Surabaya Eco School Pembelajaran Untuk Semua

Oleh: Mohamad Samsul Hadi, Kepala SDN Kaliasin I Surabaya

Surabaya Eco School berdampak besar terhadap SDN Kaliasin I. Saya kira semua warga di SDN Kaliasin I setuju pernyataan tersebut. Tahun lalu, SDN Kaliasin I mendapat 2 penghargaan sekaligus dalam bidang lingkungan hidup yaitu Nominasi III Sekolah Adiwiyata tingkat Kota Surabaya dan The third place Surabaya Eco School 2012 untuk tingkat Sekolah Dasar.

Tanaman gantung yang memanfaatkan kelapa di SDN Kaliasin I Surabaya

Tanaman gantung yang memanfaatkan kelapa di SDN Kaliasin I Surabaya

Kebanggaan itu semakin lengkap dengan dikukuhkannya dua siswa terbaik SDN Kaliasin I sebagai Pangeran Lingkungan Hidup 2012 dan Puteri Lingkungan Hidup 2012. Penghargaan yang harus disyukuri atas jerih payah dan perjuangan semua pihak keluarga besar Kalsa (SDN Kaliasin I).

Perubahan-perubahan mendasar baik pada lingkungan sekolah maupun perilaku warga sekolah terus terang terpengaruh oleh kegiatan dan program sekolah dalam penanaman karakter peduli lingkungan kepada peserta didik. Program tersebut diantaranya dengan menjalankan program Sekolah Adiwiyata dari Dinas Pendidikan dan BLH Surabaya maupun program Eco School yang digagas oleh Tunas Hijau bersama Pemerintah Kota Surabaya dan PT Pembangkitan Jawa-Bali. Perubahan itu juga bermuara dari tantangan-tantangan yang diberikan oleh Tunas Hijau sebagai shohibul hajat program eco school.

Contoh nyata perubahan pada halaman sekolah. Dua tahun lalu tidak setiap hari Senin, terutama di musim penghujan, kami bisa upacara bendera karena kalau Minggu malam hujan bisa dipastikan air menggenang di halaman dan upacara bendera tidak bisa dilaksanakan. Sekarang tidak ada lagi genangan air walaupun ada hujan deras, berkat pemasangan lubang biopori di halaman sekolah. Upacara bendera bisa dilaksanakan secara rutin.

Perubahan fisik di SDN Kaliasin I tidak hanya berhenti di situ. Taman yang ada di depan, samping dan belakang sekolah tidak muncul begitu saja. Semua bertahap sesuai dengan kegiatan dan program sekolah yang sedang digiatkan. Salah satu proyek finalis Pangeran dan Puteri Lingkungan Hidup adalah “taman gantung”, maka muncullah taman gantung di Kalsa yang dikembangkan berdasar ide proyek siswa kami.

Pada saat tim dokter kecil menjadi finalis nasional, alhamdulillah, terbentuklah pojok gizi, kantin sehat dan kantin kejujuran. Ketika program eco school berbicara tentang keanekaragaman hayati, muncullah kolam ikan dan kolam lele di Kalsa taman belakang. Hikmah yang luar biasa. Prinsip yang kami pegang, mari kita bekerja serius. Insya Allah, fasilitas akan mengikuti dari arah manapun.

Satu cita-cita untuk membuat “learning wall” pun terwujud pada era ini. “Learning wall” adalah dinding pembelajaran. Kalsa mempunyai dinding berukuran 20  x 3 meter. Dinding seluas 60 meter persegi di sisi timur sekolah tersebut dibiarkan kosong, kusam dan tidak bisa bercerita apa-apa. Lorong panjang tersebut dipakai untuk parkir sepeda motor dan barang–barang bekas berserak tak teratur.

Itu kondisi tiga tahun lalu, sekarang kalau melewati lorong tersebut  bersih, terdapat kantin sehat dan disebelah kiri dinding tersebut telah menjadi “learning wall” yang sesungguhnya. Tedapat 7 (tujuh) etalase kaca di sepanjang dinding yang berisi mading tentang program dan kegiatan di Kalsa.

Ada satu etalase yang khusus untuk memajang semua yang berkenaan dengan ‘sister school” kami di Tasmania yaitu Lansdowne Crescent Primary School. Tujuh etalase kaca yang diselingi oleh rimbunya bambu hijau akan bercerita banyak tentang pembelajaran di SDN Kaliasin I.

Pada saat launching SES 2013, terus terang kami gamang, karena kami tahu bahwa konservasi air yang menjadi tema besar SES 2013 tidak bisa terlepas dari perilaku warga sekolah. Perubahan yang harus dilakukan bukan secara fisik saja, tapi perilaku warga sekolah, Terutama perilaku terhadap sampah. Ya sampah. Ternyata bukan masalah sulit tapi juga tidak mudah mengelola sampah sekolah. Butuh tekad dan semangat yang istiqomah untuk mengelola sampah.

Alhamdulillah, setelah berjalan sekitar 12 pekan, terdapat perubahan signifikan  perilaku warga Kalsa terhadap sampah dan lingkungan yang berkaitan dengan konservasi air. Berikut uraian detilnya:

  • Pemilahan sampah menjadi lebih fokus. Terdapat tiga tempat sampah di setiap kelas: sampah yang bisa didaur ulang, tidak bisa didaur ulang dan kertas.
  • Sisa makanan dan sampah daun/organik ditampung dan dimasukkan keranjang pengomposan takakura, lubang biopori dan tong aerob.
  • Terdapat 43 lubang biopori di sekolah yang aktif disuplai sampah organik.
  • Eco toilet terlaksana dengan melepas alas kaki dan piket membersihkan toilet
  • Cita-cita sekolah bebas plastik semoga cepat terwujud karena seluruh kantin sudah tidak menyediakan makanan dalam kemasan plastik.
  • Kelas 4 dan 5 mempunyai tim sampah, air, energi dan keanekaragaman hayati.
  • Taman berkembang: taman gantung dan tempel dengan pot yang bervariasi dari botol bekas, kaleng bekas dan batok kelapa.
  • Sebentar lagi Kalsa mempunyai vertical garden dan roof garden yang akan berisi tabulampot (tanaman buah dalam pot), toga dan sayuran.
  • Radio sekolah: L Suara Surya selalu siaran mengingatkan warga Kalsa untuk peduli lingkungan.
  • Limit sampah (Lima menit memungut sampah) terlaksana rutin.
  • Keterlibatan orang tua semakin intens dalam mengelola lingkungan sekolah dan kegiatan bertema lingkungan (ngebor biopori, bersih-bersih pantai dan membuat taman)
  • Kalsa tergerak mengajak lembaga dan sekolah lain untuk melaksanakan gerakan konservasi air.

Cerita ini akan semakin panjang dengan berjalannya waktu dan semoga selalu terdapat perubahan di Kalsa menuju lebih baik. Semoga warga Kalsa diberi kekuatan untuk konsisten membangun karakter peduli lingkungan.

Artikel ini saya akhiri dengan opini saya tentang “Tunas Hijau”. Bertahun-tahun saya berinteraksi dengan anak-anak muda Tunas Hijau. Sampai sekarang saya masih terheran-heran atau terkagum-kagum oleh sepak terjang Mas Roni and his gang. Ada saja ide-ide kreatif yang bisa menggerakkan orang untuk berfikir dan peduli dengan lingkungan. Terus terang saya harus mengatakan “Tunas Hijau, you are the inspiring one”. Saya terus berdoa semoga Tunas Hijau tetap berenergi dan exist di dunia lingkungan hidup. (*/ro)