SMPN 44 Jalankan Program Lingkungan Hidup Seperti Biasanya

SURABAYA – Perilaku peduli lingkungan hidup tidak bisa muncul begitu saja dalam diri setiap orang. Butuh proses pembiasaan secara kontinyu agar budaya cinta lingkungan dapat menjadi gaya hidup harian. Berpedoman pada hal tersebut SMPN 44 tetap menjalankan program lingkungan hidup yang telah disusun dalam program Surabaya Eco School 2013 yang diselenggarakan Tunas Hijau bersama Pemerintah Kota Surabaya dan PT. Pembangkitan Jawa-Bali, meskipun mereka tidak lolos tahap final.

Pemilahan sampah plastik di SMPN 44 Surabaya

Pemilahan sampah plastik di SMPN 44 Surabaya

Hal ini terungkap ketika Tunas Hijau melakukan pembinaan lanjutan bagi sekolah yang terletak di Jalan Bolodewo ini, Kamis (28/11). Dijelaskan oleh Sukinah, guru pembina kader lingkungan, bahwa siswa tetap diminta memilah sampah. “Tiap akhir pekan kami menjual sampah botol hasil pemilahan selama 1 minggu. Begitu juga dengan sampah kertasnya. Sabtu lalu kami juga melakukan penjualan,” ujar Sukinah.

Sebagai sekolah yang baru mulai menanamkan kepedulian lingkungan hidup bagi para siswanya, Sukinah berpendapat bahwa jika program di sekolah tetap dilanjutkan, tahun depan hasilnya akan mulai nyata. “Kalau kami menghentikan program lingkungan karena tidak lolos tahap berikutnya, pastinya tahun depan kami harus mengulangi dari awal kembali. Sebab itu program lingkungan hidup tetap kami jalankan seperti biasa,” tambah Sukinah kembali.

Ditambahkan oleh Ahmad Abyan bahwa untuk siswa yang terlambat tetap mendapatkan sanksi membersihkan sampah disekolah serta memilahnya atau dikenal TETABE kependekan dari kalau telat harus bersih-bersih. “Tiap Sabtu kami juga terus mengisi komposter tong dan keranjang yang dimiliki dengan sampah organik. Radio sekolah untuk menyuarakan pesan lingkungan juga tetap mengudara,” kata Abyan, panggilan akrab siswa kelas 8 ini.

Ikon sekolah mulai coba dimunculkan juga melalui pembibitan tanaman jenis tertentu. “Sabtu lalu kami melakukan pembibitan tanaman cerme merah. Selain bisa menghijaukan sekolah, nantinya buahnya bisa kami olah kembali,” ujar Irene Friska, kader lingkungan kelas 8 C.

Tunas Hijau memberikan masukan kepada para kader lingkungan untuk lebih memaksimalkan lubang resapan biopori. “Setiap minggu semua lubang harus diperiksa dan ditambahkan lagi sampah organiknya. Hal ini supaya semua sampah organik tidak perlu dibuang keluar sekolah. Bulan Desember juga harus mulai dipanen kompos yang berada di lubang resapan ini,” kata Dony Kristiawan, aktivis senior Tunas Hijau, mengakhiri pembinaan.

Surabaya Eco School adalah program lingkungan hidup berkelanjutan bagi sekolah-sekolah Surabaya. Pada pelaksanaan 2013 ini mengangkat tema mewujudkan konservasi air di sekolah. Surabaya Eco School 2013 didukung oleh PT Telkom Indonesia Tbk. PT Perusahaan Gas Negara (Persero) Tbk, PDAM Surya Sembada, PT Dharma Lautan Utama dan PPS Autoshine. (MD/ro)