Anik Widarti, Eco Teacher (Elementary) of the Year 2013 Jadi Inspirasi Warga SDN Nginja II Peduli Lingkungan

Anik Widarti, SDN Nginden Jangkungan II peraih penghargaan Eco teacher Of The year (SD) dalam Surabaya eco School 2013

Anik Widarti, guru SDN Nginden Jangkungan II peraih penghargaan Eco Teacher (Elementary) of the Year Surabaya Eco School 2013

Sebelum mengenal Tunas Hijau dan program lingkungan Surabaya Eco School 2013, Anik Widiarti, guru pembina lingkungan SDN Nginden Jangkungan II memiliki sifat cuek, acuh tak acuh terhadap lingkungan. Awal ketertarikan Anik Widiarti, guru sekaligus walikelas 5 ini pada saat mengikuti program Eco-preneur di SDN Semolowaru I yang merupakan tempat dulunya dirinya mengabdi. Di tangan dingin Anik Widiarti, SDN Semolowaru I berhasil menjadi best school atau jawara program Eco-preneur 2013.

Belum sampai puncak pencapaiannya di SDN Semolowaru I, Anik Widiarti harus dipindah di tempat yang baru yaitu SDN Nginden Jangkungan II. Di tempat yang baru, Anik Widiarti masih beradaptasi sambil mencari permasalahan lingkungan, celah yang bisa dijadikan sebuah kegiatan lingkungan. Sepak terjang Anik Widiarti di sekolah sebelumnya membuat Sedarwati, kepala SDN Nginden Jangkungan menunjuknya menjadi ketua tim lingkungan SDN Nginden Jangkungan II.

Langkah awal yang dilakukannya adalah dengan membentuk tim dan kader lingkungan yakni mulai dari kelas 3 sampai kelas 6. “Saya harus gerak cepat untuk bisa membentuk tim lingkungan ini jadi kuat sambil memikirkan kegiatan lingkungan yang cocok untuk sekolah,” ucap Anik Widiarti.

Mengarungi Surabaya Eco School 2013 ini, Anik Widiarti fokus mengajak kader lingkungan dan warga sekolah untuk mengolah sampah organik dan  non organik. Sampah menjadi permasalahan lingkungan yang langsung digarap serius oleh guru yang murah senyum ini. “Kegiatan pertama yang saya lakukan bersama anak-anak adalah mendata banyak sampah yang ada di sekolah, ternyata setiap harinya sampah non organik bisa terkumpul sebanyak 15 kg, sedangkan untuk sampah organiknya sebanyak 7 kg,” ucap Anik Widiarti.

Anik Widiarti, guru pembina SDN Nginden Jangkungan II mengajak kader lingkungan untuk mengaduk dan mengolah sampah sisa makanan yang sudah mulai kering untuk diaduk kembali

Anik Widiarti, guru pembina SDN Nginden Jangkungan II mengajak kader lingkungan untuk mengaduk dan mengolah sampah sisa makanan yang sudah mulai kering untuk diaduk kembali

Pemilahan sampah, yang dibagi menjadi kertas dan plastik kembali harus disosialisasikan kepada warga sekolah. Tidak hanya pemilahan sampah saja, pengolahan sampah organik juga menjadi kompos. “Kalau pemilahan sampah, setiap kelas ditempatkan dua sampah terisah yakni kertas dan plastik, sedangkan kalau pengolahan sampah organik, setiap kelas bertanggung jawab pada satu keranjang komposter,” ucap Anik Widiarti, mantan guru SDN Semolowaru I.

Selama berjalannya program lingkungan tersebut, Anik Widiarti terus meminta kepada Sedarwati, kepala SDN Nginden Jangkungan II untuk mengurangi atau membuat kebijakan untuk membawa tempat makan dan minum sendiri. “Untuk mengurangi jumlah sampah yang di sekolah mulai minggu depan, Ibu Sedarwati akan membuat kebijakan baru yakni dilarang makan dan minum di dalam kelas. Warga sekolah akhirnya akan mengubah pola pikir dan makan mereka,” ucap Anik Widiarti.

