Surabaya Eco School Mengubah Perilaku Warga Sekolah dan Masyarakat

Oleh Anik Widarti, Guru Pembina Lingkungan Hidup SDN Nginden Jangkungan II

SURABAYA – Kamis(27/11) Program Surabaya Eco School yang diselenggarakan tiap tahun oleh Tunas Hijau Indonesia mengajak warga sekolah dan masyarakat untuk peduli dalam penyelamatan lingkungan. Saya pertama mendapat undangan launching Surabaya Eco School 2012 beserta 3 siswa di Graha Sawunggaling mewakili sekolah tempat dinas saya sebelumnya, yaitu SDN Semolowaru I. 

Hal itu merupakan pengalaman kami yang pertama, sehingga kami belum paham apa yang harus kami perbuat. Tentunya sekolah kami termasuk salah satu sekolah yang tereliminasi karena dukungan dari warga sekolah pun sangat kurang. Parahnya lagi, saat Tunas Hijau datang ke sekolah mengadakan pembinaan pada Surabaya Eco School 2012, kami acuh saja. Kami beranggapan merepotkan dan nambah pekerjaan saja. Siapa yang mau kotor-kotor dan bau begitu?

Awal tahun 2013 Tunas Hijau Indonesia melibatkan kembali sekolah kami dalam program program wirausaha lingkungan hidup Eco-preneur 2013. Pada kegiatan Eco-preneur inilah kami mulai tertarik. Semua juknis yang dimuat di website www.tunashijau.org dan facebook page Tunas Hijau Indonesia kami berusaha untuk mengikuti dan melaksanakannya.

Semakin lama kami mengikuti kegiatan dan memenuhi challenge pada tiap pekan dalam kegiatan Eco-preneur 2013 yang lalu. Kami tidak merasa direpotkan. Malah kami semakin tertantang untuk selalu berbuat yang lebih baik dan berbuat yang lebih baik lagi. Kami semakin ketagihan untuk selalu berbuat kebaikan terhadap alam sekitar kita.

Sehari tidak melakukan kegiatan lingkungan rasanya sangat sayang sekali. Dan kami pun dengan bangga mendapat predikat The Best School Eco-preneur 2013 dan saya sebagai pribadi menyandang gelar The Best Teacher Eco-preneur 2013 untuk kategori sekolah dasar.

Predikat yang saya sandang harus mampu saya tunjukkan kepada khalayak ramai. Saya harus mampu menjadi teladan dan penggerak upaya penyelamatan lingkungan hidup. Yang dulu saya cuek dan acuh tak acuh, kini saya harus bisa berbuat sesuatu dalam penyelamatan lingkungan di sekitar kita.

Kini dengan hadirnya kembali Surabaya Eco School 2013 di tempat dinas saya yang baru ini, di SDN Nginden Jangkungan II, saya benar-benar tertantang. Undangan Workshop I oleh Tunas Hijau tidak sampai ke tangan Ibu Kepala Sekolah. Sehingga sekolah kami tidak mengikuti workshop I sesuai yang dijadwalkan.

Saya langsung menghubungi Tunas Hijau menanyakan apakah sekolah kami masih bisa mengikuti workshop susulan. Kami dapat jawaban menggembirakan bahwa sekolah kami masih bisa gabung workshop tingkat SD di SMPN 28 yang jauh di wilayah Surabaya Barat.

Tak apalah kami berangkat dengan Ibu Sedarwati, S.Pd. selaku kepala SDN Nginden Jangkungan II. Saya matur ke beliaunya. “Bu, kalau tidak ikut workshop I berarti sekolah kita tidak tercatat sebagai peserta SES 2013. Sekolah kita harus ikut dan tidak boleh tidak. Sangat sayang sekali kalau sampai ketinggalan,” rengek saya kepada kepala sekolah.

“Ya, Bu Anik besok berangkat sama saya saja langsung ketemu di SMPN 28,” demikian dukungan beliau, sampai sekolah kami masuk daftar 125 sekolah nominasi dan mendapatkan dua buah bor tangan, yang sebelumnya kami tidak memiliki bor untuk membuat biopori dan kami harus pinjam sekolah tempat dinas saya sebelumnya yang didapat dari Tunas Hijau sebagai hadiah ketika menerima tamu dari Kementerian Lingkungan Hidup dari Jakarta.

Siswa SDN Nginden Jangkungan II dengan sampah organik pasar yang siap mereka olah menjadi kompos

Siswa SDN Nginden Jangkungan II dengan sampah organik pasar yang siap mereka olah menjadi kompos

Kami warga sekolah semakin asyik melakukan kegiatan lingkungan. Tidak ada lagi rasa jijik mengaduk kompos. Tidak malu lagi ke pasar mengambil sampah organik untuk mengisi tong aerob dan keranjang komposter milik kami. Semakin gigih mengajak masyarakat untuk selalu peduli lingkungan dalam konservasi air.

Kini masyarakat pun sudah merasakan dampak dari kegiatan pengeboran biopori di lingkungan warga. Ketika hujan kemarin, sudah tidak ada lagi genangan air lagi setelah dibuatkan lubang biopori oleh kader-kader lingkungan SDN Nginden Jangkungan II.

Kini sekolah kami masuk daftar 10 sekolah dasar finalis SES 2013 yang rata-rata diduduki oleh sekolah-sekolah besar seperti SDK Santa Clara, SDK Don Bosco, SDN Kaliasin I, SDN Bubutan IV, dan banyak lagi. Sekolah kami kecil dan kecil segalanya tentunya. Tapi tidak kecil niat kami untuk bersama-sama menyelamatkan bumi dalam rangka konservasi air yang menjadi tema SES 2013 ini.

Kami sangat berharap tentunya untuk bisa masuk 5 besar nantinya. Kami buktikan dengan selalu berusaha memperbaiki terus yang sudah ada dan selalu membuat inovasi-inovasi baru yang didukung dan kerja sama yang baik oleh seluruh warga sekolah dan warga masyarakat sekitar.

Peran Tunas Hijau Indonesia tentunya sangat besar atas support dan reward-reward yang diberikan kepada kami terhadap tindakan-tindakan penyelamatan lingkungan yang telah kami perbuat maupun yang masih kami rencanakan ke depan. Yang penting, marilah kegiatan ini tetap merupakan kegiatan berkelanjutan dan tidak bosan-bosannya untuk selalu mempengaruhi orang lain untuk berbuat yang sama dengan keikhlasan hati tanpa ada keterpaksaan.

Surabaya Eco school 2013 dengan tema “Konservasi Air” benar-benar dapat mengubah pandangan dan perilaku warga sekolah dan masyarakat terhadap penyelamatan lingkungan. Konservasi air berawal dari sekolah. Salam lestari! (*/ro)