Alex Sandra Herlina, Guru Pembina Lingkungan SMAK St Louis I, Eco Teacher (Senior) of the Year, Dokter Peduli Lingkungan Korbankan Waktu Praktek Demi Lingkungan

Alex Sandra Herlina, guru pembina lingkungan SMAK St Louis I peraih eco teacher of the year (SMA) dalam Surabaya Eco School 2013

Alex Sandra Herlina, guru pembina lingkungan SMAK St Louis I peraih eco teacher of the year (SMA) dalam Surabaya Eco School 2013

Berangkat dari rasa cinta terhadap hidup dan kehidupan, salah satu didalamnya adalah lingkungan merupakan motivasi Alex Sandra Herlina untuk mengajak warga SMAK St. Louis I peduli lingkungan, Senin (23/12). Alasannya adalah kegiatan lingkungan yang selama ini sudah dilakukan di sekolah sangat menguras energi dan banyak berkorban. Salah satu bentuk pengorbanan yang sudah dilakukan Alex Sandra Herlina adalah waktu praktek kedokterannya yang berada di daerah Jalan Randhu.

Dengan hati, Alex Sandra Herlina, guru pembina lingkungan SMAK St Louis I setia menemani kader lingkungan berkegiatan lingkungan, salah satunya seperti mengayak kompos

Dengan hati, Alex Sandra Herlina, guru pembina lingkungan SMAK St Louis I setia menemani kader lingkungan berkegiatan lingkungan, salah satunya seperti mengayak kompos

“Dalam melakukan kegiatan lingkungan, saya harus mengorbankan waktu praktek saya untuk mengobati orang-orang yang sakit,” ujar Alex Sandra Herlina. Sejak awal guru yang juga seorang dokter ini sudah tertarik dengan permasalahan sampah yang ada di sekolah, khususnya sampah organik. Volume sampah organik yang dihasilkan setiap harinya cukup banyak sehingga jumlah tong dan keranjang komposterpun tidak memenuhi untuk mengolah habis semua.

“Dulu, kami masih belum bisa mengolah sampah organik secara optimal, akibatnya kami mengirimkan sampah organik ke luar sekolah. Tetapi sekarang sejak mengikuti Surabaya Eco School 2013, kami sudah tidak mengirimkan sampah organik ke luar, malah kami yang mendatangkan sampah organik dari luar untuk diolah dengan mesin pencacah menjadi kompos,” terang Alex Sandra Herlina.

Alex Sandra Herlina, pengajar yang juga seorang dokter ini sedang memberikan penyuluhan kepada warga sekolah tentang pengolahan sampah khusunya organik dengan pengomposan

Alex Sandra Herlina, pengajar yang juga seorang dokter ini sedang memberikan penyuluhan kepada warga sekolah tentang pengolahan sampah khusunya organik dengan pengomposan

Tantangan yang diberikan kepala sekolah untuk tetap menjalankan program pengomposan agar rutin bisa panen setiap bulannya menjadi tantangan tersendiri bagi guru alumni Fakultas Kesehatan UNAIR. “Kepala sekolah meminta saya untuk terus menjalankan program pengomposan dengan tidak mengirim sampah ke luar sekolah, setiap bulan harus panen kompos,” ucap Herlina.

Sejak menangani kader lingkungan, tujuan yang ditanamkan dalam pola pikir sedikitnya 30 orang siswa ini adalah mereka harus cinta terhadap lingkungan. “Karena masalah lingkungan itu tidak bisa diselesaikan hanya dengan dua orang saja, kita semua yang bertanggung jawab,” ujar Herlina.