Guru pengajar yang tidak kenal menyerah ini selalu mengikuti setiap kegiatan program Surabaya Eco School yang diselenggarakan Tunas Hijau bersama Pemerintah Kota Surabaya dan PT Pembangkitan Jawa-Bali. “Setiap harinya saya selalu mengecek kabar terbaru yang diinformasikan Tunas Hijau lewat Facebook page Tunas Hijau Indonesia dan website www.tunashijau.org. Saya selalu mengikuti kegiatan eco action di luar sekolah dengan mengajak kader lingkungan,” ucap Anik Widiarti.

Anik Widiarti, guru pembina lingkungan SDN Nginden Jangkungan II mengajak warga sekolahnya mengolah sampah organik ke dalam tong komposter

Anik Widiarti, guru pembina lingkungan SDN Nginden Jangkungan II, mengajak warga sekolahnya mengolah sampah organik ke dalam tong komposter

Tidak hanya rajin mengikuti setiap eco action yang digelar Tunas Hijau, melalui Anik Widiarti SDN Nginjen Jangkungan II juga menjalankan setiap tantangan yang diberikan Tunas Hijau. Salah satunya grebek pasar dan pembuatan lubang resapan baik di sekolah, di luar sekolah maupun di rumah kader lingkungan. “Kami harus bergerak cepat untuk bisa menjadi sekolah yang terbaik, ramah lingkungan melalui program lingkungan unggulan yakni pengolahan sampah organik,” ujar Anik Widiarti.

Dengan banyaknya media pengomposan yang dimiliki sekolah seperti 4 keranjang komposter, 2 tong komposter, kotak pengomposan alami dan lubang respan biopori. Hal ini membuat Anik Widiarti dan kader lingkungan harus melakukan grebek pasar dalam dua hari sekali.”Setiap dua hari sekali, kami melakukan grebek sampah pasar di belakang sekolah, dalam sekali grebek pasar, kami berhasil mengumpulkan sedikitnya 50 kg sampah organik yang langsung dibagi-bagikan ke dalam media pengomposan,” ucap Anik Widiarti.

Hasilnya dalam waktu satu bulan, warga sekolah bisa merasakan panen kompos yang ada di lubang resapan, keranjang maupun tong komposter. “Kami berhasil mengumpulkan sebanyak 25 kg pupuk kompos setiap bulannya,” ucap Anik WIdiarti.  Program lingkungan yang sudah menjadi unggulan sekolah ini, Anik Widiarti berharap agar program lingkungan tersebut lancar dan berkelanjutan.

Anik Widiarti, guru pembina SDN Nginden Jangkungan terlihat antusias mengikuti kegiatan pembuatan lubang resapan biopori di luar sekolah

Anik Widiarti, guru pembina SDN Nginden Jangkungan II, terlihat antusias mengikuti kegiatan pembuatan lubang resapan biopori di luar sekolah

Beragam inovasi lingkungan pun dibuat oleh Anik bersama kader lingkungan lainnya, salah satunya adalah penampungan air wudhu dan air hujan yang dialirkan menuju tandon air sebagai reward menjadi sekolah finalis Surabaya Eco School 2013. “Kami memanfaatkan tandon air penampung air hujan ini untuk siram tanaman,” ujar Anik Widarti. Anik Widiarti menambahkan rencana ke depan adalah memanfaatkan lahan sempit untuk penghijauan dan mengajak warga sekolah buat lubang resapan di rumahnya,” pungkas Anik Widiarti.

Di mata rekan kerjanya, Anik Widiarti, pembina lingkungan SDN Nginden Jangkungan II adalah samangat kerja dan tidak pernah mengeluh. Menurut Sedarwati, kepala SDN Nginden Jangkungan II, bahwa sosok Anik Widiarti menjadi poros kegiatan lingkungan di luar. “Bu Anik merupakan sosok orang yang pekerja keras, gigih tidak pernah mengeluh dan menginspirasi warga sekolah lagi,” ucap Sedarwati.

Surabaya Eco School adalah program lingkungan hidup berkelanjutan bagi sekolah-sekolah Surabaya. Pada pelaksanaan 2013 ini, tema yang diangkat adalah Wujudkan Konservasi Air di Sekolah. Surabaya Eco School 2013 didukung oleh PT Telkom Indonesia Tbk, PT Perusahaan Gas Negara (Persero) Tbk, PDAM Surya Sembada, PT Dharma Lautan Utama dan PPS Autoshine. (ryn)