SMK Farmasi Pantang Menyerah Olah Dan Pilah Sampah Meski Sekolah Satu Atap

SURABAYA – Derita sekolah satu komplek juga dirasakan oleh kader lingkungan SMK Farmasi. Tidak tanggung-tanggung, di dalam sekolah yang berada di daerah Gembong ini terdapat dua sekolah lainnya. Hal tersebut dilengkapi dengan adanya perkampungan di belakang sekolah. Namun, kondisi tersebut tidak dijadikan beban ataupun kendala bagi mereka untuk tetap peduli lingkungan. Semangat membara inilah yang ditemui Tunas Hijau saat menggelar pembinaan lingkungan Surabaya Eco School 2013 bersama Pemerintah Kota Surabaya dan PT Pembangkitan Jawa-Bali, Jumat (29/11).

Kader lingkungan tampak antusias mengolah sampah organik dri dalam sekolah, mereka tampak syik memotong kecil buah blimbing wuluh yang banyak terjatuh untuk dimasukkan ke dlam keranjang komposter

Kader lingkungan tampak antusias mengolah sampah organik dri dalam sekolah, mereka tampak syik memotong kecil buah blimbing wuluh yang banyak terjatuh untuk dimasukkan ke dlam keranjang komposter

Menurut penuturan Riefauzia Alvina, salah seorang kader lingkungan mengatakan bahwa carut marutnya tatanan gedung dan fasilitas di sekolah bukan menjadi penghalang kader lingkungan dalam menjalankan program lingkungan di sekolah. “Kami akan terus bersemangat untuk menjalankan program lingkungan, luas lahan sekolah akan kami maksimalkan untuk penghijauan, sedangkan lainnya, akan memaksimalkan pengolahan sampah baik organik maupun anorganik,” ujar Riefauzia Alvina, kader lingkungan kelas 11

Dalam pembinaan ini, Satuman, aktivis Tunas Hijau mengajak kader lingkungan untuk menyiapkan tempat pemilahan sampah. “Kalau saya lihat, di sekolah kalian tempat sampahnya hanya satu warna dan sampahnya juga masih belum terpilah, untuk mengoptimalkan pemilahan sampahnya, kalian harus membedakan tempat sampah kertas dan plastik menggunakan tulisan,” ujar Satuman. Saran direktur Surabaya Eco School 2013 ini kemudian segera ditindak lanjuti oleh kader lingkungan dengan membuat tulisan yang nantinya ditempelkan di tempat sampah.

Kader lingkungan SMK Farmasi sedang memasang tulisan untuk pemilahan sampah di sekolahnya yang dibagi menjadi dua yaitu kertas dan plastik

Kader lingkungan SMK Farmasi sedang memasang tulisan untuk pemilahan sampah di sekolahnya yang dibagi menjadi dua yaitu kertas dan plastik

“Kalau sampah kertas tempelkan di tempat sampah yang ini, sedangkan sampah plastiknya di sebelah situ tempat sampahnya,” terang Riefauzia Alvina. Tidak hanya sekedar menyiapkan tempat pemilahannya saja, kader lingkungan SMK Farmasi ini segera melakukan sosialisasi tentang pemilahan sampah dengan memasuki satu persatu kelas. “Teman-teman mulai Jumat besok, kalian harus jeli membedakan jenis sampah kertas dan plastik, kami sudah membuatkan tulisan dan petunjuknya yaitu ada tempat sampah khusus kertas dan tempat sampah khusus plastik dan kaleng,” ujar Riefauzia Alvina, siswa kelas 11.

Tidak hanya mengajak kader lingkungan melakukan pemilahan sampah saja, Satuman, aktivis Tunas Hijau juga mengajak mereka mengolah sampah organik. Lahan yang terbatas bukan berarti tidak bisa mengolah sampah organik, kader lingkungan memanfaatkan buah blimbing wuluh yang jatuh untuk pengomposan. Selain itu, setiap satu minggu sekali, mereka mengadakan kegiatan grebek pasar Pecindilan. “Kalau hanya mengandalkan sampah organik, sisa makanan di sekolah, kami tidak bisa memenuhi keranjang dan tong pengomposan kami, makanya sambil mengolah sampah organik di dalam sekolah, kami juga membantu mengurangi volume sampah organik di TPA Benowo,” terang Shannaz Haq.

Kader lingkungan SMK Farmasi tampak serius mengolah sampah organik yang diambil dari sampah sisa makanan di sekolah ke dalam keranjang komposter

Kader lingkungan SMK Farmasi tampak serius mengolah sampah organik yang diambil dari sampah sisa makanan di sekolah ke dalam keranjang komposter

Pernyataan tersebut dibenarkan oleh Ahmad Kholik, salah satu kader lingkungan yang mengatakan bahwa dalam sekali grebek pasar, mereka bisa mengumpulkan sebanyak 30 kg. “Sampah sebanyak itu kami bagi untuk kebutuhan keranjang komposter, tong komposter dan lubang resapan biopori,” ucap Ahmad Kholik, siswa kelas 10. Kedepan, mereka berencana untuk mengajak partisipasi warga sekitar sekolah  dan sekolah satu atap untuk membuat lubang resapan.

Surabaya Eco School adalah program lingkungan hidup berkelanjutan bagi sekolah-sekolah Surabaya. Pada pelaksanaan 2013 ini, tema yang diangkat adalah Wujudkan Konservasi Air di Sekolah. Surabaya Eco School 2013 didukung oleh PT Telkom Indonesia Tbk, PT Perusahaan Gas Negara (Persero) Tbk, PDAM Surya Sembada, PT Dharma Lautan Utama dan PPS Autoshine. (ryn)