Urban Farming Organik SMPN 11 Beri Berkah Petugas Kantin Dan Targetkan 700 Lubang Resapan

SURABAYA – Setiap sekolah finalis Surabaya Eco School pasti mempunyai program unggulan. Seperti SMPN 11 yang  menjadikan program urban farming dan water treatment sebagai program lingkungan unggulannya. Puluhan tanaman terong, cabai dan sawi tertanam dilahan 30 meter persegi dan penjernihan air limbah kantin yang dapat menjernihkan air kantin dalam ukuran puluhan liter dalam sehari. Informasi tersebut disampaikan oleh Suminah, guru pembina lingkungan saat pembinaan Surabaya Eco School yang digelar Tunas Hijau bersama Pemerintah Kota Surabaya dan PT. Pembangkitan Jawa-Bali, Kamis (28/11).

PANEN DAN SULAM : Panen sayuran sawi, tampak kader lingkungan memilih yang layak panen dan yang tidak layak

PANEN DAN SULAM : Panen sayuran sawi, tampak kader lingkungan memilih yang layak panen dan yang tidak layak

Demi mendapatkan hasil yang maksimal, pembina lingkungan mengajak seluruh partisipasi warga sekolah pada program tersebut. Hasil dari penjernihan air limbah kantin diperuntukan kebutuhan air tanaman urban farming. “Dengan menggunakan 2 bak penampungan air. Satu baknya digunakan untuk menjernihkan air limbah dengan ijuk, batu-batuan dan arang aktif.  Sebagai tambahan kita menggunakan batu bata merah untuk menahan minyak yang bercampur dengan air. Penyaringan air tersebut menunjukan hasilnya yang cukup bagus,” terang Suminah, guru matematika.

Keuntungan lain dari program unggulan tersebut adalah petugas kantin merasa beruntung karena mendapatkan terong dan cabai gratis. “Banyak yang bilang terimakasih ke kader lingkungan, karena mereka bisa ambil sendiri terong, cabai dan sawi di kebun. Jadi bisa bermanfaat bagi warga sekolah lainnya. Rencana kedepan, kami akan memperbanyak tanaman agar panennya bisa lebih banyak lagi.  Kemudian kami akan mengajak walimurid untuk bersama-sama memanennya,” terang Safrizal Amir, siswa kelas VIII.

KOMPOS : Sayuran yang tidak layak dikonsumsi akan diolah menjadi kompos.

KOMPOS : Sayuran yang tidak layak dikonsumsi akan diolah menjadi kompos.

Tak hanya urban farming saja, program konservasi air lainnya seperti pembuatan lubang resapan biopori juga terus digiatkan. Sebanyak 620 lubang resapan biopori telah dibuat di lingkungan sekolah. Menurut Safrizal Amir, jumlah 620 lubang resapan akan terus ditambah lagi seiring pembangunan sekolah. “Laju pembangunan gedung sekolah akan kami barengi dengan pembuatan lubang resapan lebih banyak lagi agar air hujan bisa meresap ke dalam tanah,” ucap Safrizal Amir. Dirinya menambahkan agar kader lingkungan akan menargetkan sedikitnya 700 lubang resapan biopori akan terpasang di lingkungan.

TAK HANYA PANEN : Banyak juga yang mengumpulkan sampah daun untuk dimasukan di dalam lubang resapan

TAK HANYA PANEN : Banyak juga yang mengumpulkan sampah daun untuk dimasukan di dalam lubang resapan

“Semakin banyak lubang resapan biopori, maka kami akan semakan serirng ke pasar mengambil sampah organik untuk dimasukan ke lubang resapan biopori. Karena setiap lubang resapan biopori yang dalamnya 1 meter membutuhkan sampah organik banyak Mas. Agar 700 lubang resapan tercapai pastinya partisipasi warga sekolah kunci suksesnya. Maka dari itu, kami akan libatkan warga sekolah untuk mewujudkannya,” terang Safrizal Amir, kader lingkungan yang gemar sepak bola. (1man/ry)