dan di taman sekolah,” tutur Rafika Rahma Maulidini, siswa kelas 11. Dirinya menambahkan untuk 1 lubang mereka isi dengan 1 kg sampah daun. “Jadi ya hanya sampai penuh saja kami memasukannya, tetapi tidak sampai dipadatkan ke bawah,” lanjut Rafika yang juga anggota OSIS.

Pengecekan kondisi keranjang komposter dilakukan oleh aktivis Tunas Hijau bersama kader lingkungan

Pengecekan kondisi keranjang komposter dilakukan oleh aktivis Tunas Hijau bersama kader lingkungan

Temuan tersebut langsung dikomentari oleh Ali Felyndra aktivis Tunas Hijau, Menurut Ali Felyndra, kegiatan mereka sudah bagus karena banyak melibatkan warga sekolah termasuk kantin. “Namun sayangnya semua kegiatan lingkungan yang sudah dilakukan, tidak memiliki cukup bukti dalam bentuk angka, sedangkan yang diperlukan adalah data-data terukur dalam setiap kegiatan lingkungan,” jelas Ali Felyndra, aktivis Tunas Hijau.

Tidak hanya itu, Ali Felyndra juga menambahkan bahwa data terukur tersebut digunakan untuk data rekapitulasi hasil kegiatan yang sudah dilakukan oleh sekolah-sekolah sesuai dengan tema kegiatannya. “Harusnya data tersebut juga diberitahukan untuk siswa lainya atau kalau perlu di tempel dan dibentuk sistem ceklist yang bisa diisi siswa lain,”jelasnya saat evaluasi kegiatan mereka. (Ali)/ry).