Alex Sandra Herlina, guru pembina lingkungan  SMAK St Louis I yang terus memberikan teladan tentang kegiatan lingkungan yang harus dimulai dari hati

Alex Sandra Herlina, guru pembina lingkungan SMAK St Louis I yang terus memberikan teladan tentang kegiatan lingkungan yang harus dimulai dari hati

Berbagai perubahan setelah mengikuti program lingkungan berkelanjutan ini dirasakan oleh Akex Sandra Herlina, sebagai pembina lingkungan. Guru yang memiliki seorang anak ini menjelaskan bahwa dengan adanya Surabaya Eco School, sudah ada perubahan pembiasaan terhadap sampah. “Dulu, warga sekolah cuek terhadap sampah yang dibuang sembarangan, tetapi sekarang, warga sekolah tidak akan membiarkan sampah berserakan bahkan mereka juga sudah mandiri memilah sampah tanpa diminta,” terang Herlina.

Tidak hanya itu, kantin sekolahpun sudah tidak menggunakan plastik sekali pakai. “Di kantin sekolah sekarang sudah bebas sampah plastik sekali pakai seperti sedotan, kami menggantinya dengan menyediakan piring sendiri. Sedangkan sampah sisa makanannya, biasanya petugas kantin yang mengisi dan mengaduk keranjang komposternya,” imbuh Alex Sandra Herlina. Berbagai kendala dihadapi oleh guru asli Surabaya ini, salah satunya adalah masih adanya guru yang menganggap lingkungan tidak penting.

“Kalau ada guru yang seperti itu maka saya yang akan maju dibarisan paling depan untuk membela anak-anak agar tetap bisa kegiatan lingkungan,” terang Herlina. Tidak hanya di sekolah, di daerah rumahnya, di daerah Tropodo,  dokter berusia 43 tahun ini sudah memulai menerapkan perilaku ramah lingkungan. Hal ini dibuktikannya dengan rencana untuk mengadakan workshop kepada ibu-ibu PKK di daerah rumah.

“Saya ingin mengadakan sosialisasi dan pelatihan kepada ibu-ibu PKK untuk mengolah sampah sisa makanannya menggunakan keranjang komposter ini,” ujar Herlina. Tidak hanya keranjang komposter saja, pembuatan lubang resapan bioporipun rencananya akan disosialisasikan kepada warga kampung. “Karena dareah rumah saya itu rawan banjir, jadi lubang resapan biopori itu perlu sekali,” imbuh Herlina.

Mengorbankan waktu praktek demi kecintaanya terhadap lingkungan, membuat Alex Sandra Herlina, guru SMAK St. Loui I menjadi teladan bagi pengajar-pengajar lainnya. Salah satu contohny adalah mengajak anak-anak untuk ikut kegiatan bersih-bersih pantai Kenjeran

Mengorbankan waktu praktek demi kecintaanya terhadap lingkungan, membuat Alex Sandra Herlina, guru SMAK St. Louis I  sekaligus eorang dokter menjadi teladan bagi pengajar-pengajar lainnya. Salah satu contohnya adalah mengajak anak-anak untuk ikut kegiatan bersih-bersih pantai Kenjeran

Sepak terjang inilah yang membuat, Alex Sandra Herlina mendapatkan penghargaan Eco Teacher of The Year, karena kegigihan dan besarnya pengorbanan yang diberikan kepada sekolah. Rencana kedepan, dokter yang berulang tahun di bulan Mei ini akan mengajak setiap guru dan siswa lain di sekolah untuk membuat lubang resapan biopori di rumah masing-masing.

“Sekarang bayangkan jika masing-masing orang membuat lubang resapan biopori di depan rumah, maka sampah organik yang dihasilkan bisa diolah dengan dimasukkan ke dalam lubang resapan. Dengan begitu, sampah organik yang dikirimkan ke TPA Benowo bisa berkurang atau bahkan warga Surabaya tidaki perlu lagi mengirimkan sampah organiknya ke TPA Benowo,” terang Alex Sandra Herlina.

Surabaya Eco School adalah program lingkungan hidup berkelanjutan bagi sekolah-sekolah Surabaya. Pada pelaksanaan 2013 ini, tema yang diangkat adalah Wujudkan Konservasi Air di Sekolah. Surabaya Eco School 2013 didukung oleh PT Telkom Indonesia Tbk, PT Perusahaan Gas Negara (Persero) Tbk, PDAM Surya Sembada, PT Dharma Lautan Utama dan PPS Autoshine. (ryan)